Gaza, NPC – Penduduk Palestina di Gaza mulai mengambil alih upaya pemulihan wilayah mereka dengan meluncurkan berbagai inisiatif rekonstruksi berbasis komunitas, di tengah minimnya kemajuan nyata dari janji-janji internasional pascagencatan senjata.
Abu Ahmad, penduduk Palestina di Gaza Utara yang mengungsi, semula berharap sudah memiliki atap yang layak untuk melindungi keluarganya. Namun hingga kini, ia dan keluarganya masih harus menghadapi dingin dan hujan hanya dengan tenda tipis yang nyaris tak layak huni.
“Saat gencatan senjata diumumkan, saya yakin akhirnya bisa membangun kembali rumah saya, atau setidaknya mendapatkan karavan untuk bertahan di musim dingin. Namun yang terdengar hanya rencana dan konferensi. Tidak ada perubahan nyata,” kata Abu Ahmad kepada Mondoweiss.
Rumah Abu Ahmad kini berada di balik Garis Kuning, garis yang membelah Jalur Gaza dan secara bertahap diperluas oleh militer Israel untuk mencakup wilayah-wilayah yang berada di bawah kendalinya.
Hampir dua bulan sejak gencatan senjata berlaku, berbagai konferensi internasional mengenai rekonstruksi Gaza serta janji-janji pembangunan kembali belum menghasilkan dampak berarti. Menurut perkiraan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sebanyak 25 rumah sakit tidak lagi berfungsi, hampir 70 persen unit perumahan rusak sebagian atau hancur total, 85 persen fasilitas air dan sanitasi mengalami kerusakan, serta 95 persen sekolah rata dengan tanah.
Di tengah kondisi tersebut, bantuan kemanusiaan dan material rekonstruksi masuk ke Gaza jauh di bawah jumlah yang disepakati dalam perjanjian gencatan senjata. Penduduk Palestina di Gaza bahkan menggambarkan situasi kemanusiaan saat ini sebagai “bentuk genosida baru”.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat membayangkan Gaza diubah menjadi “Riviera Timur Tengah”, sementara rencana “perdamaian” 20 poin yang ia ajukan mencakup pengelolaan Gaza oleh Dewan Perdamaian asing, yang dinilai menyerupai bentuk pemerintahan kolonial.
Di sisi lain, Mesir berencana menjadi tuan rumah konferensi internasional untuk rekonstruksi Gaza dengan estimasi kebutuhan dana sebesar 70 miliar dolar AS atau sekitar 1.169 triliun rupiah. Qatar dan sejumlah negara lain juga menyatakan dukungan. Namun di lapangan, belum terlihat upaya rekonstruksi yang nyata, sehingga kesenjangan antara pernyataan politik dan realitas kehidupan warga semakin melebar.
Menjelang berakhirnya fase pertama gencatan senjata dan belum jelasnya fase kedua, rekonstruksi masih sebatas janji tanpa mekanisme maupun jadwal yang pasti. Kondisi ini membuat penduduk Palestina di Gaza nyaris tidak memiliki pilihan selain bergerak secara mandiri.
Upaya Bangkit dari Reruntuhan
Di tengah ketiadaan upaya rekonstruksi yang berarti, Pemerintah Kota Gaza meluncurkan operasi “Kami Akan Membangunnya Kembali” pada 15 November, bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Palestina, bekerja sama dengan Jaringan Organisasi Sipil, Kamar Dagang Gaza, serta sejumlah kelompok relawan pemuda.
“Operasi ini merupakan bagian dari rencana besar untuk membangun kembali Gaza melalui pembersihan lingkungan, penanaman, pengecatan, pembukaan kembali jalan, dan perbaikan rumah,” ujar Kepala Hubungan Masyarakat dan Media Pemerintah Kota Gaza, Ahmed Al-Dremly. “Kami mendukung setiap upaya yang bertujuan membantu Gaza bangkit kembali dari puing-puing.”
Ia menambahkan, operasi tersebut juga bertujuan menyatukan berbagai inisiatif pemuda dalam satu wadah. “Kami ingin menghimpun energi dan keterampilan generasi muda, menanamkan kembali harapan di hati masyarakat, serta membuktikan bahwa Gaza masih hidup,” katanya.
operasi dimulai di Jalan Omar al-Mokhtar, salah satu ruas utama Kota Gaza. Puluhan relawan muda membersihkan jalan dengan peralatan seadanya seperti sapu, pengki, dan sekop, untuk menyingkirkan puing-puing serta memulihkan rasa keteraturan dan normalitas di ruang publik.
Al-Dremly mengungkapkan sekitar 85 persen alat berat dan menengah milik pemerintah kota rusak akibat perang. Meski demikian, ia menegaskan keterbatasan alat tidak akan menghentikan inisiatif tersebut. “Gaza akan bangkit melalui semangat rakyatnya dan kecintaan mereka pada kehidupan dan tanah air,” ujarnya.
Dalam jangka pendek, operasi ini akan digelar setiap pekan dan berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain di seluruh kota.
Inisiatif Penduduk Palestina dan Diaspora
Salah satu mitra operasi tersebut adalah Sameer Project, yang didirikan oleh enam penduduk Palestina di Gaza yang tinggal di luar negeri.
“Tinggal di luar negeri bukan berarti duduk diam menunggu dunia memutuskan kapan akan membantu rakyat Gaza,” kata Hala Sabbah, perwakilan proyek tersebut. “Kami sudah menunggu terlalu lama dan merasa harus bertindak.”
Ia menegaskan Gaza membutuhkan bantuan segera. “Sebagai organisasi masyarakat sipil, bahkan upaya sederhana pun sangat berarti. Tidak ada yang lebih memahami penderitaan Gaza selain rakyatnya sendiri,” ujarnya.
Diluncurkan pada April 2024, Sameer Project terus menyesuaikan kegiatannya dengan kebutuhan di lapangan. Saat terjadi kelaparan, fokus diberikan pada bantuan pangan. Ketika pengungsian massal terjadi, mereka menyediakan tenda dan tempat tinggal sementara. Setelah gencatan senjata, prioritas bergeser ke pembukaan jalan yang tertutup puing serta penyelamatan rumah-rumah yang rusak.
Dua pekan setelah gencatan senjata dimulai, proyek ini meluncurkan operasi “Bergandeng Tangan, Mari Bangun Kembali”, merespons ketidakmampuan warga kembali ke rumah mereka di Gaza utara akibat jalan dan akses yang tertimbun reruntuhan.
Dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang tersedia—mulai dari sekop, gerobak dorong, sejumlah kecil buldoser, hingga tenaga relawan—setidaknya 100 orang dikerahkan, termasuk insinyur, jurnalis, dan mahasiswa. Hingga kini, tiga ruas jalan utama di Kota Gaza, Khan Younis, dan kawasan Abu Eskandar berhasil dibersihkan dan dibuka kembali.
Prioritas diberikan pada jalan yang memungkinkan akses truk air dan layanan dasar lainnya. “Air adalah kebutuhan mendasar bagi semua orang di Gaza,” kata Sabbah. “Membuka satu jalan saja sudah dapat meringankan penderitaan sehari-hari warga.”
Meski demikian, ia mengakui upaya tersebut baru menjawab sebagian kecil dari kebutuhan yang ada. “Ini seperti setetes air di lautan. Tingkat kehancuran jauh di luar batas kewajaran,” ujarnya.
Program Pembangunan PBB memperkirakan rekonstruksi Gaza memerlukan biaya sekitar 40 miliar dolar AS, menghasilkan 40 juta ton puing, dan bisa memakan waktu hingga 80 tahun jika pembatasan yang ada tetap diberlakukan.
Kekurangan alat berat menjadi kendala utama. Banyak alat berat hancur selama perang, sementara bahan bakar juga sangat terbatas. Sejak gencatan senjata, hanya 5–6 truk bahan bakar per hari yang diizinkan masuk, jauh di bawah kebutuhan aktual.
Selain membuka jalan, proyek ini juga berupaya menyelamatkan rumah-rumah yang rusak sebagian agar dapat dijadikan hunian sementara. Hingga kini, sedikitnya 62 rumah berhasil dibersihkan dan diperbaiki secara terbatas agar lebih aman dibandingkan tenda.
Pendanaan Terbatas, Dampak Diperluas
Di tengah tersendatnya pendanaan internasional, berbagai inisiatif akar rumput di Gaza kini hampir sepenuhnya bergantung pada penggalangan dana daring, jaringan informal, dan kepercayaan komunitas. Bagi Sameer Project, platform media sosial—terutama Instagram, X, dan TikTok—menjadi saluran utama untuk menghimpun donasi sekaligus menjangkau para pendukung di luar Gaza.
Meski cakupan kerja mereka luas dan berdampak langsung pada kehidupan warga, penggalangan dana kian sulit dilakukan. Hala Sabbah mengatakan kepada Mondoweiss bahwa jumlah donasi merosot tajam setelah gencatan senjata, karena banyak pihak di luar Gaza mengira perang telah berakhir.
“Donasi turun hampir setengahnya,” ujar Sabbah. “Karena itu kami mulai membagikan konten yang lebih mendesak—gambaran perjuangan sehari-hari, tenda-tenda yang terendam air, dan warga yang berupaya bertahan hidup.”
Ia menjelaskan bahwa minimnya liputan media mengenai realitas Gaza pascagencatan senjata semakin menyulitkan upaya tersebut. “Kami berkali-kali diberi tahu bahwa apa yang kami bagikan tidak banyak terlihat di media sosial,” katanya, merujuk pada rendahnya visibilitas pengungsian yang berlanjut serta memburuknya kondisi hidup warga.
Menurut Sabbah, ketidaknampakan itu kerap berujung pada keraguan. “Sebagian orang bahkan mempertanyakan transparansi kami,” ujarnya. “Hal itu berdampak langsung pada donasi dan memperlambat pekerjaan kami, terutama menjelang badai terakhir.”
Skeptisisme tersebut, lanjut Sabbah, berakar dari anggapan luas di luar Gaza bahwa perang telah usai. “Orang tidak selalu percaya pada apa yang kami tampilkan—keluarga yang tinggal di tenda robek atau anak-anak yang mencari makanan di jalan,” katanya. Namun, setelah foto-foto kamp pengungsian yang terendam air beredar saat badai melanda, donasi kembali meningkat meski terbatas. “Orang-orang mulai kembali percaya pada apa yang kami tunjukkan,” ujarnya.
Meski demikian, Sabbah menegaskan bahwa perang belum benar-benar berakhir, melainkan berlanjut dalam bentuk lain. “Penderitaan tidak berhenti,” katanya. “Hanya berubah wujud.”
Ia kembali menyerukan dukungan mendesak. “Meski penyeberangan ditutup, pembatasan Israel masih berlaku, dan peralatan sangat terbatas, kami tidak bisa tinggal diam,” ujarnya. “Kami harus terus berupaya membantu Gaza bangkit kembali.”
“Gaza tidak akan kembali seperti semula dalam waktu dekat,” tambahnya, “namun kami masih bisa membantu warga mendapatkan kembali sedikit martabat dan stabilitas.”
Selain Sameer Project, inisiatif lain yang dipimpin kaum muda menghadapi tantangan serupa. Salah satunya adalah Samir Foundation yang dipimpin Izzeddin Lulu, mahasiswa kedokteran asal Gaza yang kehilangan 20 anggota keluarganya, termasuk ayahnya—yang namanya diabadikan sebagai nama yayasan—serta kakak laki-lakinya beserta keluarga.
Yayasan tersebut bergantung pada kampanye daring, kemitraan dengan sponsor, dan kerja sama dengan organisasi amal. Lulu aktif di media sosial dengan membagikan pengalaman pribadinya serta misi kemanusiaan yayasan. Di samping itu, jaringan duta di sejumlah negara menggelar kampanye kesadaran dan penggalangan dana di universitas serta forum internasional.
Melalui upaya tersebut, yayasan ini menjalin kemitraan dengan donor regional dan internasional untuk mendukung berbagai program, mulai dari beasiswa dan bantuan keuangan bagi mahasiswa kedokteran hingga investasi di bidang pendidikan dan infrastruktur kesehatan.
Pada Juni 2025, Samir Foundation meresmikan pusat medis pertama di Gaza yang sejenis, bekerja sama dengan Human Smile, organisasi kemanusiaan berbasis di Belgia. Fasilitas ini menyediakan listrik tanpa henti, internet berkecepatan tinggi, serta lingkungan belajar yang stabil—memberikan alternatif bagi mahasiswa yang sebelumnya harus belajar dengan penerangan seadanya di tempat pengungsian yang padat.
Di tengah lambannya respons global dan stagnasi rekonstruksi Gaza, inisiatif yang dipimpin pemuda dan komunitas akar rumput terus mengubah ketangguhan menjadi aksi nyata. Dengan peralatan terbatas dan sumber daya yang kian menyusut, warga tetap membangun—bukan karena kondisi memungkinkan, melainkan karena bertahan hidup tidak memberi mereka pilihan lain.
(T.FJ/S: Mondoweiss)