Pemimpin Gereja Palestina Tolak Perintah Israel Tinggalkan Kota Gaza

Latin Patriarch of Jerusalem Archbishop Pierbattista Pizzaballa and Greek Orthodox Patriarch of Jerusalem, Theophilos III walk to visit the Greek Orthodox Saint Porphyrius Church, in Gaza City July 18, 2025. REUTERS/Dawoud Abu Alkas

Gaza, NPC – Pemimpin Gereja Patriarkat Latin dan Ortodoks Yunani Yerusalem dalam pernyataan bersama pada Selasa (26/08/2025), menyatakan bahwa para rohaniwan dan biarawati di Kota Gaza tidak akan meninggalkan kompleks gereja mereka, meskipun ada perintah evakuasi dari militer Israel dan meningkatnya intensitas serangan udara.

Patriark Latin Kardinal Pierbattista Pizzaballa dan Patriark Ortodoks Yunani Theophilos III menyampaikan bahwa kompleks Gereja Katolik Keluarga Kudus (Holy Family Church) dan Gereja Ortodoks Yunani St. Porphyrius di Kota Gaza kini menjadi tempat perlindungan bagi ratusan penduduk sipil Palestina sipil, termasuk lansia, perempuan, anak-anak, dan penyandang disabilitas.

“Seperti warga Gaza lainnya, para pengungsi yang tinggal di fasilitas gereja harus memutuskan menurut suara hati mereka apa yang akan mereka lakukan. Di antara mereka yang berlindung di dalam kompleks tersebut, banyak yang dalam kondisi lemah dan kekurangan gizi akibat penderitaan berbulan-bulan terakhir,” demikian pernyataan mereka.

Kedua pemimpin gereja tersebut menegaskan, “Para rohaniwan dan biarawati telah memutuskan untuk tetap tinggal dan terus merawat siapa pun yang berada di dalam kompleks gereja”.

Patriarkat mengecam serangan Israel, menyebut perintah evakuasi sebagai “tidak ubahnya vonis mati” bagi warga sipil yang telah melemah dan menderita kekurangan gizi setelah berbulan-bulan hidup dalam kepungan.

“Tidak akan ada masa depan yang dibangun di atas penawanan, pengusiran rakyat Palestina, atau balas dendam,” bunyi pernyataan tersebut.

Para pemimpin gereja juga mengutip peringatan Paus Leo XIV bahwa setiap bangsa, sekecil atau selemah apa pun, harus dihormati, terutama hak untuk hidup di tanah mereka sendiri.

“Tidak seorang pun boleh dipaksa ke pengasingan,” sebut pernyataan tersebut.

Kedua pemimpin gereja tersebut menambahkan bahwa pernyataan pemerintah Israel yang menyebut “gerbang neraka akan terbuka” kini telah menjadi kenyataan yang “tragis” seiring terus berlangsungnya serangan udara di seluruh Kota Gaza.

Pernyataan ini muncul setelah laporan bahwa perintah evakuasi telah dikeluarkan untuk beberapa wilayah menjelang serangan darat Israel ke Kota Gaza. Berdasarkan pengalaman serangan sebelumnya dan dengan serangan yang telah berlangsung, patriarkat menyatakan bahwa ini bukan lagi ancaman, melainkan “kenyataan yang sedang dijalankan”.

Gereja-gereja di Gaza telah beberapa kali menjadi sasaran serangan Israel. Pada 17 Juli lalu, sebuah serangan Israel menghantam kompleks Gereja Katolik Holy Family di Kota Gaza, membunuh tiga penduduk sipil Palestina yang mengungsi dan melukai sedikitnya 10 orang lainnya, termasuk pastor paroki Gabriel Romanelli. Holy Family merupakan satu-satunya paroki Katolik di Jalur Gaza.

Patriarkat Latin Yerusalem mengutuk serangan tersebut sebagai “tampaknya serangan langsung dari militer Israel,” dan menegaskan bahwa tidak ada alasan yang dapat membenarkan penargetan warga sipil di tempat perlindungan.

Pada Oktober 2023, Gereja Ortodoks Yunani St. Porphyrius di Kota Gaza yang merupakan salah satu gereja tertua di dunia, juga menjadi sasaran serangan udara Israel yang menghantam salah satu bangunan di dalam kompleksnya, membunuh sedikitnya 17 umat Kristiani, termasuk 10 anggota dari satu keluarga.

Komunitas Kristiani di Gaza, yang sebelum perang berjumlah sekitar 1.000 orang, telah mengalami kerugian besar baik dalam hal jumlah penduduk maupun infrastruktur keagamaan selama hampir dua tahun terakhir. Menurut pejabat Palestina, sekitar tiga persen dari populasi Kristiani di Gaza telah dibunuh Israel.

(T.FJ/S: The Cradle)

 

You might also like