Gaza, NPC – Kantor Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR), pada Jumat (01/08/2025), melaporkan bahwa lebih dari 1.300 penduduk sipil Palestina meninggal dunia saat mencari bantuan kemanusiaan di Gaza sejak akhir Mei 2025, sebagian besar akibat serangan tentara Israel.
“Sejak 27 Mei, sedikitnya 1.373 penduduk Palestina meninggal saat mencari makanan: 859 di sekitar lokasi Gaza Humanitarian Foundation (GHF) dan 514 di sepanjang rute konvoi makanan,” kata pernyataan resmi PBB pada 1 Agustus.
“Sebagian besar pembunuhan ini dilakukan oleh militer Israel,” tambah pernyataan tersebut.
GHF adalah program distribusi bantuan yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 27 Mei 2025. Program ini melewati PBB dan organisasi kemanusiaan internasional, dan sejak awal menuai kritik tajam karena dianggap tidak aman dan tidak transparan.
Beberapa lokasi distribusi GHF bahkan dijuluki “jebakan maut”, karena sering menjadi tempat jatuhnya korban jiwa, termasuk penembakan terhadap penduduk sipil Palestina yang sedang mengantre bantuan.
Kekerasan di Lokasi Bantuan
Pada hari Jumat lalu, 11 penduduk Palestina dibunuh tantara Israel dalam serangan udara dan menggunakan tembakan, termasuk dua pencari bantuan yang sedang menunggu distribusi. Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mencatat bahwa jumlah pencari bantuan yang syahid sejak GHF dimulai telah mencapai 1.330 orang.
PBB dan organisasi HAM menyebutkan bahwa tentara Israel secara konsisten menyerang konvoi dan kerumunan orang yang sedang menunggu makanan.
GHF dikritik karena tidak melibatkan organisasi kemanusiaan yang independen, seperti PBB dan LSM internasional, distribusi bantuannya tidak mencukupi dan berbahaya, blokade Israel membuat bantuan tidak bisa masuk secara maksimal. Menurut laporan, tentara bayaran AS yang bekerja di GHF juga terlibat dalam kekerasan terhadap penduduk sipil Palestina.
Utusan AS, Steve Witkoff, bersama Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, mengunjungi lokasi GHF di Rafah pekan ini. Lokasi tersebut telah dihancurkan oleh militer Israel, meskipun masih digunakan untuk distribusi bantuan.
Gedung Putih menyatakan bahwa kunjungan tersebut bertujuan untuk meninjau lokasi distribusi saat ini, mengamankan rencana distribusi makanan yang lebih baik, dan bertemu langsung dengan penduduk Palestina di Gaza. Namun, banyak pihak menilai kunjungan itu tidak menyelesaikan masalah inti, yaitu blokade bantuan kemanusiaan ke Gaza dan pembunuhan yang terus dilakukan Israel.
Sebanyak 92 anggota Kongres AS dari Partai Demokrat telah meminta Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, untuk melakukan penyelidikan resmi terhadap GHF. Mereka mengkhawatirkan sumber pendanaan GHF, cara operasionalnya di lapangan, dan dugaan keterlibatannya dalam pembantaian penduduk sipil di lokasi distribusi bantuan.
(T.FJ/S: The Cradle)