Perempuan dalam Derita: Kekerasan Berbasis Gender Bagi Perempuan Palestina

Sumber: UNFPA Palestine/Media Clinic

Penjajahan Israel atas Palestina yang berkepanjangan telah membuat perempuan Palestina menghadapi serangkaian krisis, lebih dari sekadar ancaman senjata dan pengungsian. Kekerasan berbasis gender telah dialami oleh para perempuan di Palestina, mulai dari kekerasan fisik, mental, hingga keterbatasan dalam pemenuhan hak-hak pribadi seperti buruknya akses pendidikan dan kesehatan. Blokade yang dialami telah menimbulkan ketidakstabilan sosial-ekonomi, pengusiran besar-besaran, dan minimnya akses terhadap sanitasi lingkungan.

Keberadaan perempuan dalam peperangan telah mendapat perlindungan tegas dalam Pasal 27, Konvensi Jenewa IV tahun 1949 yang menyatakan, “Perempuan harus dilindungi secara khusus dari segala serangan terhadap kehormatan mereka, khususnya dari pemerkosaan, pelacuran paksa, atau segala bentuk penyerangan yang tidak senonoh”.[1] Hukum Humaniter Internasional juga mempertimbangkan perempuan untuk masuk kategori kaum yang lebih rentan, sehingga berhak atas perlakuan khusus dalam kasus-kasus tertentu. Di tengah kesulitan akibat peperangan, seringkali perempuan harus merawat anak-anaknya sendirian.[2] Belum lagi jika mereka menanggung keperluan lainnya di tengah minimnya akses terhadap banyak hal. Dengan demikian, perempuan lebih rentan mendapatkan kekerasan fisik, psikologis, bahkan mengalami pelecehan seksual yang ditimbulkan dalam konflik bersenjata.

Sumber: UNFPA Palestine/Media Clinic

Entah berapa banyak hukum internasional yang telah dilanggar oleh Israel, tetapi jumlahnya tak lagi bisa dihitung dengan jari. Genosida Israel tidak dimulai sejak 7 Oktober 2023 kemarin, melainkan telah berlangsung selama 77 tahun! 7 Oktober merupakan puncak yang melahirkan serangkaian serangan bertubi-tubi Israel terhadap Palestina hingga saat ini. Selama setahun penuh, 41.600 orang tewas dan 96.000 lainnya luka-luka. Sebagian besar diantara mereka merupakan perempuan dan anak-anak.[3] Perempuan Palestina telah menghadapi penderitaan yang tak tertahankan, diantaranya:

1. Kelaparan dan Krisis Akses Perawatan Antenatal dan Postnatal

Blokade Israel serta pembatasan akses bantuan pangan telah menciptakan bencana kelaparan di tengah penduduk Palestina. Perempuan yang tengah mengandung juga merasakan perjuangan di ambang kelaparan, mempertahankan dua jiwa dalam satu tubuhnya. Kondisi ini  semakin diperparah dengan minimnya akses kesehatan seperti rusaknya fasilitas medis, krisis air bersih, kehilangan tempat tinggal, dan kesulitan memperoleh sanitasi yang baik akibat pengeboman Israel. UNFPA menyebutkan bahwa satu dari empat perempuan di Gaza mengalami infeksi kulit dan jumlahnya dua kali lebih banyak daripada laki-laki. Perempuan juga lebih banyak terserang penyakit gastrointestinal dan hepatitis A.[4]

Perempuan yang tengah hamil seringkali menghadapi situasi yang jauh dari kata ideal akibat minimnya akses perawatan antenatal (sebelum kelahiran) dan postnatal (setelah kelahiran). Ini bukan sekedar kesulitan, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan jiwa sang ibu dan anaknya. Sebuah situasi yang dapat dikategorikan sebagai genosida. Berdasarkan penelitian awal tahun 2024, terdapat sekitar 183 perempuan di Gaza yang melahirkan setiap harinya. Dari jumlah tersebut, 15% diantaranya mengalami komplikasi dalam persalinannya, sehingga membutuhkan perawatan medis tambahan.[5] Namun, tidak semua rumah sakit dapat berfungsi. Layanan medis yang layak nyaris mustahil tersedia.

Beberapa rumah sakit yang dapat berfungsi pun mengalami keterbatasan yang ekstrim dalam ketersediaan obat-obatan, stok darah, fasilitas medis, bahkan bahan bakar pun dibatasi secara ketat. Oleh karena itu, dalam beberapa kasus persalinan ada yang dilakukan tanpa anestesi dan tanpa ketersediaan listrik. Pembatasan ini jelas mengancam jiwa perempuan yang sedang hamil dan akan melahirkan. Perawatan pasca melahirkan pun sangat terbatas. Sebuah fakta memilukan yang mana seharusnya perempuan mendapatkan layanan terbaiknya setelah persalinan. Terbatasnya ketersediaan tempat tidur di rumah sakit, memaksa perempuan harus segera dipulangkan setelah 3 jam usai melahirkan. Kelaparan yang melanda juga membuat perempuan lebih lemah selama kehamilan dan pasca melahirkan. Padahal, selama dua periode tersebut, mereka memerlukan asupan kalori dan nutrisi yang lebih tinggi demi memastikan persalinan yang sehat. Dengan demikian, banyak perempuan yang sedang hamil menderita anemia.[6]

2. Kesulitan Memperoleh Pembalut/Tampon

Period poverty atau kemiskinan menstruasi yang terjadi kepada perempuan di Palestina merupakan salah satu kekerasan berbasis gender. Period poverty tidak hanya mencakup akses pada pembalut/tampon saja, tetapi juga mencakup keterbatasan pengelolaan sampah yang layak, fasilitas cuci tangan, dan ketersediaan toilet yang bersih. Selama menstruasi, idealnya perempuan menggunakan produk manajemen menstruasi yang higienis dalam menyerap dan menampung darah menstruasi. Seharusnya, mereka pun rutin untuk menggantinya sesuai kebutuhan agar tidak terjadi infeksi atau mengundang penyakit lainnya. Ketersediaan sabun dan air bersih serta fasilitas yang nyaman untuk membuang sampah menstruasi juga amat diperlukan.[7]

Sayangnya, kondisi ideal di atas justru sebaliknya dialami oleh perempuan di Palestina. Berdasarkan data dari UNFPA Palestine, lebih dari 690.000 perempuan dan remaja putri mengalami kesulitan akses mendapatkan pembalut setiap bulannya. Dibutuhkan sekitar 10,3 juta pembalut setiap bulannya untuk perempuan menstruasi di Gaza. UNFPA Palestine merekam situasi krisis ini lewat seorang ibu berusia 47 tahun bernama Bakiza Mohamed, “Saya memiliki anak perempuan berusia 16 tahun. Ketika menstruasi, saya memotong sehelai kain untuk digunakannya menjadi pembalut.” Seorang remaja perempuan berusia 19 tahun menuturkan hal yang sama, “Saya hanya memiliki satu celana dalam dan harus mencucinya dengan air kotor, jika tersedia lalu menggunakannya kembali.

Kondisi di atas diperparah dengan ketiadaan fasilitas yang nyaman dan penuh privasi serta keterbatasan sumber air bersih. Keadaan ini memaksa perempuan di Gaza mengonsumsi tablet penunda menstruasi sebab tidak ada alternatif lain. Tablet norethisterone yang mereka konsumsi jelas dapat mengundang penyakit karena tablet ini biasa diberikan untuk kondisi pendarahan berat akibat menstruasi, nyeri haid, dan endometriosis. Hal tersebut dapat menyebabkan perubahan siklus menstruasi, rasa mual dan pusing, serta tidak menentunya suasana hati yang dapat menyerang kondisi psikologis.[8]

Sumber: Dikutip dari artikel Aljazeera, File: Mahmud Hams/AFP

Pada sebuah potret yang ditampilkan dari Al-Jazeera, perempuan juga terpaksa mencuci pakaian mereka di laut jalur Gaza akibat ketiadaan sumber air bersih yang memadai. UNRWA melaporkan bahwa berdasarkan OCHA, kualitas air di jalur Gaza mengalami tingkat kontaminasi mikrobiologi yang mengkhawatirkan karena hampir 73% air minum tidak layak standar minimum nasional. Sebanyak 97% sampel air rumah tangga pun menunjukkan hal yang sama.[9] Data ini sungguh memilukan, mengingat air bersih merupakan kebutuhan dasar sehari-hari.

3. Trauma Psikologis (PTSD)

PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) merupakan gangguan stress yang menyerang mental setelah menyaksikan peristiwa yang traumatis. Genosida yang dilakukan Israel setiap harinya menyebabkan banyak penduduk Palestina merasakan hal tersebut. Terlebih bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal, sehingga harus mengungsi. Hari-hari berat dan penuh kecemasan terus mereka lewati sambil bertanya dalam hati, “Siapa lagi yang meninggal setelah ini?”.

Perempuan sebagai inti kehidupan di Palestina harus bergelut dengan kehidupan yang penuh keterbatasan. Menurut UNRWA, pengungsi perempuan lebih banyak mengalami depresi dan kecemasan dengan tingkat pengangguran serta kemiskinan yang tinggi. Perempuan yang tinggal di kamp pengungsian mengalami lebih banyak gejala depresi dibandingkan mereka yang tinggal di kota atau desa.[10] Pernyataan ini tentu tidak menafikan tingkat depresi yang dialami oleh laki-laki. Tekanan mental ini merupakan akumulasi dari strategi komprehensif Israel dalam menerapkan pembatasan ekonomi dan fisik di Gaza. Blokade Gaza dan pembatasan ketat masuk-keluarnya arus barang semakin meningkatkan jumlah pengangguran akibat kehilangan pekerjaan, peningkatan kemiskinan, dan terbatasnya akses layanan pendidikan serta kesehatan.[11] Meningkatnya stress juga dialami oleh perempuan yang mengambil partisipasi dalam rumah tangga dan dunia kerja di tengah kondisi yang tidak ideal ini.

Ibu hamil juga mengalami kecemasan dengan berbagai tingkatan, mulai dari kecemasan ringan yang dialami oleh 30,7% ibu hamil hingga kecemasan berat yang mencapai 12%. Kesejahteraan ibu hamil seharusnya menjadi prioritas agar janin yang dikandungnya dapat berkembang dengan sehat. Sayangnya, ini diperparah dengan keterbatasan fasilitas medis dan minimnya layanan konseling. Kecemasan yang dialami ibu dapat mendorong perilaku yang dapat menyebabkan  kerusakan fungsi plasenta dan menghambat aliran darah untuk mensuplai nutrisi pada janin. Bagi perempuan yang mengalami masalah kesuburan juga mengalami efek psikologis yang tinggi.[12] Perawatan yang mereka alami juga menimbulkan stress karena hasil yang tak bisa diprediksi di tengah hiruk pikuk perusakan hidup akibat genosida Israel.

Hidup perempuan Palestina tergadaikan di tanah yang seharusnya menjadi milik mereka. Hukum Humaniter Internasional belum berhasil melindungi perempuan Palestina, mereka justru dihancurkan perlahan oleh kelaparan, ketakutan, dan kebrutalan sistematis melalui genosida Israel demi menghapuskan keberadaan mereka. Sementara pemilik hak kekuasaan memilih senyap di saat Israel terus mencabik-cabik kemanusiaan dengan kebiadaban yang berada di puncaknya. Sejarah terus mencatat akan ketidakadilan yang setia ditegakkan. Meski demikian, tak ada kedzaliman yang akan luput dari pembalasan.

Penulis: Nadea Salsabila Putri (Mahasiswi Prodi Sejarah Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah)

 

Daftar Pustaka

Alsaafin, Linah, and Amer. “No Privacy, No Water: Gaza Women Use Period-Delaying Pills Amid Israel War.” Aljazeera.

Boudah, Amina Hani. “Period Poverty in Egypt.” The Undergraduate Research Journal 10, no. 3 (2025).

Elkanib, Shatha, Mollie Fair, Elke Mayrhofer, Mohamed Afifi, and Zeina Jamaluddine. “Pregnant Women in Gaza Require Urgent Protection.” The Lancet 403, no. 10423 (January 20, 2024): 244.

Farajallah, Iman. “Behind the Rubble: Psychological Trauma of Wars and Human Rights Abuses on Women and Children in Gaza.” Anatolian Clinic the Journal of Medical Sciences 29, no. Special Issue on Gaza (2024): 119–136.

Marie, Mohammad, Sana SaadAdeen, and Maher Battat. “Anxiety Disorders and PTSD in Palestine: A Literature Review.” BMC Psychiatry (2020).

Melzer, Nils. Hukum Humaniter Internasional Sebuah Pengantar Komprehensif. Jakarta: International Committe of the Red Cross, 2019.

Murtaja, Eslam Farhat, and Abdel Aziz Mousa Thabet. “Anxiety and Depression among Pregnant Women in the Gaza Strip.” PSYCHOLOGY AND COGNITIVE SCIENCES 3, no. 4 (December 2017).

Stone, Karyn. “How Does International Humanitarian Law Protect Women during War?” Canadian Red Cross. Last modified November 25, 2019. https://www.redcross.ca/blog/2019/11/how-does-international-humanitarian-law-protect-women-during-war.

“UNRWA Situation Report #153 on the Humanitarian Crisis in the Gaza Strip and the West Bank, Including East Jerusalem.” UNRWA.

“Women of Gaza: A Year in Crisis.” UNFPA. Last modified October 4, 2024. https://www.unfpa.org/stories/women-gaza-year-crisis.

 

 

[1] Karyn Stone, “How Does International Humanitarian Law Protect Women during War?,” Canadian Red Cross, last modified November 25, 2019, https://www.redcross.ca/blog/2019/11/how-does-international-humanitarian-law-protect-women-during-war.

[2] Nils Melzer, Hukum Humaniter Internasional Sebuah Pengantar Komprehensif (Jakarta: International Committe of the Red Cross, 2019), 242.

[3] “Women of Gaza: A Year in Crisis,” UNFPA, last modified October 4, 2024, https://www.unfpa.org/stories/women-gaza-year-crisis.

[4] Ibid.

[5] Shatha Elkanib et al., “Pregnant Women in Gaza Require Urgent Protection,” The Lancet 403, no. 10423 (January 20, 2024): 244.

[6] Ibid.

[7] Amina Hani Boudah, “Period Poverty in Egypt,” The Undergraduate Research Journal 10, no. 3 (2025): 1.

[8] Linah Alsaafin and Amer, “No Privacy, No Water: Gaza Women Use Period-Delaying Pills Amid Israel War,” Aljazeera.

[9] “UNRWA Situation Report #153 on the Humanitarian Crisis in the Gaza Strip and the West Bank, Including East Jerusalem,” UNRWA.

[10] Eslam Farhat Murtaja and Abdel Aziz Mousa Thabet, “Anxiety and Depression among Pregnant Women in the Gaza Strip,” PSYCHOLOGY AND COGNITIVE SCIENCES 3, no. 4 (December 2017): 142.

[11] Iman Farajallah, “Behind the Rubble: Psychological Trauma of Wars and Human Rights Abuses on Women and Children in Gaza,” Anatolian Clinic the Journal of Medical Sciences 29, no. Special Issue on Gaza (2024): 123.

[12] Alaa Abu Iznait, “Anxiety and Depression, and their Associated Factors among pregnant women in Palestinian refugee camps – west bank,” (Master thesis Dissertation, An-Najah National University, 2017), 42.

You might also like