Membangun Kembali Gaza: Berapa Puluh Tahun yang Diperlukan?

Sumber: AP Photo/Fatima Shbair
Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengadakan konferensi pers bersama di White House pada 4 Februari 2025. (Sumber: Chip Somodevilla/Getty Images/AFP)

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini melayangkan pernyataan kontroversial terkait keinginannya menguasai jalur Gaza dan secara tersirat mengusir warganya ke luar Palestina, sehingga dirinya dapat fokus mengelola Gaza selama beberapa waktu ke depan. Trump meminta Mesir dan Yordania sebagai wilayah tetangga Gaza, untuk menerima warga Palestina yang diusir secara paksa. Trump percaya dengan kemampuan negosiasinya yang akan membuat Mesir dan Yordania tidak bisa mengatakan “tidak” pada permintaannya. Namun, permintaan itu tegas ditolak oleh kedua negara tersebut, begitu pula Arab Saudi dan semua negara anggota Liga Arab maupun Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Pernyataan Trump ini memicu reaksi keras dari banyak komunitas internasional, termasuk Indonesia, mengingat rekonstruksi Gaza bukan sekedar persoalan fisik, tetapi juga politik dan kemanusiaan. Di tengah kontroversi ini, tantangan terbesar tetaplah bagaimana membangun kembali Gaza dari kehancuran total sebab saat ini dengan infrastruktur yang luluh lantak dan blokade yang masih berlangsung, berapa lama waktu yang sebenarnya dibutuhkan untuk mengembalikan Gaza ke kondisi yang layak huni?

Jalur Gaza dan Situasi Terkini

Jalur Gaza merujuk pada wilayah pesisir Palestina yang telah diambil alih oleh Hamas sejak tahun 2007 setelah Israel menarik diri.  Selama puluhan tahun hingga kini, Israel memberlakukan blokade ketat yang mengontrol segala aspek kehidupan rakyat Gaza, baik dari darat, laut, maupun udara. Akibat blokade berkepanjangan tersebut, keterpurukan ekonomi dan kemunduran kemajuan pada indikator-indikator pembangunan utama terjadi. Hal ini dikarenakan hubungan Gaza dengan wilayah Palestina lainnya serta dunia terputus akibat blokade Israel. Tercatat telah terjadi konflik sebanyak lima kali dalam kurun waktu 2008-2022. Di luar hal ini, militer Israel telah melakukan 30 operasi dan serangan yang terpisah. Sebanyak 5.418 orang tewas, begitu pula 60.000 bangunan rusak total. Penderitaan tersebut semakin diperparah sejak Oktober 2023 yang mendorong Israel melakukan serangan besar-besaran di Gaza. Serangan yang terus menerus ini membuat kebutuhan untuk rekonstruksi Gaza semakin besar.

Sebelum peristiwa 7 Oktober 2023, keadaan sosial ekonomi Gaza saja sudah sangat terpuruk, bahkan menjadi wilayah dengan tingkat pengangguran tertinggi di dunia yang mencapai angka 46%. Pasca 7 Oktober merupakan puncaknya, sebab setelah itu, Israel semakin meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan rakyat Gaza. Hingga 2 Juli 2024, tercatat sekitar 38.387 warga Palestina tewas dan 360.000 unit rumah rusak. Sebanyak 6% populasi Gaza tewas atau terluka akibat genosida Israel ini.

World Bank’s Interim Damage Assessment mencatat hingga akhir Januari 2024, infrastruktur Gaza telah mengalami kerusakan sebesar $18,5 miliar yang mana angka ini setara dengan 97% dari total PDB negara Palestina tahun 2022. Kerusakan terbesar terjadi pada bangunan tempat tinggal penduduk, yakni mencapai 72%. Sementara itu, bangunan pada sektor perdagangan, jasa, dan industri juga mengalami kerusakan hingga 9% dan 19% sisanya melanda sektor infrastruktur pembangunan lainnya seperti air, sanitasi, kebersihan, pendidikan, teknologi informasi dan komunikasi, layanan perkotaan, serta transportasi. Menurut UNESCWA dan UNDP, dalam skenario optimis dimana akses bahan bangunan ke Gaza diizinkan tanpa hambatan, rekonstruksi perumahan di wilayah ini diperkirakan akan memakan waktu hingga tahun 2040. Tentu ini merupakan waktu yang sangat lama.

Konteks Rekonstruksi Gaza

Jika saling dihubungkan, pengertian rekonstruksi berarti membangun kembali lembaga untuk mencapai keamanan dan stabilitas fisik serta mencakup reformasi politik. Rekonstruksi juga merujuk pada pentingnya keamanan finansial dan proses reformasi ekonomi. Tak hanya memulihkan kebutuhan material, rekonstruksi juga memperhatikan teori kemanusiaan yang meliputi masyarakat dan kemampuan mereka untuk menerima rekonsiliasi, toleransi, dan penyembuhan. Rekonstruksi sering mengacu pada proses pasca konflik. Namun, situasi di Gaza yang hingga kini masih terus menerus dilanda konflik serta genosida Israel, membuat upaya perencanaan dan pelaksanaan rekonstruksi menghadapi tantangan besar.

 

Diperkirakan Membutuhkan Waktu Hingga Tahun 2040

Sumber: AP Photo/Fatima Shbair

Mengingat pemukiman rakyat Gaza dan bangunan vital yang hancur di berbagai penjuru, rekonstruksi tidak hanya membutuhkan dana yang sangat besar, tetapi juga waktu yang panjang.  PBB memperkirakan biaya yang diperlukan untuk membangun kembali Jalur Gaza, yaitu mencapai USD 30-40 miliar (Rp498-664 triliun). Dalam skenario terbaik pun, UNDP memperkirakan membutuhkan waktu selama 16 tahun hingga tahun 2040 untuk membangun kembali rumah-rumah yang hancur. Namun, hambatannya hingga kini, yaitu Israel masih melakukan genosida dan blokade yang semakin parah, sehingga mempersulit pelaksanaan rekonstruksi.

Israel juga melarang masuknya bahan bangunan ke Jalur Gaza. Alhasil, konteks rekonstruksi Gaza jelas tergantung bagaimana situasi politik. Permasalahan terkait puing-puing bangunan, PBB menyebutkan ada sekitar 50 juta ton puing di Gaza pada bulan Desember, yang mana angka ini 17 kali lebih banyak dari puing-puing bangunan di wilayah Gaza sejak 2008. Pembuangan puing-puing tersebut diperkirakan membutuhkan waktu hingga 20 tahun lamanya dengan biaya yang akan dikeluarkan sebesar $909 juta.

Jika dikumpulkan pun, puing-puing ini mampu menutupi lahan di Gaza saking banyaknya. Lebih dari 100 truk telah dikerahkan, tetapi tantangan lainnya adalah pengangkutan puing-puing tersebut menjadi berbahaya pula karena khawatir masih terdapat persenjataan yang belum meledak dan bahan berbahaya lainnya di bawah puing tersebut. Masih banyak pula jasad yang terkubur di bawahnya.

Selain permasalahan puing bangunan, ada masalah serius lain yang semakin mencekik kehidupan rakyat Gaza. Yaitu kehancuran sanitasi dan sistem air. Sebanyak 70% fasilitas sanitasi dan air yang menjadi kunci kebersihan, telah hancur di Gaza. Padahal, kebutuhan air dan sanitasi merupakan poin penting dalam kehidupan sehari-hari agar tubuh tidak terkena penyakit. Terkait ekonomi, lebih dari sebagian lahan pertanian di Gaza berada di ambang keruntuhannya. Sebanyak 95% ternak penduduk juga telah disembelih. Keruntuhan dari segala aspek dan blokade ini membuat banyak penduduk kehilangan sumber pendapatan utamanya.

Situasi yang sangat menyakitkan saat ini adalah ketika rakyat Gaza yang telah meninggalkan kamp pengungsian kembali pulang ke rumah mereka. Mereka mendapati rumah yang telah rata dengan tanah. Tidak ada yang tersisa, tempat tinggal mereka hancur, infrastruktur air dan listrik lumpuh, serta jalan-jalan utama hancur. Mirisnya, Israel menggunakan perlawanan Hamas sejak 7 Oktober sebagai dalih untuk melancarkan propaganda dan serangan besar-besaran mereka. Hingga detik ini, rakyat Gaza masih hidup dalam ambang ketakutan karena militer Israel kerap melakukan serangan mendadak dan acapkali melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Jangan Lupakan Pembangunan Manusia

Dampak genosida tak cuma kerusakan material, tetapi juga fisik dan psikologis manusia. Rakyat Gaza mengalami gangguan stress pasca trauma (PTSD) akibat serangkaian serangan mematikan Israel. UNICEF melaporkan sekiranya ada 17.000 anak Gaza yang terpisah dari orang tuanya. Save The Children menyebutkan lebih dari sepuluh anak setiap hari kehilangan anggota tubuhnya. Hal ini mengkhawatirkan karena akan berdampak pada pertumbuhan mereka. Trauma ini dialami oleh rakyat Gaza tanpa memandang gendernya. Gangguan mental, insomnia, kecemasan, mimpi buruk, depresi, dan gangguan lainnya dapat memperparah kualitas kehidupan mereka. Setiap harinya diliputi kewaspadaan terus menerus karena ketidakpastian situasi. Oleh karena itu, dibutuhkan pula layanan konseling yang memadai.

Selain itu, banyak rakyat Gaza yang cedera dan kehilangan anggota tubuhnya akibat agresi militer Israel. Layanan rehabilitasi yang tersedia pun terganggu dan tidak dapat memenuhi lonjakan kebutuhan. Berdasarkan laporan WHO, sekitar 25% dari cedera perlu perawatan jangka panjang. Sekitar 3000-4050 mengalami amputasi anggota tubuh, terutama bagian kaki, sekitar 2000 orang mengalami luka bakar yang memerlukan rehabilitasi, sebanyak 13.455-17.550 mengalami cedera ekstrem utama, sekitar 2000 orang cedera otak dan sumsum tulang belakang, dan sebanyak 39 fisioterapis terbunuh.

Dengan demikian, rekonstruksi Gaza bukan hanya tentang membangun kembali bangunan yang hancur, tetapi juga menyembuhkan luka yang lebih dalam, trauma, kehilangan, dan keterbatasan fisik yang dialami rakyatnya. Oleh karena itu, rekonstruksi Gaza harus mencakup pendekatan holistik yang tidak hanya fokus pada infrastruktur, tetapi juga pembangunan manusia yang berkelanjutan. Namun, pada akhirnya yang menjadi catatan penting atas pembangunan Gaza adalah: Sampai kapan pendudukan Israel atas Palestina ini berakhir?

Penulis: Nadea Salsabila Putri (Mahasiswi Prodi Sejarah Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah)

 

Daftar Pustaka:

Alarabeed, Wadee. “The Myth of Gaza’s Reconstruction: The Rise and Fall of Reconstruction Space Under the Israeli Siege.” Journal of Peacebuilding & Development (2024): 1–7.

Beaumont, Peter. “Rebuilding Shattered Gaza May Require a New Marshall Plan.” The Guardian. Februari 7, 2025. https://www.theguardian.com/world/2025/feb/07/rebuilding-gaza-new-marshall-plan?

Buheji, Mohamed, and Meral Marouf. “Mapping Reconstruction of Gaza to Overcome Donors’ Fatigue.” Gradiva 63, no. 07 (Juli 2024): 116–130.

El-Sabawi, Yasmine. “‘We’ll Own It’: Trump Wants to Make Gaza a Holiday Hub without Palestinians.” Middle East Eye. Februari 5, 2025. https://www.middleeasteye.net/news/trump-wants-make-gaza-holiday-hub-without-palestinians.

Jones, Holly, Zainab Shafan-Azhar, and Nick Treloar. “No Safe Place in Mind: Mental Health and Trauma in Gaza.” Centre for Mental Health. Agustus 1, 2024. https://www.centreformentalhealth.org.uk/no-safe-place-in-mind-mental-health-and-trauma-in-gaza/.

Krauss, Joseph. “Gaza Is in Ruins, and It’s Unclear How It Will Be Rebuilt.” The Associated Press. Januari 17, 2025. https://apnews.com/article/israel-palestinians-hamas-war-ceasefire-damage-reconstruction-d120f8a0dc8b728c0d8332046a524a92.

Milton, Sansom, Ghassan Elkahlout, and Saba Attallah. “Shrinking Reconstruction Space in the Gaza Strip: Rebuilding after the 2021 and 2022 Wars.” Conflict, Security & Development 24, no. 1 (Maret 4, 2025): 49–78.

“Butuh Waktu 16 Tahun Untuk Bangun Kembali Gaza, Palestina.” Wakaf Warrior.

Estimating Trauma Rehabilitation Needs in Gaza Using Injury Data from Emergency Medical Teams. Occupied Palestinian Territory. World Health Organization (WHO), Juli 30, 2024.

You might also like