Taktik Jahat Terbongkar, Israel Gelar Operasi Intelejen Lumpuhkan ICC

London, NPC – Surat kabar Inggris The Guardian dalam laporan investigasi mengungkap bahwa Israel melancarkan perang intelejen yang berlangsung hampir satu dekade melawan Pengadilan Kriminal Internasional (ICC).

Investigasi tersebut mengungkap bahwa Israel menggunakan badan intelijennya untuk memantau, menyusup, menekan, merusak reputasi, dan mengancam pejabat senior ICC dalam upaya menghalangi penyelidikan.

Laporan The Guardian menunjukkan bahwa agen intelijen Israel menyadap alat komunikasi beberapa pejabat ICC, termasuk Jaksa saat ini, Karim Khan. Sumber anonim mengungkapkan bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sangat tertarik pada operasi intelijen terhadap ICC ini.

Selain itu, laporan tersebut menyatakan bahwa intelijen Israel memantau karyawan organisasi Palestina yang berhubungan dengan ICC. Shin Bet, badan keamanan dalam negeri Israel, diduga memasang program mata-mata “Pegasus” untuk memata-matai ponsel karyawan organisasi Palestina dan pejabat otoritas Palestina.

Triestino Marinho, anggota tim hukum untuk korban Gaza di ICC dan profesor hukum internasional di Universitas Liverpool, menegaskan bahwa apa yang dilakukan Israel ini merupakan kejahatan berdasarkan hukum internasional dan bisa dianggap sebagai upaya menghalangi peradilan.

Dia juga menyebutkan bahwa meskipun ada tekanan, mantan Jaksa Agung, Fatou Bensouda, tetap memutuskan untuk membuka penyelidikan atas situasi di Palestina pada Maret 2021. “Ancaman ini mungkin mempengaruhi keputusan-keputusan yang bisa diambil, sehingga menyebabkan penundaan dalam membuka penyelidikan,” seperti dikutip dari Al Jazeera, Rabu (29/05/2024).

Laporan tersebut juga mengungkap bahwa komunikasi pribadi Bensouda dan suaminya dipantau, yang menurut Marinho sangat berbahaya. “Ini juga bisa berdampak pada Jaksa saat ini, Karim Khan, terutama mengingat kasus-kasus serius yang sedang ditanganinya,” tambahnya.

Marinho menekankan pentingnya memperluas cakupan penyelidikan dan mengumpulkan bukti yang diperlukan untuk mendukung tuduhan genosida.

Dalam konteks ini, Marinho menyoroti tekanan yang juga datang dari Amerika Serikat dan perwakilan Kongres terhadap ICC. “Jika para hakim membuat keputusan hukum berdasarkan bukti, maka tidak diragukan lagi mereka akan mengeluarkan perintah penangkapan. Namun, jika keputusan mereka lebih bersifat politis dan tunduk pada tekanan, maka kredibilitas ICC akan terancam.”

Triestino Marinho mengakhiri dengan menekankan bahwa kredibilitas ICC dijaga untuk masa depan lembaga tersebut.

(T.RS/S:Aljaazera)

 

 

You might also like