Serangan Israel Sebabkan 4500 Warga Gaza Cacat Seumur Hidup

Jalur Gaza, NPC – Lebih dari 4.500 warga Palestina di Gaza terpaksa menjalani amputasi, termasuk 800 anak-anak dan 540 perempuan akibat serangan brutal Israel yang tidak absen sampai saat ini. Sementara itu, total korban tewas telah menembus 50.000 jiwa, menjadikan agresi ini sebagai salah satu pembantaian paling kejam dalam sejarah modern.

Menurut laporan Middle East Monitor (27/03/2025), Rumah sakit di Gaza berada di ambang kehancuran total. 80% pasien tidak mendapatkan obat-obatan, sementara para dokter dihadapkan pada dilema tragis: melakukan amputasi tanpa anestesi atau membiarkan pasien meregang nyawa akibat infeksi dan pendarahan.

“Kami kehabisan alat bedah, listrik, bahkan kehabisan oksigen. Pasien yang seharusnya bisa diselamatkan terpaksa dibiarkan meninggal. Ini bukan sekadar perang, ini genosida yang disengaja,” keluh Dr. Munir Al-Bursh, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza.

Perang di Gaza pecah pada 7 Oktober 2023, ketika kelompok perlawanan Palestina, Hamas, melancarkan operasi Badai Al-Aqsa yang menjadi serangan terbesar terhadap Israel dalam beberapa dekade. Hamas menembakkan ribuan roket dan berhasil menembus pertahanan Israel, menguasai beberapa wilayah di selatan selama beberapa jam.

Israel merespons dengan serangan udara dan darat yang brutal, tanpa batas moral. Tanpa pandang bulu, mereka menghancurkan rumah-rumah, rumah sakit, sekolah, hingga kamp pengungsi. Jumlah korban jiwa di Gaza melonjak hingga lebih dari 50.000 orang, mayoritasnya wanita dan anak-anak. Sementara itu, lebih dari 2 juta warga terpaksa mengungsi dan hidup dalam penderitaan.

Tidak hanya itu, blokade total Israel membuat mereka terjebak dalam krisis kelaparan. Israel menargetkan rumah sakit, ambulans, dan tenaga medis, memastikan bahwa korban luka tidak mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan.

Laporan dari organisasi HAM menyebut bahwa Israel secara sengaja menghancurkan rumah sakit terbesar di Gaza, Al-Shifa, yang kini rata dengan tanah. Rumah sakit lainnya, termasuk Rumah Sakit Indonesia, juga dibom tanpa alasan yang dapat dibenarkan.

Bahkan, pasukan Israel menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan, termasuk pasokan obat-obatan, makanan, dan peralatan medis. PBB menyatakan bahwa blokade ini adalah bentuk hukuman kolektif yang melanggar hukum internasional, sementara Israel tetap kebal dari sanksi internasional.

Di tengah gelombang pembantaian ini, upaya diplomatik untuk gencatan senjata terus diupayakan, meskipun penuh hambatan. Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat telah menjadi mediator dalam negosiasi antara Hamas dan Israel. Proposal gencatan senjata terbaru mencakup penghentian sementara serangan, pertukaran tahanan, serta pembukaan akses bantuan kemanusiaan.

Namun, perundingan berjalan sulit. Israel menolak gencatan senjata penuh dan tetap bersikeras untuk melanjutkan operasi militer sampai Hamas benar-benar dihancurkan. Hamas, di sisi lain, menuntut penghentian perang secara permanen, serta penarikan total pasukan Israel

(T.RS/S:MiddleEastMonitor)

 

You might also like