Ramadan di Gaza: Kenangan Masa Lalu yang Menyakitkan, dan Harapan yang Tersisa di Masa Depan

Ditulis oleh: Hend Salama Abo Helow*

Gaza, NPC – Di antara segala momen yang memberi kehidupan bagi Gaza, Ramadan adalah yang paling dinanti dan dibutuhkan. Bulan suci ini menawarkan penyembuhan spiritual, akan tetapi juga membuka kembali luka-luka yang terlalu dalam untuk disembuhkan.

Bagi keluarga yang kehilangan orang tercinta, Ramadan adalah kursi yang kosong di meja Iftar. Bagi para penyintas, itu adalah rasa bersalah yang membekas, beban tak tertahankan karena mereka yang tertinggal. Ini adalah rasa sakit yang tajam bagi para ibu yang sedang berduka, yang anak-anaknya terbunuh karena sepotong roti, mati kelaparan, atau dibantai dalam pembantaian.

Anak-anak yang dulunya meramaikan meja Iftar dengan tuntutan nakal, obrolan tentang apa yang mereka suka dan tidak suka, kini terdiam untuk selamanya. Ini adalah musim yang menyakitkan bagi anak-anak yatim, yang dulunya memiliki kehidupan sederhana, rumah, dan orang tua yang memastikan mereka tidak pernah tidur dalam keadaan lapar. Sekarang, mereka hanya memiliki kenangan, dan bahkan itu terasa rapuh, meluncur pergi seperti pasir yang mengalir di antara jari-jarinya.

Ramadan membawa gema penderitaan tahun lalu—kelaparan, kehancuran, kematian. Cerita yang tertulis dengan darah kita sendiri. Namun, di tengah segala kehilangan itu, ketangguhan tetap ada. Mereka yang terpaksa mengungsi kini menjadi orang yang kembali. Mereka membersihkan puing-puing yang dulunya adalah rumah mereka, mendirikan tenda di atas reruntuhan, menghias puing-puing itu, dan menyambut Ramadan dengan apa adanya. Karena tahun lalu, mereka kelaparan, terpaksa mengungsi, dan hampir mati. Namun tahun ini, meskipun segala sesuatu, mereka masih ada di sini.

Salah satu pelajaran yang paling menyakitkan yang diajarkan oleh genosida ini adalah untuk menghargai setiap momen keamanan, untuk menghargai setiap berkat yang dulu saya anggap remeh sebelum 7 Oktober. Begitu pula dengan penduduk Palestina di Jalur Gaza. Kami memutuskan untuk merangkul hidup lagi, membuka hati untuknya, dan menghirup setiap momen Ramadan seolah-olah itu adalah yang terakhir. Itu adalah kebahagiaan yang penuh kesedihan, kebahagiaan yang dihiasi oleh duka. Kenangan yang bertumpuk di atas kenangan, ritual-ritual yang selamanya ternodai oleh genosida.

Sebagai keluarga, kami selalu menandai awal Ramadan dengan hidangan dari nenek saya. Ia biasa memasak semua hidangan tradisional, tetapi hidangan utama selalu mulukhiyyeh, semur daun hijau yang menjadi caranya mengharapkan agar bulan ini menjadi hijau sepanjang masa bagi semua orang. Ia akan mengumpulkan kami dengan kehangatannya, tawanya, dan tangannya yang bekerja tanpa lelah di atas panci-panci. Nenek saya tidak pernah gagal untuk menyatukan kami.

Tahun ini, kami kehilangan kompas kami. Ia terbunuh tahun lalu, meninggalkan kami dengan awal yang hampa. Keheningan yang nenek tinggalkan begitu keras, ketidakhadirannya adalah rasa sakit yang tak kunjung hilang. Tak ada lagi suara nenek yang melantunkan doa Tarawih, doa malam, di latar belakang kehidupan kami.

Saya selalu bertanya-tanya bagaimana Iftar bisa bertabrakan dengan pembantaian keluarga lain. Saya tidak bisa membayangkannya sampai akhirnya saya mengalaminya sendiri.

Pada tanggal 10 Ramadan 2024, beberapa minggu setelah kembali ke rumah kami setelah pengungsian pertama, saya menghabiskan hari di dapur, bersyukur karena akhirnya bisa memasak lagi. Selama pengungsian, memasak adalah kemewahan yang tidak bisa kami nikmati. Hari itu, saya membuat pizza untuk Iftar. Itu bukanlah hal yang kecil—pizza, di zona perang, adalah impian yang sulit dijangkau. Bahan-bahannya langka dan mahal. Tapi saya berhasil membuatnya.

Lalu, sebuah tembakan artileri yang brutal mengguncang tanah di bawah saya. Saya berhenti sejenak. Rumah mana yang terkena? Keluarga mana yang hilang hanya beberapa saat sebelum azan maghrib? Tidak ada yang tahu dengan pasti. Jadi saya melanjutkan memasak, mengesampingkan pikiran itu.

Beberapa menit sebelum Iftar, saya akhirnya mengambil ponsel saya. Ribuan pesan memenuhi layar ponsel. Saya terhenti.

Itu adalah pesan dari sahabat saya, Buthaina. Ia baru saja kembali dari Rafah dua hari sebelumnya, menggenggam harapan untuk hari esok yang lebih baik, bersemangat untuk melanjutkan kuliah online-nya. Namun, ia sudah tiada. Terbunuh saat berpuasa. Habis, bersama keluarganya.

Saya ingat duduk di sana, menatap piring saya yang tidak tersentuh. Bagaimana saya bisa membatalkan puasa sementara sahabat saya telah direnggut begitu kejam?

Ramadan seharusnya menjadi bulan berbagi kemanusiaan. Namun, di Gaza, ia telah menjadi musim kehilangan, saat bahkan yang sakral pun dinodai. Aturan perang, kesucian bulan ini—semuanya tak berarti. Darah tertumpah di jalanan, keluarga-keluarga kelaparan dipaksa menyerah, kebutuhan paling dasar—makanan, air, gas, tepung—berubah menjadi mimpi yang jauh, yang tak terjangkau.

Saya menghitung hari menuju Idul Fitri, dengan harapan bodoh bahwa itu akan membawa gencatan senjata dan segala sesuatunya akan berbeda. Tetapi pada malam sebelum Idul Fitri, serangan udara datang.

Serangan itu menghantam rumah tetangga saya. Lebih dari 50 orang terjebak di bawah reruntuhan.

Bagi dunia, mereka hanyalah statistik lain, korban lain dalam deretan panjang kematian. Tetapi bagi kami, mereka adalah para pemimpi. Mereka adalah pencinta kehidupan. Mereka punya rencana. Mereka punya nama.

Saya bisa saja menjadi mereka. Namun perang yang tidak membunuhmu memaksamu untuk hidup.

Anak-anak saya yang masih kecil memutuskan bahwa jika kami tidak bisa merayakan Ramadan seperti yang kami kenal sebelumnya, mereka akan menciptakan yang baru. Mereka menutup mata saya, tangan kecil mereka membimbing saya keluar. Ketika mata saya dibuka, saya terperangah. Mereka telah menghias ruang kami dengan dekorasi darurat—plastik, kardus, apa saja yang bisa mereka temukan. Tidak seperti lentera mewah yang dulu kami beli, tetapi entah bagaimana, itu terasa lebih indah. Mereka memanjat pohon zaitun untuk menggantungkan spanduk, saling menjaga satu sama lain saat bekerja, suara mereka melantunkan lagu, “Ramadan Kareem, Ya Wahawi… Iaha!“

Di pasar-pasar, dekorasi Ramadan mulai dari lentera, gaun, kurma, jus carob, acar asam, manisan Qamar al-Din, dan pembakar dupa, telah kembali. Supermarket penuh dengan produk yang selama 16 bulan kami deprivasikan. Saya berdiri di sana, terkejut, tidak tahu harus mulai dari mana. Genosida ini telah mendiktekan pola makan kami terlalu lama.

Meski banyak masjid yang hancur, mereka menemukan cara untuk membangun kembali—ruang shalat darurat muncul di tempat yang dulu berdiri tembok. Keluarga-keluarga kembali bisa mengundang satu sama lain untuk Iftar, berbagi hidangan, dan merayakan tradisi. Azan mu’azzin akan mengalun di atas reruntuhan. Salat Tarawih akan membahana di tengah suara drone, dan msahharati akan kembali dengan aman mengelilingi jalanan, memukul drum untuk membangunkan orang untuk sahur.

Kami akan menikmati makanan, bukan sekadar serpihan yang tersisa. Kami akan hidup dalam setiap momen, menghargainya, bukan hanya sebagai kenangan tentang apa yang pernah ada, tetapi sebagai bukti bahwa kami masih bertahan. Bahwa kami membawa warisan mereka yang telah pergi dalam setiap langkah kami.

Dan kini, lebih dari sebelumnya, aku benar-benar mengerti doa ibu:

“Ya Allah, biarkan kami merasakan nikmatnya Ramadan tanpa harus kehilangan siapa pun atau diri kami sendiri yang hilang.”

Namun kali ini, aku membisikkan doa itu dengan cara yang berbeda:

“Ya Allah, izinkan kami merasakan nikmatnya Ramadan, tanpa harus kehilangan lebih banyak lagi atau kami sendiri yang hilang”.

___

*Hend Salama Abo Helow merupakan peneliti, penulis, dan mahasiswa kedokteran di Universitas Al-Azhar di Gaza. Ia juga seorang penulis di We Are Not Numbers dan telah menerbitkan karya di Washington Report on Middle East Affairs dan Institute Palestinian Studies.

(T.FJ/S: Mondoweiss)

 

You might also like