Pasukan Israel di Ambang Kehancuran Mental: Akibat Perang atau Karma?

Jalur Gaza, NPC – Pasukan Pertahanan Israel (IDF) kini tengah menghadapi gelombang krisis kesehatan mental yang semakin parah. Siapa sangka? Tentara yang selama ini gemar membombardir permukiman sipil dan menghancurkan infrastruktur Gaza  ternyata juga harus berhadapan dengan bayang-bayang kehancuran mental mereka sendiri.

Laporan terbaru dari Times of Israel mengungkapkan fakta mencengangkan: Jumlah tentara Israel yang bunuh diri telah mencapai rekor tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Sejak serangan brutal Israel ke Gaza pada 7 Oktober 2023, sedikitnya 28 tentara Israel mengakhiri hidup mereka sendiri. Jika dihitung dalam dua tahun terakhir, totalnya mencapai 38 kasus.

Meski begitu gagah menekan tombol misil untuk membombardir rumah-rumah penduduk Palestina, mereka tidak cukup kuat untuk menanggung beban mental akibat tindakan mereka sendiri.

Dampak Perang: Ketika Penjajah Tak Tahan dengan Akibat Ulahnya Sendiri

Data IDF yang dirilis pada 2 Januari 2025 mengungkapkan bahwa 21 tentara meninggal akibat bunuh diri pada tahun 2024, meningkat dari 17 kasus pada 2023. Dari jumlah itu, 10 kasus terjadi sebelum serangan & Oktober 2023. Ini membuktikan bahwa bahkan sebelum perang, IDF sudah menghadapi persoalan moral dan psikologis yang serius.

Sementara itu, angka kematian tentara Israel di medan perang juga tidak kalah tragis: 891 orang tewas, lebih dari 5.569 lainnya terluka. Namun, angka ini masih belum sebanding dengan penderitaan rakyat Palestina yang menjadi korban dari kebrutalan mereka. Data terbaru menunjukkan lebih dari 45.500 warga Gaza telah terbunuh, termasuk ribuan perempuan dan anak-anak. Jutaan lainnya kini hidup dalam kelaparan, kehancuran, dan trauma berkepanjangan akibat serangan yang tak ada habisnya.

Ironisnya, banyak dari tentara Israel yang bunuh diri berasal dari kalangan tentara cadangan, yaitu mereka yang sebelumnya telah kembali ke kehidupan sipil, namun dipanggil lagi untuk berperang di Gaza. Rupanya, setelah mengalami kehidupan normal, banyak dari mereka yang tidak tahan harus kembali menjadi “mesin pembunuh”.

Upaya IDF: Solusi Setengah Hati Tak Menyelamatkan Mental Pasukan

Dalam menghadapi gelombang bunuh diri ini, IDF meluncurkan berbagai program kesehatan mental, seperti layanan hotline 24/7 dan peningkatan jumlah petugas psikologis. Namun, efektivitasnya dipertanyakan, mengingat pada 2021 IDF pernah mengklaim berhasil menurunkan angka bunuh diri hingga 75%. Kini, lonjakan kasus membuktikan sebaliknya. Apakah propaganda itu kini memakan mereka sendiri?

Brigadir Jenderal Amir Vadmani dari departemen sumber daya manusia IDF menyatakan bahwa setiap nyawa tentara yang hilang adalah tragedi. Pernyataan ini tentu menarik, mengapa nyawa tentara mereka begitu berharga sementara puluhan ribu nyawa warga Palestina yang mereka bantai tidak dianggap berarti?

Kepercayaan publik terhadap transparansi IDF dalam menangani kasus bunuh diri juga menurun. Survei menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan publik terhadap laporan IDF terkait bunuh diri turun dari 46% pada 2020 menjadi hanya 38% pada 2021. Bahkan, di kalangan anak muda Israel sendiri, skeptisisme terhadap militer terus meningkat.

Di luar konsekuensi langsung terhadap tentaranya, lonjakan bunuh diri ini mencerminkan kegagalan fundamental Israel dalam menangani dampak perang yang mereka mulai sendiri. Keluarga tentara yang bunuh diri kini semakin vokal dalam menuntut transparansi dan reformasi.

Sementara itu, penderitaan rakyat Palestina terus meningkat. Lebih dari 45.500 orang telah gugur, ribuan bangunan hancur, sistem kesehatan di Gaza lumpuh total, dan jutaan orang terjebak dalam kondisi yang tidak layak huni. Ironisnya, sementara IDF terus menambah daftar panjang korban jiwa di Palestina, tentaranya sendiri tak sanggup menanggung beban moral dari kebrutalan yang mereka lakukan.

Jika IDF tidak segera mengambil langkah konkret untuk melindungi kesejahteraan mental pasukannya, lonjakan bunuh diri ini bisa menjadi mimpi buruk yang lebih besar di masa depan. Dunia terus menyaksikan dampak mengerikan dari perang ini, tidak hanya terhadap rakyat Palestina yang kehilangan tanah air dan nyawa, tetapi juga terhadap Israel sendiri yang semakin tenggelam dalam jurang kehancuran moral dan psikologis.

Pada akhirnya, pertanyaan besar yang kini muncul adalah: berapa banyak lagi nyawa yang harus dikorbankan sebelum Israel menyadari bahwa kebijakan militer mereka adalah resep bagi kehancuran mereka sendiri?

(T.RS/S:TheTimesofIsrael)

 

You might also like