PBB: Sistem Distribusi Bantuan AS-Israel di Gaza Adalah Kejahatan Perang

Gaza, NPC – Kepala badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini, sebagaimana dilansir MEE, pada Rabu (18/06/2025), mengutuk keras sistem distribusi bantuan yang didukung oleh Amerika Serikat dan Israel di Gaza. Ia menyebut sistem ini “mematikan” dan menyengsarakan lebih dari dua juta orang yang kelaparan di wilayah yang terkepung tersebut.

Dalam sebuah unggahan di media sosial X (sebelumnya Twitter), Lazzarini mengatakan bahwa “nyawa penduduk Palestina telah sangat diremehkan”, karena ratusan orang dibunuh saat mencoba mengambil bantuan di pos distribusi.

“Sudah menjadi hal biasa menembaki dan membunuh orang-orang yang putus asa dan kelaparan saat mereka berusaha mendapatkan sedikit makanan dari perusahaan yang dijaga oleh tentara bayaran,” kata Lazzarini.

PBB dan organisasi bantuan internasional juga menuduh Gaza Humanitarian Foundation (GHF), lembaga bantuan yang didukung AS dan Israel dan memperkerjakan petugas keamanan serta logistik dari perusahaan swasta AS, telah mempersenjatai misi kemanusiaan.

“Sistem yang lemah, kuno, dan mematikan. Ini menyakiti rakyat dengan dalih ‘bantuan kemanusiaan’, yang sebenarnya penuh dengan kebohongan, tipu daya, dan kejam,” sebut Lazzarini.

Ia menegaskan bahwa mengundang orang-orang kelaparan ke lokasi yang membahayakan nyawa mereka adalah sebuah kejahatan perang.

“Siapa pun yang bertanggung jawab atas sistem ini harus diadili. Ini adalah aib dan noda bagi hati nurani kita bersama,” ujarnya.

Lazzarini juga menyerukan agar prinsip-prinsip kemanusiaan dikembalikan dan para ahli kemanusiaan diberi akses ke Jalur Gaza untuk membantu para korban.

Rakyat Palestina Kelaparan, Lokasi Bantuan Justru Menjadi Tempat Paling Berbahaya

Pemerintah Israel dituduh oleh berbagai kelompok hak asasi manusia menggunakan kelaparan sebagai senjata perang, di mana banyak penduduk sipil, termasuk anak-anak, meninggal karena komplikasi akibat kekurangan makanan. Namun bagi penduduk Palestina di Gaza, lokasi distribusi bantuan justru lebih berbahaya daripada ancaman kelaparan itu sendiri.

Menurut laporan Al Jazeera, setidaknya 47 penduduk Palestina dibunuh Israel pada hari Rabu pagi, termasuk 14 pekerja bantuan.

Sejak GHF mulai beroperasi tiga minggu lalu, koresponden MEE di Gaza melaporkan bahwa setidaknya 420 penduduk Palestina dibunuh dan lebih dari 3.000 orang terluka akibat tembakan tentara Israel di tiga lokasi distribusi bantuan di wilayah tengah dan selatan Gaza.

“Kami datang untuk mengambil makanan, tapi tidak pernah tahu apakah bisa kembali hidup-hidup,” kata seorang penduduk Palestina di Gaza, yang menggambarkan lokasi bantuan sebagai tempat eksekusi.

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mencatat bahwa lebih dari 140 orang dibunuh Israel dalam 24 jam terakhir, sebagian besar di lokasi distribusi bantuan. Total korban meninggal sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai lebih dari 55.630 jiwa.

Krisis Bahan Pokok dan Bahan Bakar Semakin Parah

Seiring bertambahnya korban di lokasi bantuan, kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza terus memburuk. Sekjen PBB António Guterres mengutuk pembunuhan penduduk sipil yang sedang mencari bantuan di Gaza, dan menyebut tindakan tersebut “tidak bisa diterima”.

Juru bicara PBB, Farhan Haq, mengatakan bahwa Guterres menyerukan penyelidikan independen segera dan pertanggungjawaban atas tragedi ini.

Haq juga menegaskan bahwa Israel memiliki kewajiban hukum internasional untuk memastikan bantuan kemanusiaan bisa masuk dengan layak.

UNRWA melaporkan bahwa sektor kesehatan di Gaza berada dalam kondisi kritis, dengan 45% pasokan penting sudah habis.

“Sekitar seperempat persediaan lagi bisa habis dalam enam minggu ke depan,” kata UNRWA.

Obat-obatan penting dan stok darah juga hampir habis total. Sementara itu, tentara Israel melarang organisasi internasional memberikan bahan bakar ke rumah sakit, dengan alasan lokasi tersebut berada di zona merah yang dianggap berbahaya.

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza memperingatkan bahwa rumah sakit bisa berhenti beroperasi dalam tiga hari ke depan karena kehabisan bahan bakar untuk generator listrik.

Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, juga mengatakan bahwa selama lebih dari 100 hari tidak ada bahan bakar masuk ke Gaza, dan upaya mengambil cadangan dari zona merah terus ditolak oleh militer Israel.

“Ini mendorong sistem kesehatan menuju kehancuran total,” katanya.

Gaza Terputus dari Dunia Luar: Komunikasi Lumpuh Total

Badan Pengatur Telekomunikasi di Gaza menyatakan bahwa pemadaman total komunikasi terjadi lagi akibat kerusakan pada jalur kabel utama, yang disebabkan oleh serangan Israel terhadap infrastruktur internet dan jaringan telepon.

“Saat ini tidak ada layanan komunikasi di wilayah selatan dan tengah Gaza,” kata Laith Daraghmeh, Direktur Eksekutif badan tersebut.

Pemerintah setempat menyebut ini sebagai pemadaman total ke-10, dan menyatakan bahwa ini adalah kejahatan yang disengaja untuk menyembunyikan kebenaran dan memperburuk bencana kemanusiaan.

“Gangguan komunikasi dan internet yang luas dan berulang ini bukan kesalahan teknis biasa, melainkan tindakan yang disengaja untuk memutus hubungan Gaza dengan dunia luar,” kata kantor media pemerintah.

(T.FJ/S: MEE)

 

You might also like