Tak Dapat Izin Rujukan dari Israel, Ribuan Pasien Gaza Terancam Meninggal

Jalur Gaza, NPC –  Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, memperingatkan bahwa lebih dari 14.800 pasien di Jalur Gaza membutuhkan perawatan medis, menyusul runtuhnya sistem kesehatan akibat blokade dan agresi Israel.

Melalui pernyataan di platform X,  Rabu (13/8/2025), Tedros mendesak agar jalur rujukan medis dari Gaza ke Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, segera diaktifkan kembali sebelum situasi semakin memburuk. “Kita harus bertindak sebelum terlambat,” tegasnya.

Pada hari yang sama, WHO dilaporkan telah memfasilitasi evakuasi 32 anak dan 6 pasien dewasa dari Gaza, didampingi 99 anggota keluarga. Dari jumlah itu, 25 anak dan 6 pasien dewasa diterbangkan ke Italia, 5 anak ke Belgia, dan 2 anak ke Turki untuk menjalani perawatan medis khusus yang tidak tersedia di Gaza. Sebelumnya, WHO juga berhasil memindahkan 15 anak kritis ke Yordania bersama 42 pendamping dari pihak keluarga.

Tedros menyampaikan apresiasi kepada Komisi Eropa dan pemerintah negara-negara yang bersedia menampung pasien, namun ia menegaskan bahwa langkah-langkah ini masih jauh dari cukup untuk menutupi kebutuhan medis yang ada.

Laporan The Guardian mengungkapkan, lebih dari 16.000 pasien kini menunggu rujukan medis ke luar negeri, sementara lebih dari 600 orang meninggal saat menunggu persetujuan evakuasi. Di balik angka-angka itu, terdapat kisah-kisah menyedihkan. Salah satunya Abdel Karim, seorang anak yang menderita gagal ginjal kronis dan malnutrisi. Permohonan evakuasinya telah diajukan selama empat bulan, namun hingga kini belum ada izin dari otoritas militer Israel yang mengontrol semua pergerakan keluar masuk Gaza.

Serangan militer Israel sejak Oktober 2023 telah menelan lebih dari 61.000 korban jiwa dari warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak, menghancurkan rumah sakit, dan memutus pasokan medis vital. Hanya sebagian kecil rumah sakit yang masih beroperasi, dengan kapasitas terbatas dan kekurangan peralatan.

Blokade Israel tidak hanya membatasi masuknya bantuan medis dan peralatan rumah sakit, namun juga mempersulit pasien untuk keluar dari Gaza. WHO menyebut, hambatan administratif, pemeriksaan keamanan berlapis, dan pembatasan jumlah pasien yang diizinkan keluar, menjadi penghalang utama penyelamatan nyawa warga Gaza yang membutuhkan rujukan medis. PBB dan berbagai organisasi kemanusiaan menilai kebijakan ini sebagai bentuk “hukuman kolektif” yang melanggar hukum internasional.

WHO menyerukan agar semua jalur evakuasi medis, baik melalui Mesir, Tepi Barat, maupun negara ketiga, secepatnya dibuka sepenuhnya. Tedros menegaskan, tanpa langkah ini, angka kematian akan terus meningkat setiap hari.

“Pasien-pasien ini tidak punya waktu. Setiap jam yang kita tunda berarti kehilangan nyawa yang bisa diselamatkan,” kata Tedros.

(T.RA/S: Middle East Monitor)

 

You might also like