Pasca Penunjukan Yahya Sinwar, IDF Siaga Satu, Analis: Dia Orang Paling Bahaya Bagi Israel

Jalur Gaza, NPC – Penunjukan Yahya Sinwar sebagai Kepala Biro Politik Hamas menggantikan Ismail Haniyeh yang gugur dalam serangan di Teheran minggu lalu, membawa berbagai spekulasi dan kekhawatiran di kalangan pejabat Israel.

Avi Issacharoff, analis Timur Tengah dari Times of Israel, menyebut bahwa Sinwar sebagai “orang paling berbahaya” yang bisa memimpin Hamas, mengingat perannya dalam merencanakan serangan besar-besaran pada 7 Oktober tahun lalu yang merugikan Israel secara signifikan.

Lika-liku Kehidupan di Penjara

Yahya Sinwar tidak asing dengan kehidupan penjara. Dia pertama kali ditangkap pada tahun 1982 saat berusia 20 tahun karena aktivitasnya sebagai mahasiswa yang secara lantang menentang pendudukan Israel.

Selama beberapa tahun berikutnya, Sinwar bolak-balik keluar masuk penjara, seringkali tanpa melalui proses pengadilan. Puncaknya, pada tahun 1988, dia dijatuhi hukuman empat kali seumur hidup karena perannya dalam berbagai serangan terhadap Israel, termasuk penculikan dan pembunuhan tentara Israel serta pembunuhan warga Palestina yang dicurigai bekerja sama dengan Israel.

Yahya Al-Sinwar menginvestasikan masa penjara 23 tahunnya dengan membaca, belajar, dan menulis, di mana dia belajar bahasa Ibrani dan mendalami mentalitas Israel. Dia menulis sejumlah buku dan terjemahan di bidang politik, keamanan, dan sastra. Di antara karyanya yang paling menonjol adalah: novel berjudul “Clove Thorns” terbitan tahun 2004, yang menceritakan kisah perjuangan Palestina dari tahun 1967 hingga Intifada Al-Aqsa.

Selama di penjara, Sinwar memimpin para tahanan Hamas dalam berbagai aksi mogok makan untuk melawan kebijakan penjara Israel. Dia juga mengalami berbagai penyiksaan, termasuk masa isolasi yang panjang, yang menyebabkan masalah kesehatan serius. Sinwar bahkan mencoba melarikan diri dua kali, namun upayanya selalu digagalkan pada saat-saat terakhir.

Yahya Sinwar akhirnya dibebaskan pada tahun 2011, dan merupakan salah satu dari lebih dari seribu tahanan yang dibebaskan dengan imbalan tentara Israel Gilad Shalit.

Perdana Menteri Israel saat ini, Benjamin Netanyahu sendiri adalah pihak yang menyetujui kesepakatan pembebasan Sinwar dari penjara. Selama tahun-tahun berikutnya, setelah Sinwar mengemban tugas dan berperan penting dalam kepemimpinan Hamas.

Reaksi Israel dan Masa Depan Hamas

Israel menanggapi penunjukan ini dengan meningkatkan kewaspadaan di berbagai wilayah, termasuk Ashkelon dan Sderot, yang langsung mengeluarkan sirene peringatan setelah pengumuman tersebut.

Israel berpendapat bahwa kepemimpinan Sinwar akan memperkuat posisi Hamas dan meningkatkan ancaman terhadap keamanan Israel. Sinwar dianggap tokoh Hamas yang lebih berbahaya dari Ismail Haniye.

Hamas sendiri melihat penunjukan Sinwar sebagai langkah strategis untuk memperkuat perjuangan mereka. Sinwar, dengan latar belakang militernya yang kuat dan pengalaman panjang di medan pertempuran serta penjara, diharapkan mampu memimpin Hamas melewati masa-masa sulit ini.

Penunjukan Yahya Sinwar sebagai Ketua Biro Politik Hamas adalah simbol keberlanjutan dan keteguhan Hamas dalam menghadapi tekanan dari Israel dan komunitas internasional. Dengan pemimpin baru yang tangguh, Hamas bertekad untuk terus melanjutkan perjuangannya demi pembebasan Palestina.

(T.RS/S:Maannews)

 

You might also like