Skandal Politik Perdana Menyeri Israel Terbongkar: Manipulasi Badan Intelijen Demi Kekuasaan

Tel Aviv, NPC – Rezim Netanyahu yang sedang diguncang perang dan aksi  demo, kini dilanda badai politik baru. Ronen Bar, Mantan Kepala Badan Intelijen Dalam Negeri Israel (Shin Bet), yang baru saja dicopot dari jabatannya, membongkar skandal politik Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Dalam kesaksian tertulis kepada Mahkamah Agung, Senin (21/04/2025) Bar menuduh Netanyahu berupaya menyulap Shin Bet untuk menjadi senjata intelijen demi mempertahankan kekuasaannya, bukan untuk menjaga keamanan nasional, tetapi untuk membungkam rakyatnya sendiri.

pejabat intelijen Israel yang menjabat sebagai Direktur Badan Keamanan Israel (Shin Bet) sejak 13 Oktober 2021. Ia menggantikan Nadav Argaman setelah sebelumnya menjabat sebagai wakil direktur sejak 2018. Penunjukan Bar dilakukan oleh Perdana Menteri Naftali Bennett dan disetujui oleh kabinet Israel pada 11 Oktober 2021. Bar dipecat pada Maret 2025, namun pemecatannya ditangguhkan oleh Mahkamah Agung Israel.

Bar mengungkap bahwa Netanyahu memberikan perintah secara diam-diam untuk menggunakan kewenangan Shin Bet guna memata-matai para demonstran yang menentang pemerintah. Ia bahkan menyebut bahwa Netanyahu menyampaikan perintahnya lewat bisikan, secara sengaja menghindari catatan resmi demi menghapus jejak. Seolah-olah ini adalah negara bayangan, dan sang perdana menteri adalah sutradara di balik tirai yang tak mau namanya tertulis dalam skenario.

Tak berhenti di situ, Bar juga mengklaim bahwa Netanyahu mencoba memaksanya menandatangani dokumen penilaian keamanan palsu yang bertujuan menghalangi proses hukum kasus korupsi yang menjerat sang perdana menteri. Bar menolak. Sebagai ganjarannya, ia dicopot. Menurut Bar, pemecatan ini bukan soal kinerja, tapi soal dendam pribadi. Netanyahu, katanya, lebih mirip penguasa paranoid yang tak tahan kritik dibanding pemimpin demokratis.

Skandal ini membuka sisi gelap Netanyahu yang selama ini terselubung. Mengubah badan intelijen menjadi alat pemburu, menyalahgunakan institusi negara untuk kepentingan pribadi.

Dalam kesaksian yang sama, Bar juga membantah tudingan bahwa Shin Bet telah lalai mendeteksi serangan Hamas 7 Oktober lalu.

Ia menyatakan bahwa hanya beberapa jam sebelum serangan, dirinya telah mengirimkan peringatan kepada sekretaris militer Netanyahu dan mengeluarkan peringatan resmi kepada semua lembaga keamanan. Namun, tampaknya perhatian Netanyahu saat itu lebih tertuju pada urusan politik dalam negeri ketimbang ancaman nyata dari luar.

Pernyataan Bar memicu ledakan politik. Pemimpin oposisi menyebut kesaksian ini sebagai ancaman terbesar bagi keamanan nasional Israel bukan berasal dari Gaza, tapi dari kantor perdana menteri sendiri.

Perpecahan di tubuh rezim Israel muncul di tengah tekanan luar biasa dari dalam. Ribuan tentara cadangan menandatangani petisi menuntut diakhirinya perang di Gaza dan pemulangan para sandera. Mantan pejabat militer dan keamanan menyuarakan keprihatinan atas memburuknya hubungan antara pemerintah dan tentara.

Militer, institusi yang dulu disakralkan di Israel, kini bahkan mulai menjauh dari Netanyahu.

Kesaksian Ronen Bar bukan sekadar kritik internal. Ini adalah peringatan keras bahwa jika Shin Bet bisa dimanipulasi, maka tak ada institusi yang aman dari cengkeraman politik Netanyahu. Dan di tengah perang yang terus berkecamuk, rakyat Israel kini menghadapi dua ancaman: Roket dari Gaza, dan roket politik dari pemimpin mereka sendiri.

(T.RS/S:Al-Jazeera)

 

You might also like