New York, NPC – Dalam sidang Dewan Keamanan PBB, pada Jumat (03/01/2024), Wakil Tetap Palestina untuk PBB, Riyad Mansour, sambil berlinang air mata membaca surat yang ditulis oleh seorang dokter asal Jalur Gaza yang kemudian dibunuh Israel.
Mahmoud Abu Nujaila, yang bekerja di Rumah Sakit Al Awda, menulis di papan tulis rumah sakit yang digunakan untuk merencanakan operasi: “Siapa pun yang bertahan sampai akhir, akan menceritakan kisah ini. Kami telah melakukan apa pun yang kami bisa. Ingat kami”.
Mahmoud Abu Nujaila, menurut Front Line Defenders (FLD), sebuah organisasi hak asasi manusia internasional yang didirikan di Dublin, adalah seorang pembela hak asasi manusia Palestina, dokter medis, dan pekerja layanan kesehatan kemanusiaan di Doctors Without Borders/Medecins Sans Frontieres (MSF).
“Selama permusuhan Israel tahun 2023 di Gaza, dia berada di garis depan, merawat yang terluka dan cedera, mempertaruhkan nyawanya dalam situasi yang sangat tidak bersahabat,” menurut FLD.
Pada tanggal 21 November 2023, Nujaila meninggal dunia dalam serangan udara Israel di Rumah Sakit Al Awda, bersama dengan dua dokter dan pembela hak asasi manusia lainnya.
Delegasi Palestina untuk PBB mengatakan bahwa para dokter di Gaza sedang berjuang dalam perjuangan yang sulit untuk dimenangkan, akan tetapi mereka tidak menyerah. Ia menambahkan bahwa komunitas internasional tidak mampu memberikan sebagian dari keberanian yang ditunjukkan oleh para staf medis di Gaza.
“Pasukan penjajah (Israel) menangkap dokter dan menganiaya mereka di penjara. Beberapa dari mereka meninggal karena penyiksaan. Kita tidak boleh terbiasa dengan hal-hal mengerikan yang dilakukan oleh penjajah (Israel) terhadap penduduk Palestina di Jalur Gaza,” kata Riyad Mansour.
Ia menambahkan bahwa tidak ada pembenaran bagi penjajah Israel untuk melakukan genosida terhadap rakyat Palestina.
“Penjajah (Israel) berencana untuk menguasai sebagian besar tanah Gaza dan melenyapkan sebagian besar rakyat Palestina,” sebut Riyad Mansour.
Sejak awal perang 15 bulan yang lalu, Israel telah membunuh 45.717 warga Palestina di Gaza, meratakan sebagian besar wilayah tersebut, dan memaksa hampir seluruh penduduknya mengungsi. Beberapa perkiraan menyebutkan angka kematian mencapai antara 200.000 hingga 300.000 warga Palestina, sebagian besar akibat kematian tidak langsung dari kehancuran infrastruktur kesehatan, air, dan listrik di Gaza.
Sementara itu, meskipun Israel terus meningkatkan serangan pemboman di Jalur Gaza, mediator Israel telah dikirim ke Doha untuk melanjutkan perundingan gencatan senjata dan pertukaran tahanan. Kelompok pejuang Palestina, terutama Hamas mengatakan mereka berkomitmen untuk mencapai kesepakatan, akan tetapi belum jelas seberapa dekat kedua pihak mencapai kesepakatan tersebut.
Genosida Israel di Gaza yang kini telah berlangsung lebih 450 hari, telah membunuh lebih dari 45.658 penduduk Palestina dan melukai lebih dari 108.583 orang lainnya. Di negara tetangga Lebanon, Israel telah membunuh 4.048 orang sejak Oktober 2023 dan terus melanggar kesepakatan gencatan senjata 27 November.
Sekitar 11.000 penduduk Palestina dikhawatirkan terkubur di bawah reruntuhan rumah yang dibom. Sebanyak 10.000 lainnya telah diculik oleh Israel dan ditawan di ruang penyiksaan Israel.
Para ahli dan beberapa penelitian mengatakan bahwa angkat tersebut hanyalah puncak gunung es dan jumlah korban jiwa Palestina yang sebenarnya bisa mencapai sekitar 200.000 orang.
Perang Israel telah menyebabkan kerusakan yang meluas dan menyebabkan sekitar 90 persen dari 2,4 juta penduduk Gaza mengungsi, banyak dari mereka telah mengungsi beberapa kali. Musim dingin kini telah tiba, dan ratusan ribu orang berlindung di tenda-tenda dekat laut.
Israel dituduh melakukan genosida terhadap warga Palestina di Gaza di Mahkamah Internasional sementara Mahkamah Kriminal Internasional telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk para pemimpin tinggi Israel termasuk PM Benjamin Netanyahu.
(T.FJ/S: TRT, RT Arabic)