Gaza, NPC – Perdana Menteri Palestina, Mohammad Mustafa, pada Rabu, secara resmi menyatakan Gaza sebagai “wilayah kelaparan”, di tengah krisis pangan yang semakin parah dan kekurangan obat-obatan yang mendesak. Situasi ini memaksa sejumlah organisasi kemanusiaan, termasuk World Central Kitchen, menghentikan operasi mereka.
Mustafa menyerukan kepada seluruh sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa agar segera mengaktifkan seluruh mekanismenya dan memperlakukan Gaza sebagai wilayah yang mengalami kelaparan, yang berarti harus ada intervensi internasional yang mendesak serta penghapusan segera atas segala pembatasan yang menghalangi bantuan kemanusiaan, sebagaimana diberitakan oleh Kantor Berita Palestina, WAFA.
Ia menegaskan, “Berdasarkan standar internasional yang digunakan dalam Klasifikasi Terpadu Fase Ketahanan Pangan (IPC), yang menetapkan bahwa kelaparan terjadi ketika sebagian besar populasi mengalami kelaparan akut, malnutrisi parah, dan angka kematian tinggi akibat kelaparan, maka 100% penduduk Gaza kini berada dalam kondisi kerawanan pangan akut.”
Mustafa menuding Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab sepenuhnya atas bencana kemanusiaan yang disengaja ini di Gaza. Ia mendesak Dewan Keamanan serta Sekretaris Jenderal PBB untuk melakukan intervensi segera dan mengaktifkan Pasal 99 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Ia juga meminta seluruh negara anggota PBB untuk segera bertindak berdasarkan kewajiban mereka dalam hukum humaniter internasional, serta mengakui keberadaan bencana ini dan menyatakan terjadinya kelaparan. Mustafa menyerukan dukungan politik dan logistik guna mengakhiri blokade, menjamin akses bantuan kemanusiaan, serta mengaktifkan mekanisme akuntabilitas dan pertanggungjawaban internasional.
Ia menutup dengan seruan memilukan: “Jangan biarkan anak-anak Gaza yang terkepung mati kelaparan. Jangan biarkan makanan dan air digunakan sebagai senjata perang.”
Kelaparan telah menyebar luas di Gaza sejak dimulainya perang Israel terhadap wilayah tersebut pada Oktober 2023. Namun, dalam dua bulan terakhir, Israel telah menghalangi masuknya makanan dan bantuan ke wilayah tersebut, yang mendorong IPC—sebuah inisiatif global terkemuka dalam memantau krisis pangan dunia—untuk mengeluarkan peringatan tentang “krisis kelaparan.”
World Central Kitchen: “Persediaan Kami Habis”
Dalam konteks ini, organisasi World Central Kitchen mengumumkan pada Rabu bahwa mereka telah menghentikan seluruh operasinya di Jalur Gaza setelah kehabisan persediaan, seraya menyatakan bahwa Israel telah menghalangi masuknya bantuan.
Organisasi berbasis di Amerika Serikat ini mengumumkan melalui platform X (dulu Twitter), bahwa setelah menyalurkan lebih dari 130 juta porsi makanan dan 26 juta roti dalam delapan belas bulan terakhir, mereka kini tidak lagi memiliki bahan atau logistik yang cukup untuk memasak ataupun memanggang roti di Gaza.
Organisasi tersebut menambahkan bahwa mereka “akan terus mendukung keluarga-keluarga Palestina dengan mendistribusikan air minum yang sangat dibutuhkan sejauh memungkinkan.” Namun, mereka menegaskan bahwa pendistribusian pangan yang vital tidak dapat dilanjutkan kembali kecuali Israel mengizinkan masuknya bantuan ke Gaza.
World Central Kitchen, yang didirikan oleh koki ternama José Andrés, menyatakan bahwa “truk-truk milik World Central Kitchen yang membawa makanan dan bahan bakar untuk memasak telah siap di perbatasan Gaza sejak awal Maret lalu.” Selain itu, disebutkan pula bahwa lebih banyak pasokan makanan dan peralatan telah disiapkan untuk dikirim dari Yordania dan Mesir menuju perbatasan.
Sementara itu, tekanan internasional terhadap Israel terus meningkat agar segera mencabut blokade terhadap bantuan kemanusiaan—blokade yang diberlakukan sejak Maret lalu, pasca runtuhnya kesepakatan gencatan senjata yang sempat menghentikan pertempuran selama dua bulan.