Netanyahu: Pemimpin Terburuk dalam Sejarah Israel, Apakah Ini Akhirnya?

Tel Aviv, NPC – Saat ledakan demi ledakan terus menghancurkan Gaza, dentuman yang lebih keras justru terdengar dari dalam negeri Israel sendiri. Bukan dari roket, tapi dari suara-suara lantang para penentang Benjamin Netanyahu, perdana menteri yang kini lebih sibuk menyelamatkan kursi empuknya ketimbang menyelamatkan bangsanya.

Militer Israel, yang selama ini jadi tameng kekuasaan Netanyahu, kini mulai goyah. Para jenderal tak lagi diam. Dalam laporan Haaretz, yang berjudul: “Israeli Army Warns It’s About to Hit the Walls of Reality in Gaza – Will Netanyahu Listen?”  yang dirilis (16/04/2025),  Kepala Staf Angkatan Darat IDF Letjen Herzi Halevi disebut sudah tak sabar menanti strategi politik pasca perang. Dia memperingatkan bahwa operasi di Gaza akan menabrak “tembok kenyataa”, sebuah cara halus untuk ungkapan: “Perdana Menteri, kita sedang tersesat.”

Perang Tak Lagi Soal Hamas, Tapi Soal Ego Penguasa

Pada 2 April lalu, Netanyahu memperkenalkan Koridor Morag, yang disebut zona keamanan yang dibentuk oleh Israel di Gaza selatan untuk memberi tekanan pada Hamas agar menyerahkan kendali Gaza dan membebaskan sandera-sandera yang masih ada., namun yang disebut “Koridor Morag” lebih tampak sebagai jurang yang memisahkan logika dan realitas. Di balik jargon keamanan, yang tampak adalah manuver panik seorang pemimpin yang takut sejarah membongkar boroknya.

Sudah lebih dari 1.5 tahun  perang berjalan, namun tak satupun sandera dibebaskan lewat kekuatan senjata. Semua pulang lewat negosiasi, sebuah fakta yang coba ditutupi Netanyahu dengan poster, pidato, dan penambahan senjata pembunuh.

Sementara itu, suara dari dalam kabinet mulai retak. Menteri Pertahanan Yoav Galant dikabarkan tidak lagi sejalan, meski belum berani terang-terangan menantang sang perdana menteri. Tapi aroma pemberontakan sudah tercium, bahkan oleh hidung politik yang paling tumpul.

Netanyahu mungkin masih merasa dirinya seperti Samson, tapi pilar-pilar kekuasaannya sudah mulai runtuh. Pasukan cadangan menolak dipanggil. Unit-unit elit diam-diam mogok. Mereka tidak ingin jadi alat politik seorang pemimpin yang lebih peduli pada polling elektoral dibanding nyawa tentaranya sendiri.

Sementara itu rakyat Israel tak lagi diam. Lebih dari seratus ribu warga memadati jalan-jalan Israel menuntut dihentikannya perang dan diadakannya pemilu baru. Sebagian membawa poster, sebagian lagi membawa luka—luka karena dikhianati oleh pemimpin yang seharusnya menjaga, bukan menjual masa depan demi menghindari jerat hukum.

Yoav Stern, analis politik Israel, menyebut Netanyahu sedang memperpanjang perang demi satu hal: bertahan dari jeruji besi sejarah. “Begitu perang ini usai, Netanyahu akan telanjang di hadapan hukum,” katanya.

Sayangnya Netanyahu menuduh para pengkritiknya sebagai “agen asing.” Ia bahkan mengancam tentara cadangan yang menolak perang. Mantan Kepala Staf Angkatan Darat Dan Halutz, yang kini jadi sasaran tuduhan penghasutan, justru membalikkan arah: “Inilah pemerintahan terburuk dalam sejarah Israel. Tuduhan Netanyahu lebih mirip teriakan orang yang takut kehilangan mikrofon, bukan jawaban negarawan”, tegasnya.

Jika Ini Akhirnya, Maka Ini Akhir yang Layak

Hari-hari Netanyahu tampaknya sudah mulai dihitung mundur, bukan oleh musuh eksternal, tapi oleh rakyatnya sendiri. Parlemen yang retak, tentara yang enggan, rakyat yang marah, dan dunia yang menyaksikan dengan mata telanjangan.

Jika sejarah nanti menuliskan bab akhir era Netanyahu, maka tidak akan dimulai dari terowongan Gaza atau rudal Hamas. Ia akan dimulai dari ruang rapat militer, parlemen, dan jalan-jalan Yerusalem, di mana suara yang dulu dibungkam kini menggema menuntut perubahan. Dan pada akhirnya, satu-satunya “tembok realitas” yang akan ditabrak Netanyahu adalah tembok pengadilan dan penghakiman sejarah.

(T.RS/S:Haaretz)

 

You might also like