Meski Dikecam karena Dukung Genosida Gaza, Annalena Baerbock Terpilih Jadi Presiden Sidang Umum PBB

New York, NPC – Mantan Menteri Luar Negeri Jerman, Annalena Baerbock, telah terpilih sebagai Presiden Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA), dalam pemungutan suara yang digelar pada Senin (02/06/2025) di New York, meskipun banyak kritik tajam terhadap dukungannya terhadap genosida Israel di Gaza.

Pemilihan presiden UNGA mengikuti rotasi wilayah setiap tahun. Tahun 2025 adalah giliran kelompok Eropa Barat dan Lainnya. Biasanya, negara-negara di kelompok ini sepakat mendukung satu calon bersama.

Baerbock maju tanpa lawan. Ia adalah satu-satunya kandidat dari kelompok regional Eropa Barat dan Lainnya (WEOG). Tidak ada negara lain yang mengajukan kandidat tandingan. Pemungutan suara memang dilakukan, tapi hasilnya lebih berupa formalitas administratif, bukan kontestasi ketat.

Masa jabatan Baerbock akan dimulai pada 9 September, menjelang debat umum PBB tahun 2025, dan akan berlangsung selama satu tahun.

Dengan ini, Baerbock menjadi perempuan kelima dalam sejarah 80 tahun UNGA yang menjabat posisi seremonial ini. Ia berjanji akan menjadi sosok “pemersatu” serta memodernisasi PBB, termasuk melalui reformasi yang menekankan inklusivitas dan efisiensi keuangan.

Menuai Kecaman karena Dukung Genosida Gaza

Meskipun demikian, pengangkatannya memicu reaksi keras. Para kritikus menyebut penunjukan Baerbock sebagai bentuk kemunafikan dalam sistem PBB, apalagi di tengah genosida yang masih berlangsung di Gaza.

Sejak Oktober 2023, Baerbock dikenal sebagai pendukung vokal terhadap serangan Israel di Gaza. Selama menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Jerman, ia berkali-kali membela tindakan militer Israel, bahkan menentang gugatan genosida yang diajukan oleh Afrika Selatan ke Mahkamah Internasional (ICJ) dan menyebut gugatan tersebut “tidak berdasar”.

Jerman di bawah kepemimpinannya juga tetap mengirim senjata dan bantuan militer ke Israel, meskipun jumlah korban sipil terus meningkat, sebagian besar di antaranya adalah perempuan dan anak-anak.

Mantan pejabat HAM PBB, Craig Mokhiber, mengkritik keras pemilihan Baerbock. Ia menulis:

“PBB lahir sebagai penolakan terhadap kejahatan perang Nazi Jerman. Hari ini, PBB memilih seorang penjahat perang asal Jerman untuk memimpin penurunan moralnya yang semakin cepat. Delapan puluh tahun kemudian, Reich membalas dendam melalui Annalena Baerbock sebagai Presiden UNGA, di tengah genosida yang ia dukung sepenuh hati.”

Ia mengakhiri pernyataan itu dengan tagar #Shame (Memalukan).

Pemerintah Jerman membela pengangkatan Baerbock. Juru bicara pemerintah, Steffen Hebestreit, menyebut Baerbock sebagai sosok yang “sangat berkualitas”. Sementara itu, pejabat lainnya, Sebastian Fischer, mengatakan bahwa kepemimpinan Baerbock akan meningkatkan pengaruh Jerman di PBB, terutama di Dewan Keamanan.

Baerbock sendiri menyatakan bahwa pemilihannya mencerminkan “tradisi para pendahulu” yang juga pernah memegang posisi diplomatik tinggi.

Sebagai Menteri Luar Negeri, Baerbock sempat mengusung konsep “kebijakan luar negeri feminis”. Namun, organisasi hak asasi manusia menilai kebijakan tersebut penuh standar ganda, karena di satu sisi berbicara soal hak asasi, tapi di sisi lain malah mendukung serangan terhadap perempuan dan anak-anak Palestina yang dilakukan Israel.

Kritik bahwa PBB kurang berpihak pada korban konflik yang sudah sejak lama ada, menjadi lebih nyata. Terpilihnya Baerbock dianggap sebagai simbol lemahnya akuntabilitas moral, terutama di tengah genosida yang masih berlangsung di Gaza.

Sejak 7 Oktober 2023, dengan dukungan Amerika Serikat dan negara Barat lainnya, secara keseluruhan, Israel telah membunuh lebih dari 54.000 penduduk Palestina di Jalur Gaza, termasuk setidaknya 16.000 anak-anak. Selain itu, lebih dari 10.000 orang dinyatakan hilang dan diduga meninggal, sementara hampir 120.000 lainnya mengalami luka-luka.

Bulan lalu, pihak berwenang di Gaza mengungkapkan bahwa 65 persen korban jiwa adalah perempuan, anak-anak, dan lansia. Selain itu, lebih dari 2.180 keluarga Palestina telah dimusnahkan oleh serangan Israel.

Hingga Mei 2025, lebih dari 100.000 ton bahan peledak telah dijatuhkan di Gaza, jumlah ini jauh melebihi total bom yang dijatuhkan di Dresden dan Hamburg dalam Operasi Gomorrah, serta London saat Blitz pada Perang Dunia II, yang seluruhnya berjumlah sekitar 32.300 ton.

(T.FJ/S: Quds News)

 

You might also like