Gaza, NPC – Kondisi cuaca ekstrem di Jalur Gaza semakin memperparah penderitaan penduduk Palestina yang terjebak di Jalur Gaza. Cuaca buruk ini telah menyebabkan kematian beberapa pengungsi Palestina serta menghancurkan puluhan ribu tenda tempat mereka berlindung.
Dalam pernyataan resmi pada Senin (30/12/2024), Kantor Media Pemerintah Palestina di Jalur Gaza mengungkapkan bahwa jumlah korban jiwa akibat cuaca ekstrem telah mencapai tujuh orang dan diperkirakan akan terus bertambah.
“Kami telah berulang kali memperingatkan bahaya gelombang musim dingin, embun beku, dan depresi cuaca yang bersamaan dengan situasi tragis yang dialami rakyat kami. Mereka menghadapi pembunuhan, genosida, serta penghancuran rumah dan sektor vital,” kata Kantor Media Pemerintah Palestina di Jalur Gaza.
Kantor Media Pemerintah Palestina juga melaporkan bahwa sekitar 110.000 dari total 135.000 tenda pengungsian saat ini dalam kondisi “rusak” dan “tidak layak” untuk ditempati oleh pengungsi Palestina.
Tenda-Tenda Pengungsi Hancur Diterjang Banjir dan Hujan Lebat
Pada akhir November, lebih dari 80 persen tenda pengungsi di Gaza telah rusak parah akibat cuaca buruk dan kurangnya fasilitas penting untuk menghadapi kondisi tersebut. Video yang diambil pada 30 Desember menunjukkan banyak tenda, yang sebagian besar terbuat dari kain, basah kuyup terkena hujan atau tenggelam di area yang terendam banjir.
Ratusan tenda telah hancur sejak Minggu malam, terutama di wilayah tengah Jalur Gaza seperti Deir Al-Balah dan daerah selatan Al-Mawasi-Khan Yunis.
“Bayi-bayi di Gaza sedang menghadapi ancaman kematian akibat cuaca dingin dan kurangnya tempat berteduh. Selimut, kasur, dan perlengkapan musim dingin lainnya telah tertahan di wilayah ini selama berbulan-bulan, menunggu persetujuan untuk masuk ke Gaza,” kata Philippe Lazzarini, Komisaris Jenderal UNRWA, pekan lalu.
Philippe Lazzarini merujuk pada penutupan perbatasan oleh Israel dan larangan terus-menerus terhadap masuknya bantuan penting ke Jalur Gaza. Sementara itu, serangan udara Israel terus berlangsung dengan brutal di seluruh wilayah tersebut.
Kota-kota tenda di Gaza telah menghadapi hujan deras dan banjir besar sejak bulan lalu.
“Di Gaza, musim dingin ini bukan hanya dingin, tetapi juga perjuangan untuk bertahan hidup. Orang-orang harus melawan dingin yang menusuk tanpa pakaian hangat atau pemanas. Hal kecil seperti terkena flu atau tetap basah dapat menjadi ancaman hidup, terutama bagi anak-anak dan lansia,” tulis Esraa Abo Qamar, penulis Palestina yang berbasis di Gaza, dalam Palestine Chronicle.
Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza, pada Minggu (29/12), mengumumkan meninggalnya Jum’a Al-Batran, bayi Palestina yang baru berusia 20 hari akibat cuaca dingin yang ekstrem, sementara saudara kembarnya masih menerima perawatan intensif di rumah sakit Shuhada Al-Aqsa di Gaza Tengah.
“Jum’a Al-Batran meninggal dunia pada hari Minggu ini akibat cuaca dingin yang sangat ekstrem. Ia adalah bayi kelima yang meninggal karena dingin dalam waktu kurang dari seminggu ini,” kata Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza.
Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza, kelaparan yang melanda ibu-ibu di Gaza berkontribusi pada peningkatan jumlah kasus penyakit di kalangan anak-anak, yang memperburuk situasi kesehatan yang sudah memprihatinkan di tengah kondisi sulit yang dialami oleh wilayah tersebut.
Sementara itu, tentara penjajah Israel terus melancarkan serangan udara dan tembakan artileri di seluruh Gaza untuk hari ke-450 berturut-turut. Situasi kemanusiaan di Jalur Gaza semakin memburuk akibat blokade. Lebih dari 90 persen penduduk yang terpaksa meninggalkan rumah mereka dan tinggal di tenda-tenda pengungsian di tengah ancaman pemboman Israel.
Sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat dan sejumlah kawasan di Lebanon. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.
(T.FJ/S: The Cradle)