Mereka Lahir untuk Mati: Israel Tidak Biarkan Anak-Anak Palestina Memiliki Masa Depan

Oleh Soumaya Ghannoushi 

Soumaya Ghannoushi adalah penulis dan analis politik Inggris-Tunisia yang mengkhususkan diri dalam isu-isu Timur Tengah. Tulisannya telah dimuat di berbagai media internasional ternama, termasuk The Guardian, The Independent, Corriere della Sera, Al Jazeera, dan Al Quds. Dikenal karena analisis tajamnya, ia kerap membahas dinamika politik dunia Arab, Islam, dan hubungan internasional. 

Jalur Gaza, NPC – Di Gaza, tak ada tempat yang benar-benar aman. Anak-anak berjalan diantara puing-puing, menggendong adik kecil mereka, menggantungkan hidup dari keluarga yang tersisa. Tubuh kecil mereka tidak berhenti bergerak,  mengungsi, mengubur, lalu mengungsi lagi. Bom memburu mereka, tank mengejar mereka di gang-gang sempit, sementara drone terus mengintai dari langit.

Anak-anak yang kehilangan segalanya kini berjalan dari satu makam ke makam lainnya, mencari orang tua yang sudah tiada. Sebagian dari mereka bahkan tak lagi memiliki nama, hanya nomor, ditulis di lengan kecil mereka agar jika mereka mati, setidaknya ada yang tahu siapa mereka.

Awal bulan ini, hampir 200 anak Palestina gugur dalam serangan udara Israel yang terkoordinasi. Mereka tidak terbunuh dalam pertempuran, bukan pula akibat kesalahan. Mereka tewas di rumah-rumah, di tenda-tenda pengungsian, dalam tidur mereka, terbungkus selimut.

Saat ditanya mengenai pembantaian itu, Duta Besar Israel untuk Inggris, Tzipi Hotovely, sama sekali tidak menunjukkan penyesalan. Tak ada permintaan maaf, tak ada ekspresi duka, bahkan tak ada penyebutan kata “anak-anak” Yang ada hanya retorika klise tentang Hamas, perisai manusia, dan “pertahanan diri.”

Di dalam Israel sendiri, responnya lebih dingin. Media-media Israel menggambarkan anak-anak yang terbunuh sebagai “teroris yang harus dieliminasi.” Nama dan usia mereka dihapus dari narasi. Menurut jurnalis Israel, Orly Noy, media di sana telah mengadopsi klaim bahwa “tidak ada orang tak bersalah di Gaza.”

Namun, dunia melihat semuanya. Sejak Oktober 2023, lebih dari 18.000 anak telah terbunuh di Gaza, dan banyak yang masih tertimbun di bawah reruntuhan. Ini bukan kecelakaan. Ini adalah strategi yang disengaja.

Selain bom, Israel juga menggunakan kelaparan sebagai senjata. Setahun yang lalu, UNICEF melaporkan bahwa di Gaza utara, sekitar satu dari tiga anak di bawah usia dua tahun mengalami malnutrisi akut.

Di Khan Younis, 28% anak-anak kelaparan, dan lebih dari 10% berada di ambang kematian akibat kekurangan gizi. Perut mereka membesar, sementara tubuh mereka menyusut. Kelaparan menggerogoti mereka, sementara para dunia bungkam dan menutup mata.

Ketika penyakit datang menggerogoti tubuh mereka, tak ada rumah sakit, tak ada obat-obatan, tak ada air bersih. Anak-anak Gaza tak hanya dibom, tetapi juga dibiarkan kelaparan, terinfeksi, dan tak diobati.

Menurut laporan The Lancet, di kamp-kamp pengungsian Gaza, hanya ada satu toilet untuk setiap 220 orang, dan satu kamar mandi untuk setiap 4.500 orang. Penyakit kini menjadi senjata baru, dengan ratusan ribu kasus infeksi saluran pernapasan akut dan diare pada anak-anak di bawah usia lima tahun.

Bagi yang selamat dari bom dan kelaparan, banyak yang akhirnya kehilangan anggota tubuh mereka. Setiap harinya, sekitar 10 anak di Gaza menjalani amputasi. Di ruang operasi yang gelap tanpa anestesi, para dokter memotong daging mereka dengan bantuan cahaya senter.

Mereka Diperlakukan sebagai Ancaman, Bukan Anak-anak

Di Tepi Barat, anak-anak Palestina menghadapi nasib lain: ditangkap dan dipenjara. Setiap tahunnya, antara 500 hingga 700 anak Palestina, beberapa bahkan berusia 12 tahun, ditahan oleh Israel dan diadili di pengadilan militer. Tuduhan yang paling umum? Melempar batu.

Mereka digelandang dari rumah di tengah malam, diborgol, ditutup matanya, dan dibawa pergi tanpa peringatan. Mereka diinterogasi tanpa didampingi pengacara atau orang tua. Mereka dipukuli, diancam, dan dipaksa menandatangani “pengakuan” dalam bahasa Ibrani, bahasa yang tak mereka mengerti.

Bulan lalu, seorang anak Palestina berusia 14 tahun, Muin Ghassan Fahed Salahat, menjadi tahanan administratif termuda. Ia dipenjara tanpa dakwaan atau pengadilan, berdasarkan “bukti rahasia” yang bahkan ia sendiri atau pengacaranya tak bisa lihat. Penahanannya bisa diperpanjang tanpa batas waktu.

Ini bukan pengecualian. Ini sudah menjadi pola. Sejak Intifada Kedua hingga 2015, lebih dari 13.000 anak Palestina telah ditangkap oleh pasukan Israel. Ribuan lainnya dibunuh.

Taktik ini bukan hal baru. Sejak Intifada Pertama (1987-1993), anak-anak Palestina sudah menjadi sasaran. Kala itu, Yitzhak Rabin, Menteri Pertahanan Israel, memberikan perintah kepada tentaranya: “Patahkan tulang mereka.”

Mereka melakukannya. Rekaman menunjukkan anak-anak Palestina ditahan, sementara tentara Israel menghancurkan tangan mereka dengan batu.

Kini, kebrutalan itu telah berevolusi. Bukan lagi dengan tongkat, melainkan dengan misil dan fosfor putih. Pematahan tulang berubah menjadi amputasi massal. Tujuannya tetap sama; melumpuhkan masa depan Palestina.

Kematian Muhammad al-Durrah pada tahun 2000 menjadi salah satu simbol. Bocah 12 tahun itu berlindung di balik ayahnya saat tentara Israel menembaki mereka. Ia tewas dalam dekapan ayahnya, dan dunia menyaksikan dengan mata telanjang.

Begitu pula dengan Faris Odeh, bocah 14 tahun yang berdiri sendirian menghadapi tank Israel, sebuah batu di tangannya. Beberapa hari kemudian, ia ditembak di leher dan tewas. Foto dirinya yang berhadapan dengan tank menjadi ikon perlawanan Palestina.

Hari ini, Israel bahkan tak segan-segan menyuarakan kebenciannya terhadap anak-anak Palestina. Seorang rabi Israel pernah menyatakan bahwa anak-anak Palestina harus dibunuh tanpa ragu-ragu. Seorang anggota Knesset menyebut bahwa setiap bayi yang lahir di Gaza adalah teroris sejak lahir.

Perang ini bukan hanya soal mendominasi Palestina. Ini adalah perang pemusnahan, di mana target utamanya bukan hanya mereka yang hidup saat ini, tetapi juga generasi mendatang.

Namun, mereka tetap bertahan. Mereka tersenyum di antara reruntuhan, bermain bola di jalanan berdebu, dan menggambar rumah-rumah yang telah dihancurkan Israel.

(T.RS/S:MiddleEastMonitor)

 

You might also like