Tel Aviv, NPC – Lebih dari 140.000 warga Israel telah menandatangani petisi menuntut pemerintahan Netanyahu pembebasan para sandera Israel dari Gaza meskipun harus menghentikan perang di Gaza.
Gerakan yang makin meluas ini mencerminkan kekecewaan publik yang mendalam terhadap strategi militer pemerintahan Netanyahu yang gagal menyelamatkan para tawanan.
Kampanye ini dikoordinasikan melalui situs Restored Israel dan mengalami lonjakan dukungan dalam 24 jam terakhir, dengan lebih dari 10.000 orang baru bergabung.
Pada Sabtu pagi, (19/04/2025), jumlah penandatangan tercatat 138.434, meningkat tajam dari 128.114 pada hari sebelumnya. Jumlah ini diprediksi akan terus meningkat seiring kian meluasnya keresahan di kalangan masyarakat.
Tak hanya masyarakat sipil, petisi-petisi juga datang dari berbagai kalangan militer. Hal ini menunjukkan bahwa kekhawatiran terkait dampak perang tidak hanya berasal dari masyarakat biasa, tapi juga dari tubuh militer sendiri.
Pemerintah Netanyahu diketahui telah mengancam akan memecat tentara yang menyatakan pendapat menentang perang atau secara terbuka mendukung upaya penghentian konflik. Namun, ancaman tersebut gagal membendung veteran IDF yang telah ikut menandatangani petisi.
Di antara 127.255 penandatangan sipil, terdapat lebih dari 73.000 warga negara Israel, 1.500 orang tua dari tentara aktif, dan 1.300 anggota keluarga dari tentara yang gugur dalam perang.
Fakta ini menunjukkan bahwa dukungan terhadap penghentian perang dan pertukaran tawanan berasal dari mereka yang paling dekat dengan medan tempur dan paling merasakan dampaknya.
Meningkatnya tekanan publik ini menyoroti jurang besar antara rakyat dan pemimpin mereka. Netanyahu, yang terus mempertahankan jalur perang brutal atas nama keamanan nasional, justru makin kehilangan legitimasi di mata rakyatnya sendiri. Ia memilih mempertaruhkan nyawa para tawanan dan menghancurkan Gaza, hanya demi menyelamatkan masa depan politik pribadinya.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pidatonya pada Sabtu (19/04/2025), menegaskan bahwa Israel akan terus melancarkan serangan besar-besaran terhadap Gaza sampai Hamas dihancurkan sepenuhnya, meskipun dengan risiko mengorbankan lebih banyak warga sipil dan melawan tekanan internasional.
Netanyahu menggambarkan perang ini sebagai “perang kebangkitan” dan menolak semua usulan gencatan senjata, termasuk pertukaran sandera, yang ia sebut sebagai tindakan menyerah kepada Hamas. Ia bahkan menyebut pihak-pihak yang menyerukan penghentian perang sebagai “pembantu Hamas” dan dengan jelas menyatakan bahwa penarikan pasukan dari Gaza bukanlah pilihan, karena hal itu akan memberi kemenangan pada terorisme.
Dalam menghadapi kecaman global terhadap tindakan militer Israel yang terus berlanjut, Netanyahu mencoba membingkai perang ini sebagai perjuangan eksistensial, sekaligus menutup mata terhadap penderitaan warga Gaza yang terus berlanjut akibat serangan udara dan penutupan perbatasan yang menghalangi bantuan medis
(T.RS/S:MiddleEastMonitor)