Jalur Gaza, NPC – Lembaga Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengungkapkan bahwa Israel telah merenggut nyawa hampir 600 anak di Gaza sejak rezim Netanyahu mengkhianati gencatan senjata dan kembali melancarkan genosida pada Maret lalu.
Sementara itu 1.600 anak lainnya juga terluka sejak Israel melanjutkan serangan mereka pada 18 Maret. UNRWA memperingatkan bahwa situasi di Gaza semakin mencekam, sebagian menggambarkannya terburuk sejak dimulainya kampanye militer brutal Israel pada Oktober 2023.
UNICEF juga menyatakan bahwa anak-anak Palestina telah mengalami gelombang serangan udara yang sangat mematikan dalam beberapa hari terakhir. “Foto anak-anak yang terbakar saat berlindung di tenda darurat seharusnya mengguncang kita semua.”,” ujar Catherine Russell, Direktur Eksekutif UNICEF dalam unggahan media sosialnya baru-baru ini.
Ravina Shamdasani, juru bicara Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, baru-baru ini melaporkan bahwa 36 dari 224 serangan udara yang tercatat antara 18 Maret dan 9 April hanya menewaskan perempuan dan anak-anak.
Pada bulan Januari, rezim Netanyahu terpaksa menyetujui gencatan senjata dengan Hamas setelah gagal misi mereka, termasuk membabat habis gerakan perlawanan Palestina dan membebaskan tawanan Israel yang mendekam di Gaza.
Setidaknya 1.864 warga Gaza telah gugur dan hampir 4.900 lainnya terluka sejak Israel melanjutkan serangan brutal pada 18 Maret.
Secara keseluruhan, lebih dari 51.200 orang Palestina, mayoritasnya adalah perempuan dan anak-anak, telah terbunuh di Gaza.
Pada November 2024, Pengadilan Kriminal Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Perang Yoav Galant, menuduh mereka melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza. Israel juga saat ini menghadapi kasus genosida di Pengadilan Internasional terkait tindakannya di wilayah yang diblokade tersebut.