Perampasan Terbaru Tanah Palestina di Tepi Barat: Israel Akan Hancurkan Desa Al-Nu’man Dekat Bethlehem

This picture taken on November 17, 2020 shows an aerial view of the Israeli settlement of Tekoa in the occupied West Bank, south of Bethlehem. (Photo by MENAHEM KAHANA / AFP)

Betlehem, NPC – Otoritas penjajah Israel, pada Minggu (26/01/2025), memberitahukan kepada penduduk Palestina di desa Nuaman atau Al-Nu’man, yang terletak di sebelah timur Bethlehem di Tepi Barat yang diduduki Israel, tentang rencana untuk meruntuhkan semua rumah di desa tersebut.

Langkah ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk menganeksasi tanah Palestina dan memperluas batas-batas Yerusalem yang diduduki Israel.

Pasukan Israel Bersiap untuk Pembongkaran Massal: 45 Rumah Akan Dihancurkan

Pemerintah Kota Yerusalem, yang bekerja sama dengan tentara penjajah Israel, menggerebek desa Al-Nu’man. Mereka membagikan pemberitahuan penghancuran kepada 45 rumah penduduk Palestina, yang merupakan total jumlah rumah di seluruh desa tersebut. Hassan Breijieh, direktur Komisi Urusan Tembok dan Pemukiman di Bethlehem, mengonfirmasi berita ini kepada Anadolu Agency.

Perintah Penghancuran yang Tidak Sah: Alasan Palsu untuk Mengusir Warga Palestina

Perintah penghancuran Israel tersebut mengklaim alasan kurangnya izin bangunan, meskipun desa ini telah ada sejak sebelum 1948 atau sebelum negara Israel berdiri di tanah Palestina yang dirampas, dengan rumah terakhir dibangun pada tahun 1993.

Jamal Al-Daraawi, kepala dewan desa Al-Nu’man, mengungkapkan keprihatinannya mengenai situasi ini, dan menyoroti pentingnya sejarah daerah tersebut serta ketidakadilan dari klaim-klaim tidak berdasar Israel ini.

Desa Al-Nu’man, yang mencakup area seluas 1,5 kilometer persegi, adalah rumah bagi 150 penduduk Palestina yang tinggal di rumah-rumah yang terbuat dari batu tua. Rumah-rumah ini dibangun jauh sebelum Nakba pada 1948. Meskipun mereka telah lama menetap, kini warga desa menghadapi pengusiran karena otoritas Israel terus melanjutkan kebijakan ekspansionis mereka.

Gambaran Besar: Perebutan Tanah oleh Israel yang Terus Berlanjut di Tepi Barat

Menurut laporan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), Israel telah menghancurkan 1.058 bangunan Palestina di Area C Tepi Barat yang diduduki sepanjang tahun 2024. Ini termasuk 192 bangunan tempat tinggal, yang mengakibatkan 860 penduduk Palestina mengungsi dan berdampak pada sekitar 38.000 orang lainnya. Penghancuran ini umumnya terkonsentrasi di Yerusalem (190 bangunan), Hebron (172 bangunan), dan Bethlehem (68 bangunan).

Perebutan Tanah Terbesar Israel dalam Lebih dari 30 Tahun: Ancaman Serius bagi Pembentukan Negara Palestina

Pada bulan Juli, otoritas Israel menyetujui perebutan tanah Palestina terbesar di Tepi Barat yang diduduki dalam lebih dari tiga dekade. Langkah ini memungkinkan pengambilalihan 12,7 kilometer persegi tanah di Lembah Yordan, timur laut kota Ramallah. Tindakan ini terus mengancam kemungkinan pembentukan negara Palestina yang merdeka.

Pemukiman dan Hukum Internasional: Pelanggaran Terus Menerus oleh Israel

Pemukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki dan Yerusalem Timur adalah ilegal berdasarkan hukum internasional. Namun, lebih dari 700.000 pemukim Yahudi saat ini mendiami lebih dari 200 pemukiman dan “pos terdepan” pemukiman di seluruh wilayah Tepi Barat Palestina.

Pemukiman-pemukiman ini merupakan bagian dari upaya yang lebih besar untuk mengukuhkan kontrol Israel atas Tepi Barat Palestina, meskipun ada kecaman luas dari komunitas internasional.

Upaya Israel untuk menghancurkan desa Al-Nu’man dan daerah-daerah Palestina lainnya menunjukkan upaya berkelanjutan untuk memperluas cengkeraman teritorial Israel atas Tepi Barat Palestina. Perintah penghancuran ini merupakan bagian dari upaya sistematis untuk memaksa keluarga Palestina meninggalkan tanah leluhur mereka.

Jika tindakan penghancuran dan perampasan tanah Palestina ini terus berlanjut, mereka akan semakin merusak harapan akan perdamaian yang langgeng dan membuat pembentukan negara Palestina yang berdaulat sangat sulit tercapai.

(T.FJ/S: The Cradle, Al Jazeera)

 

You might also like