Lagi, Satu Desa Palestina Hilang: Beginilah Cara Israel Hapus Palestina dari Peta

Ditulis oleh: Majd Jawad*

Nablus, NPC – Kunjungan terakhir saya ke desa Yanoun terjadi sekitar dua tahun lalu, ketika saya melaporkan satu-satunya sekolah yang masih bertahan di dusun yang terkepung itu, di wilayah utara Tepi Barat yang diduduki. Para pemukim kolonial Israel dan tentara Zionis secara terus-menerus mengintimidasi warga desa Palestina tersebut dalam upaya memaksa mereka pergi.

“Perhatikan desa ini dengan saksama dan amati baik-baik,” kata seorang perwakilan warga setempat, Rashid Murrar, kepada saya saat itu. “Mungkin lain kali Anda sudah tidak akan melihatnya.”

Ia benar. Khirbet Yanoun, sebuah desa kecil di tenggara Nablus yang dikenal sebagai wilayah pertanian, kini tidak lagi ada.

Pada Minggu pagi, 28 Desember 2025, otoritas militer Israel mengeluarkan peringatan mendadak: seluruh warga Yanoun harus mengungsi sebelum pukul 16.00.

Murrar membereskan seluruh barang miliknya pada sore hari dan meninggalkan Khirbet Yanoun bersama keluarganya. Desa yang sebelumnya menjadi rumah bagi puluhan keluarga itu, untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, berdiri sepenuhnya kosong dari penghuninya.

Keluarga Murrar merupakan keluarga terakhir yang bertahan di desa tersebut, menghadapi ekspansi permukiman yang tak henti-hentinya. Sejak akhir 1990-an, ketika permukiman ilegal Israel  dan pos-pos terkait mulai mengepung Yanoun, telah terjadi ratusan upaya untuk mengosongkan desa itu dari penduduknya.

Tak satu pun gambaran dari proses pengusiran yang lambat itu menandingi pemandangan yang terjadi di Yanoun pekan lalu, ketika jalan, rumah, dan ladang dibiarkan sunyi.

Inilah kisah tentang bagaimana satu lagi komunitas pedesaan Palestina mengalami pembersihan etnis oleh pemukim kolonial Israel dan tentara Zionis, menambah daftar panjang komunitas Palestina di pedesaan Tepi Barat yang dihapus dari keberadaan.

Kehidupan yang Seperti Neraka

Penderitaan Yanoun dimulai antara 1996 dan 1999, dengan berdirinya permukiman ilegal Israel  Itamar serta sejumlah pos permukiman di sekitarnya, termasuk Giv’ot Olam dan Givat Arnon (juga dikenal sebagai Bukit 777). Seiring waktu, permukiman-permukiman ini memperketat cengkeramannya atas dusun tersebut, membatasi pergerakan penduduk Palestina, akses ke tanah, dan kehidupan sehari-hari mereka.

Hampir dua puluh keluarga terusir dari Yanoun pada tahun-tahun berikutnya, banyak di antaranya setelah berulang kali diserang penjajah. Pada 2002, keluarga-keluarga yang tersisa dipaksa meninggalkan desa itu sepenuhnya selama hampir satu tahun, pindah ke kota terdekat, Aqraba, untuk tinggal bersama kerabat atau menyewa apartemen kecil.

Rashid Murrar menggambarkan serangan-serangan itu sebagai sesuatu yang tanpa henti dan terencana. “Mereka datang dengan anjing dan senjata. Mereka memukuli warga. Mereka mengatakan tidak ingin melihat siapa pun di sini minggu berikutnya, dan kami harus pindah ke Aqraba,” katanya.

Pada 2005, menyusul tekanan dari organisasi kemanusiaan dan aktivis internasional yang mendampingi mereka, warga Yanoun kembali ke rumah masing-masing. Namun, kekerasan tidak pernah berhenti, bahkan meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

Para pemukim kolonial Israel bertopeng secara rutin memasuki dusun itu, menurut kesaksian warga, memukuli orang-orang, melempari batu, merusak tanaman, mengosongkan tangki air, dan mencuri domba. “Hidup menjadi tak tertahankan. Keadaannya berubah menjadi neraka,” kenang Murrar.

“Kami mencoba bertahan di desa sampai napas terakhir, tetapi pada akhirnya kami terkepung di dalam rumah sendiri,” ujarnya. “Tentara Zionis melarang siapa pun dari luar dusun berhubungan dengan kami, menjual barang kepada kami, atau membeli dari kami. Mata pencaharian dan makanan kami dikepung.”

Saat ini, para pemukim kolonial Israel kerap mengambil alih tanah Palestina di pedesaan Tepi Barat dengan mendirikan apa yang dikenal sebagai pos penggembalaan—pos permukiman ilegal di atas tanah Palestina dengan dalih menggembalakan ternak, yang biasanya menjadi pendahulu bagi bentuk-bentuk intimidasi dan kekerasan yang lebih parah.

Menurut sejarawan lokal dan peneliti sosial Hamza Aqrabawi, dalam wawancara dengan al-Quds al-Arabi pada 29 Desember 2025, Yanoun merupakan salah satu lokasi uji coba paling awal dari strategi kolonisasi pedesaan ini.

Aqrabawi mengatakan kepada al-Quds al-Arabi bahwa seorang penjajah bernama Avraham Avri Ran mendirikan pos penggembalaan di dekat Yanoun pada pertengahan 1990-an, yang kemudian menjadi titik kumpul geng-geng pemukim kolonial dan berkembang menjadi cikal bakal gerakan yang dikenal sebagai Hilltop Youth.

Pos yang didirikan Ran, kini dikenal sebagai Giv’ot Olam, memainkan peran sentral dalam melancarkan serangan terorganisasi terhadap Yanoun dan komunitas di sekitarnya, sekaligus mengukuhkan posisi Ran sebagai salah satu figur ideologis utama gerakan tersebut.

Pada tahun-tahun berikutnya, serangan pemukim colonial Israel terhadap penduduk Palestina di Yanoun terjadi secara sporadis, dengan serangan lynching pertama tercatat pada 1996 dan menyebabkan seorang pria lanjut usia kehilangan pendengarannya sepenuhnya. Namun, beberapa tahun terakhir menyaksikan eskalasi signifikan, baik dari segi frekuensi maupun tingkat kekerasan.

Serangan lynching merujuk pada penyerangan beramai-ramai oleh pemukim terhadap warga sipil Palestina. Tujuannya bukan sekadar melukai individu, tetapi menciptakan teror agar warga meninggalkan wilayahnya dan tak jarang berakhir dengan cacat permanen dan bahkan kematian.

Menurut wali kota Aqraba, pemerintah kota yang secara administratif membawahi Yanoun, pihaknya telah mendokumentasikan sekitar 273 serangan pemukim colonial Israel dalam dua tahun terakhir. Hal ini terjadi bersamaan dengan penyitaan berkelanjutan atas sisa tanah Yanoun, yang kini tidak lebih dari 3.500 dunam (350 hektare).

Hampir 80 persen lahan dusun tersebut sebelumnya telah secara bertahap dirampas oleh otoritas Israel, baik dengan menetapkannya sebagai zona militer tertutup maupun secara langsung mengalokasikannya untuk perluasan permukiman ilegal Israel di tanah Palestina di Tepi Barat.

Pemerintah kota berupaya mendukung kemampuan penduduk Palestina untuk bertahan dengan membebaskan mereka dari biaya listrik dan air, serta menyediakan layanan lain. Permohonan juga diajukan kepada organisasi internasional untuk mendanai proyek pertanian dan layanan publik.

“Namun, di bawah pendudukan, kami tidak dapat menyediakan keamanan. Kami mengajukan permohonan kepada sejumlah lembaga internasional untuk menyediakan proyek pertanian dan layanan bagi dusun ini, tetapi kami tidak bisa memberi mereka perlindungan keamanan di bawah penjajahan,” kata wali kota Aqraba.

Sebagai upaya mendukung keteguhan warga, penduduk merenovasi sebuah rumah tua pada tahun 2000 untuk dijadikan sekolah. Bangunan itu berukuran tak lebih dari 150 meter persegi dan hanya terdiri dari tiga ruangan.

Akibat penjajahan Israel melarang perluasan sekolah atau bahkan perbaikan dasar, penduduk Palestina terpaksa menutup atapnya dengan lembaran baja bergelombang, sebuah langkah untuk mencegah pembongkaran.

Sekolah tersebut melayani sekitar 20 siswa dari desa itu. Bagi anak-anak ini, perjalanan menuju pendidikan bukan sekadar berjalan ke kelas; jarak ke sekolah-sekolah di sekitar cukup jauh, dan rutenya penuh hambatan, termasuk tentara Zionis di pos pemeriksaan, penggeledahan di sepanjang jalan, serta kehadiran kendaraan militer yang terus-menerus.

Salahuddin Jaber, kepala pemerintah kota Aqraba, menjelaskan bahwa para siswa tersebut mengalami penggeledahan oleh tentara Zionis dan harus melewati pos-pos pemeriksaan saat berangkat dan pulang sekolah.

Menjelang akhir Desember 2025, Sekolah Yanoun pada praktiknya ditutup. Para siswa dan guru berhenti menghadiri kelas setelah ancaman penjajah yang meningkat dan serangan terus-menerus membuat kegiatan belajar mengajar tidak lagi aman.

“Para penjajah mendirikan pos pemeriksaan di pintu masuk dusun, sehingga menyulitkan guru untuk mencapainya. Hal ini menyebabkan penutupannya,” kata Jaber.

Penutupan sekolah itu bukan sekadar gangguan terhadap proses belajar. Ia menjadi tanda terakhir bahwa jalinan sosial komunitas tersebut telah rusak tanpa dapat diperbaiki.

Tanah, Air, dan Kelangsungan Hidup

Yanoun bukan sekadar kumpulan rumah. Ia adalah kawasan pertanian, dengan tanah subur yang selama puluhan tahun menjadi fondasi kehidupan penduduk Palestina setempat.

Penduduk Palestina setempat mengatakan kepada Mondoweiss bahwa ladang gandum, jelai, dan lentil pernah membentang di lereng-lereng Yanoun, sementara pohon-pohon zaitun tua, sebagian berusia lebih dari seratus tahun, menjadi bagian penting dari sumber penghidupan desa.

Di pintu masuk desa terdapat Ain Yanoun—mata air setempat yang menjadi asal nama dusun ini, ditandai oleh bangunan batu yang menampung aliran air dari utara.

Banyak penduduk Palestina lebih menyukai nama “Ain Yanoun” ketimbang sebutan Arab khirbeh, yang kerap diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai “reruntuhan”, karena istilah itu dianggap menyiratkan keterlantaran. Mereka menegaskan bahwa Yanoun tidak pernah ditinggalkan; pohon-pohon zaitunnya menjadi saksi dari kisah tersebut.

Justru pentingnya sektor pertanian inilah yang menjadikan komunitas ini sasaran. Kebijakan Israel semakin memutus penduduk Palestina dari tanah mereka, memberlakukan pembatasan atas kegiatan bercocok tanam, dan menggunakan pos-pos pedesaan sebagai kedok bagi apa yang oleh banyak penduduk Palestina dipandang sebagai aneksasi de facto atas tanah.

Pada 2006, warga mengajukan petisi ke Mahkamah Agung Israel untuk mendapatkan kembali akses ke lahan pertanian mereka. Pengadilan memutuskan bahwa penolakan akses dengan dalih perlindungan tidaklah proporsional, sehingga petani diizinkan kembali dengan pengaturan keamanan yang rumit, yang pada kenyataannya tidak pernah benar-benar melindungi mereka.

Nasib Yanoun mencerminkan puluhan desa Palestina di sekitar Itamar dan koridor perluasannya. Komunitas-komunitas ini menjadi sasaran melalui kombinasi penyitaan tanah, pendirian pos-pos permukiman di dekat rumah warga, pos pemeriksaan militer, serta pembatasan ketat atas pertanian dan penggembalaan.

“Setiap pohon zaitun yang tidak dapat dipanen adalah satu langkah lagi menuju pengosongan sebuah desa dari penduduknya. Yanoun sejak lama menjadi contoh nyata dari strategi ini,” kata aktivis komunitas Ayham Abu Bakr kepada Mondoweiss.

“Tujuannya adalah penyerahan secara bertahap,” tambahnya. “Melelahkan orang-orang hingga tanah itu kosong dari pemiliknya.”

Hari ini, Yanoun kosong. Namun, kisahnya belum berakhir.

“Kami pernah dipaksa pergi, lalu kami kembali,” kata Murrar. “Sekarang saya tinggal di sebuah rumah tua yang saya anggap sementara. Istri saya tinggal jauh di Aqraba. Kami harus segera bersatu kembali di sana.”

Yanoun tidak lenyap dalam semalam. Ia dihapus secara perlahan, sepotong demi sepotong, untuk memuluskan proyek Zionis dalam menguasai tanah Palestina seutuhnya di Tepi Barat.

___

*Majd Jawad merupakan seorang jurnalis dan peneliti dari Jenin, Palestina, yang memegang gelar Magister Demokrasi dan Hak Asasi Manusia dari Universitas Birzeit dan gelar Sarjana Jurnalistik.

(T.FJ/S: Mondoweiss)

 

You might also like