London, NPC – Lebih dari 300 tokoh publik Inggris, yang meliputi musisi, aktor, akademisi, serta mantan hakim agung, telah melayangkan petisi terbuka yang menuding pemerintah Inggris turut bertanggung jawab atas genosida yang dilakukan Israel terhadap warga Gaza.
Petisi ini diprakarsai oleh organisasi kemanusiaan Choose Love dan secara tegas menyatakan bahwa Inggris “tidak dapat lagi memandang penderitaan Gaza sebagai bencana, namun masih terus memasok senjata kepada Israel.”
Dilansir MEMO, Kamis (29/05/2025), petisi tersebut ditujukan langsung kepada Perdana Menteri Keir Starmer, menuntut agar pemerintah menghentikan peranannya sebagai pendukung kejahatan perang. “Anda harus memilih; apakah akan terus mendukung genosida atau menghentikannya,” demikian pernyataan tegas dalam petisi itu.
Di antara para penandatangan terdapat sejumlah tokoh ternama seperti penyanyi Dua Lipa, aktor Benedict Cumberbatch, presenter Gary Lineker, serta puluhan figur berpengaruh dari bidang hiburan, hukum, dan akademisi.
Mereka menyerukan penghentian ekspor senjata, pembukaan akses bantuan kemanusiaan tanpa syarat, serta penerapan gencatan senjata permanen yang nyata, bukan sekadar retorika politik. Petisi ini tidak hanya mengungkapkan keprihatinan, tetapi juga menyoroti secara gamblang keterlibatan Inggris dalam tragedi kemanusiaan yang tengah berlangsung.
Lebih dari 71.000 anak balita di Gaza kini menderita kekurangan gizi akut, sementara pasokan makanan, obat-obatan, dan bantuan kemanusiaan lainnya terhambat akibat blokade yang diterapkan Israel. “Anak-anak tersebut terbangun oleh bom yang diproduksi di Inggris. Tubuh mereka hancur oleh senjata yang komponennya dirakit di pabrik-pabrik Inggris. Kejahatan ini disahkan oleh sikap diam pemerintah kita,” demikian tegas petisi tersebut.
Pernyataan ini diperkuat oleh sebuah dokumen hukum setebal 35 halaman yang ditandatangani lebih dari 800 ahli hukum, termasuk dua mantan hakim agung Inggris, Lord Sumption dan Lord Wilson. Mereka menyatakan bahwa dukungan Inggris terhadap agresi Israel melanggar Konvensi Jenewa, hukum humaniter internasional, serta peraturan perundang-undangan Inggris.
Para ahli hukum tersebut mendesak penghentian ekspor senjata, pemutusan kerja sama intelijen, serta penyelidikan independen terkait keterlibatan Inggris dalam kejahatan perang. Bahkan, mereka menyerukan agar Inggris mendorong penangguhan keanggotaan Israel di Perserikatan Bangsa-Bangsa atas serangan brutal terhadap staf dan fasilitas PBB di Gaza.
Dalam ranah sastra dan budaya, lebih dari 380 penulis dan organisasi sastra, termasuk Zadie Smith, Ian McEwan, Jeanette Winterson, dan Hanif Kureishi, turut bergabung dalam gelombang protes moral ini. Mereka secara terbuka menyatakan bahwa genosida sedang berlangsung di Gaza, dan dunia tidak lagi dapat berpura-pura tidak mengetahui fakta tersebut. “Kata ‘genosida’ bukan lagi sekadar perdebatan akademik, melainkan kenyataan berdarah,” tulis mereka dalam petisi terbuka yang menyerukan distribusi bantuan tanpa syarat, penghentian total serangan, serta pemberian sanksi kepada Israel apabila kekejaman terus berlanjut.
Mereka juga menegaskan bahwa penolakan terhadap genosida bukanlah bentuk antisemitisme, melainkan sikap moral yang tidak dapat ditawar. Petisi tersebut mengutip puisi terakhir Hiba Abu Nada, penyair Palestina yang tewas dalam serangan udara Israel pada Oktober lalu, yang kini menjadi simbol perlawanan budaya terhadap mesin pembantaian yang didukung oleh negara-negara Barat.