Jalur Gaza, NPC — Di tengah hantaman perang dan krisis kemanusiaan berkepanjangan, lantunan ayat suci Al-Qur’an tetap hidup di tengah masyarakat Palestina di Jalur Gaza. Aktivitas menghafal dan mempelajari kitab suci itu tidak surut, bahkan terus berkembang sebagai bentuk keteguhan spiritual di tengah situasi yang serba sulit.
Program Safwat Al-Huffaz menjadi salah satu inisiatif yang menonjol dalam membumikan Al-Qur’an di Gaza. Program ini tidak hanya menekankan hafalan, tetapi juga pembentukan karakter dan pemahaman yang mendalam. Tujuannya jelas: melahirkan generasi yang tidak hanya hafal, tetapi juga mampu mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Direktur Jenderal Darul Qur’an dan Sunnah di Gaza, Bilal Imad, menegaskan bahwa berpegang pada Al-Qur’an dalam kondisi saat ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendasar. Menurutnya, program ini menjadi bukti bahwa masyarakat Gaza mampu menjadikan situasi sulit sebagai ruang untuk membangun kekuatan dari dalam.
“Di tengah tekanan dan kehancuran, pendidikan Al-Qur’an tetap berjalan dan bahkan semakin menguat,” ujarnya.
Metode Ketat dan Bertahap
Program Safwat Al-Huffaz menerapkan sistem pembelajaran yang ketat dan bertahap. Setiap peserta diwajibkan menguasai satu halaman secara sempurna, baik dari sisi hafalan maupun pemahaman, sebelum melanjutkan ke bagian berikutnya.
Proses ini berlanjut hingga peserta mampu menyelesaikan satu juz dengan lancar. Setelah itu, mereka diminta mengulang dan menggabungkan seluruh hafalan hingga mampu melafalkan Al-Qur’an secara utuh dan stabil. Pendekatan ini menekankan kualitas, bukan sekadar jumlah hafalan.
Para pengajar secara rutin melakukan evaluasi melalui ujian berkala dan pemantauan intensif guna menjaga standar hafalan tetap tinggi.
Ribuan Halaqah Tetap Berjalan
Di tengah keterbatasan, program ini tetap berjalan luas. Lebih dari 3.500 halaqah (kelompok belajar Al-Qur’an) tersebar di berbagai wilayah Gaza, termasuk di pusat-pusat pengungsian.
Para pengajar terus menjalankan kegiatan secara rutin dengan menyesuaikan kondisi lapangan. Keberlangsungan halaqah ini menunjukkan komitmen kuat untuk menjaga pendidikan keagamaan tetap hidup di tengah tekanan.
Minat Masyarakat Meningkat
Minat masyarakat terhadap program ini juga terus meningkat. Anak-anak hingga orang dewasa turut ambil bagian, mencerminkan kuatnya keterikatan warga Gaza dengan Al-Qur’an.
Bilal Imad menyebut kondisi sulit justru memperkuat hubungan masyarakat dengan kitab suci. Al-Qur’an menjadi sumber keteguhan dan pegangan hidup dalam menghadapi ketidakpastian.
Target dan Pengembangan
Sebelum perang, program ini telah meluluskan sekitar 1.400 penghafal Al-Qur’an. Saat ini, meski dalam keterbatasan, upaya terus dilakukan untuk meluluskan lebih dari 2.000 penghafal baru.
Ke depan, program ini akan diperluas melalui pembukaan halaqah baru, pelatihan pengajar, serta penguatan pembelajaran hadis dan pembinaan karakter. Tujuannya membentuk generasi yang utuh—kuat dalam hafalan, pemahaman, dan akhlak.
Di tengah berbagai tantangan, program seperti Safwat Al-Huffaz menjadi gambaran bagaimana pendidikan dan nilai-nilai spiritual tetap dijaga sebagai fondasi kehidupan masyarakat Gaza.
(T.RS/S: Palinfo)