Ramadan: Israel Persempit Hak Ibadah Umat Muslim di Masjid Al Aqsa

(Foto: Ahmad Gharabli/AFP via Getty Images/Jerrusalem Story)

Masjid Al-Aqsa bukan sekadar bangunan fisik bagi umat Islam di seluruh dunia; ia adalah identitas, simbol persatuan umat, dan titik pusat paling bersejarah di Yerusalem Timur. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, dan khususnya menjelang bulan suci Ramadan tahun ini, akses menuju situs tersuci ketiga dalam Islam ini mengalami penyempitan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam berbagai laporan lapangan, terlihat sebuah pola kebijakan zionis yang secara terstruktur berusaha menghambat ibadah umat Muslim di Palestina, baik dengan pendekatan keamanan, teknologi, dan birokrasi militer.

Jelang Ramadan, Akses Dibatasi 

Setiap tahun, bulan Ramadan di Yerusalem seharusnya menjadi masa di mana optimisme dan spiritualitas meningkat. Namun, menurut Sheikh Ekrima Sabri, mantan Mufti Besar Yerusalem, tahun ini Ramadan di Yerusalem, Palestina disambut dengan kekhawatiran mendalam. Otoritas Israel secara terbuka merencanakan pembatasan akses yang sangat ketat, yang secara langsung menyasar pelarangan/pembatasan terhadap kebebasan beribadah.

Indikasi perubahan kebijakan ini terlihat sangat jelas sejak awal Januari 2026, ketika Mayor Jenderal Avshalom Peled diangkat sebagai komandan polisi baru untuk wilayah Yerusalem Timur yang diduduki. Penunjukan ini bukan sekadar rotasi jabatan biasa, melainkan dipandang sebagai langkah strategis untuk memuluskan agenda Menteri Keamanan Nasional sayap kanan, Itamar Ben-Gvir.

Ben-Gvir dikenal karena retorika kerasnya yang ingin memperkuat kontrol penuh Israel atas kompleks Al-Aqsa, sebuah langkah yang oleh banyak pihak dianggap sebagai upaya “mengipasi api” di tengah situasi kawasan yang sudah sangat panas.

Militerisasi Akses dan Blokade Fisik

Sejak konflik pecah pada 7 Oktober 2023, akses dari Tepi Barat menuju Yerusalem hampir sepenuhnya terputus. Otoritas Israel memperketat ribuan pos pemeriksaan militer, mengubah perjalanan singkat menjadi proses yang melelahkan dan penuh ketidakpastian. Biasanya, ratusan ribu warga Palestina melakukan perjalanan ke Al-Aqsa selama Ramadan, namun tahun ini diperkirakan hanya sebagian kecil yang bisa mencapainya.

Pembatasan ini juga mencakup kriteria usia yang sangat spesifik. Militer Israel merekomendasikan agar akses hanya diberikan kepada pria berusia di atas 55 tahun dan wanita di atas 50 tahun. Bahkan bagi mereka yang memenuhi kriteria, perizinan tetap sulit diperoleh. Hal ini menciptakan hambatan demografis di mana generasi muda Palestina secara sistematis “dihapus” dari daftar jamaah Masjid Al-Aqsa selama bulan suci. Artinya, generasi muda Palestina sulit atau bahkan tidak akan mendapatkan akses memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa.

Drone “Surprise Egg”, Pengintai Jamaah di Masjid Al Aqsa

Salah satu perkembangan paling mencemaskan adalah rencana Garda Nasional Israel untuk menggunakan teknologi drone dalam menangani massa di sekitar kompleks Al-Aqsa dan Tepi Barat. Berdasarkan laporan Channel 12 Israel (14/02/2026), polisi telah menyetujui pembelian sistem yang dikenal sebagai “Surprise Egg”.

Sistem ini memungkinkan drone tipe Matrice untuk melepaskan kapsul gas air mata dari udara ke arah kerumunan. Penggunaan drone ini dipandang sebagai bentuk militerisasi ibadah, di mana teknologi yang biasanya digunakan di medan perang kini dikerahkan untuk mengawasi jamaah. Dengan nilai kontrak mencapai ribuan dolar dan status pengadaan yang bersifat “mendesak”, terlihat bahwa otoritas keamanan Israel sedang mempersiapkan skenario konfrontasi fisik dibandingkan pendekatan persuasif dalam menjaga ketertiban selama Ramadan.

Pengusiran Tanpa Pengadilan, Strategi Menekan Jamaah ke Al-Aqsa

Di luar blokade fisik di pos pemeriksaan, terdapat metode yang lebih personal dan destruktif: perintah larangan masuk individu. Ribuan pemuda Palestina di Yerusalem Timur kini hidup dalam ketakutan akan surat panggilan dari Kantor Polisi al-Qishleh. Tanpa proses pengadilan yang transparan, mereka bisa dilarang memasuki Kota Tua atau Masjid Al-Aqsa untuk jangka waktu satu minggu hingga enam bulan.

Kasus Mahmoud Ibrahim adalah contoh nyata. Meski tidak terlibat dalam aktivitas politik, ia dilarang masuk tanpa alasan resmi yang jelas. Bagi warga seperti Mahmoud, diusir dari Al-Aqsa terasa seperti “hukuman mati” karena ikatan batin yang mendalam dengan situs tersebut. Strategi ini efektif bagi Israel untuk mengurangi jumlah orang yang hadir di masjid tanpa harus melakukan penangkapan massal yang menarik perhatian media internasional.

Surat perintah larangan terbaru dari polisi yang dikeluarkan kepada Khadija Khweis, dalam surat itu bahkan dicantumkan nama individu-individu tertentu yang dilarang dihubunginya tanpa izin tertulis dari polisi Israel. (Kredit: Silwanic/Jerussalem Story)

Tokoh Agama dan Pengelola Wakaf Al-Aqsa Dibatasi Pergerakannya

Pola pembatasan ini tidak berhenti pada warga sipil, tetapi juga merambah ke institusi resmi. Departemen Wakaf Islam, yang secara historis bertanggung jawab mengelola Al-Aqsa, kini menghadapi tekanan luar biasa. Lebih dari 20 penjaga Wakaf dilarang memasuki kompleks tersebut. Dampaknya, pengawasan internal terhadap kompleks masjid menjadi lemah, memberikan ruang bagi kelompok ekstremis Yahudi untuk masuk di bawah perlindungan polisi Israel.

Bahkan pemimpin agama tertinggi tidak luput dari tindakan ini. Sheikh Muhammad Hussein, penceramah lama Al-Aqsa dan Mufti Yerusalem, dilarang masuk selama enam bulan hanya karena isi khotbahnya yang mengkritik kebijakan kemanusiaan di Gaza. Ini menunjukkan bahwa otoritas Israel tidak hanya membatasi pergerakan fisik, tetapi juga mencoba mengontrol narasi keagamaan dan kebebasan berpendapat di mimbar-mimbar masjid.

Perlawanan Simbolis: Murabitat dan Ikon Maqluba

Di tengah tekanan yang terus berlanjut setiap tahunnya, pernah muncul suatu bentuk perlawanan damai yang unik, terutama dari kaum perempuan Palestina yang dikenal sebagai Murabitat. Tokoh seperti Hanadi al-Halawani telah mengubah penderitaan akibat dilarang masuk menjadi simbol keteguhan. Salah satu ikon perlawanan yang paling terkenal adalah aksi memasak maqluba (hidangan tradisional Palestina) di depan gerbang masjid ketika mereka dilarang masuk.

Bagi mereka, menyajikan makanan di ambang pintu masjid adalah cara untuk menegaskan bahwa kehadiran mereka tidak bisa dihapuskan. Aksi ini begitu efektif hingga membuat aparat keamanan Israel geram; mereka bahkan melarang para perempuan ini untuk sekadar duduk-duduk di area sekitar gerbang masjid. Hal ini membuktikan bahwa bagi Israel, eksistensi warga Palestina di sekitar situs suci tersebut, bahkan dalam bentuk yang paling damai sekalipun, dianggap sebagai ancaman terhadap kontrol kedaulatan mereka.

Hanadi al-Halawani menumpahkan sepanci maqluba di bawah pengawasan ketat polisi Israel, Ramadan 2020. Foto tersebut menjadi viral di seluruh dunia. (Kredit: Al-Risala/Jerussalem Story)

Kesimpulan

Secara keseluruhan, peleburan kebijakan ini menunjukkan adanya upaya terstruktur untuk mengubah “Status Quo” di Al-Aqsa. Dengan mengurangi jumlah jamaah Muslim secara drastis melalui blokade, penggunaan teknologi pengintai, dan pengusiran tanpa pengadilan, serta di saat yang sama mempermudah akses bagi kelompok ekstremis Yahudi memasuki Kota Tua dan kompleks A-Aqsa.

Sheikh Ekrima Sabri menekankan bahwa apa yang dulunya merupakan ambisi tersembunyi kini telah menjadi kebijakan publik yang agresif. Yerusalem Timur bukan hanya menghadapi krisis akses tempat ibadah, tetapi juga ancaman pembongkaran lingkungan pemukiman yang merupakan bagian dari kebijakan rasis jangka panjang. Dunia internasional kini dihadapkan pada pertanyaan besar: sejauh mana kebebasan beribadah dapat dipertahankan di bawah bayang-bayang barikade militer yang kian hari kian menyempit?

Penulis: Fuad Nur Zaman

 

Sumber:

Khalil Assali, “How Israel Bans Individual Palestinians from Entering al-Aqsa Mosque and Other Areas”, Jerussalem Story, December 12, 2025. https://www.jerusalemstory.com/en/article/how-israel-bans-individual-palestinians-entering-al-aqsa-mosque-and-other-areas

TRT World, “Israel prepares to deploy tear gas drones in occupied West Bank ahead of Ramadan: report”, TRT World, February 15, 2026. https://www.trtworld.com/article/794047449df1

Middle East Monitor, “Israel plans to restrict access to al-Aqsa mosque during Ramadan”, MEMO, February 03, 2026. https://www.middleeastmonitor.com/20260213-israel-plans-to-restrict-access-to-al-aqsa-mosque-during-ramadan/

Abdel Ra’ouf Arnaout, “Israel plans to restrict access to al-Aqsa mosque during Ramadan”, Anadolu Agency, February 03, 2026. https://www.aa.com.tr/en/middle-east/israel-plans-to-restrict-access-to-al-aqsa-mosque-during-ramadan/3828923

 

You might also like