Krisis Kesehatan Bayi di Gaza Meningkat Tajam Pasca 7 Oktober 2023

Kondisi bayi lahir prematur. Sumber: SOP UNICEF / Loulou D’Ak

Sejak 7 Oktober 2023, Israel terus melakukan serangan besar-besaran ke Gaza yang menyebabkan kondisi kesehatan ibu dan bayi di wilayah tersebut mengalami krisis yang amat serius. Laporan WHO, UNFPA, dan Human Rights Watch menunjukkan meningkatnya angka keguguran, kelahiran prematur, serta komplikasi perinatal akibat runtuhnya sistem kesehatan, kekurangan nutrisi, dan terbatasnya pasokan medis. Para dokter di Gaza juga melaporkan lonjakan kasus bayi lahir dengan cacat bawaan dan komplikasi yang mengancam nyawa. Meski data statistik komprehensif masih sulit diperoleh karena blokade dan hancurnya fasilitas pencatatan kesehatan, bukti yang ada menegaskan bahwa pendudukan Israel bahkan telah menimbulkan resiko cacat lahir yang mengancam generasi baru di Gaza.

Blokade Gaza Semakin Memperparah Layanan Kesehatan Ibu dan Bayi

Sejak diberlakukannya blokade darat, laut, dan udara oleh Israel pada 2007, Gaza hidup dalam krisis kemanusiaan yang berkepanjangan, terutama pada sektor kesehatan. Situasi ini memuncak setelah 7 Oktober 2023, ketika serangan militer yang terus-menerus meruntuhkan banyak infrastruktur kesehatan. Pada 2 Maret 2025, Israel bahkan menutup seluruh akses penyeberangan dan pintu masuk ke Gaza. Alhasil, layanan kesehatan bagi ibu dan bayi praktis lumpuh.

Bayi yang lahir di Gaza berbagi tempat tidur dan inkubator di Rumah Sakit Al-Helal Al-Emirati, Rafah, Gaza. Sumber: UNFPA Palestina/Bisan Owda

Laporan The Lancet mencatat bahwa perawatan prenatal (sebelum kelahiran) di Gaza hampir tidak tersedia,  sehingga memaksa banyak perempuan melahirkan dalam kondisi yang tidak higienis, bahkan di luar fasilitas medis, dan tanpa pendampingan tenaga kesehatan.[1] Blokade yang membatasi pergerakan penduduk dan masuknya bantuan membuat pasokan medis seperti obat-obatan, anestesi, dan peralatan persalinan semakin langka.

Para ibu di Gaza juga menghadapi kesulitan dalam memenuhi gizi bayi mereka akibat kelangkaan susu formula. Blokade yang membatasi masuknya bantuan memaksa banyak ibu memberikan makanan dari apa pun yang tersedia, seperti air, kacang-kacangan yang digiling, atau bahkan pasta tahini yang dicampur air, sebagai pengganti susu. Kondisi ini semakin diperburuk oleh malnutrisi yang juga dialami para ibu, sehingga produksi ASI menjadi sangat rendah atau bahkan berhenti sama sekali.[2]

Situasi ini tidak hanya membuat bayi kekurangan nutrisi, tetapi juga meningkatkan risiko diare, malnutrisi kronis, dan kematian neonatal (awal kehidupan bayi) karena bayi tidak menerima nutrisi yang cukup di fase awal hidup paling krusial mereka. Data Kementerian Kesehatan Palestina mencatat bahwa hanya 17.000 bayi yang lahir hidup dalam enam bulan pertama 2025. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 41% dibanding periode yang sama pada 2022. Kondisi ini juga diikuti peningkatan kasus kelahiran prematur, cacat lahir, dan kematian bayi.[3]

Mengapa Krisis Kesehatan Bayi di Gaza Terus Meningkat?

               Salah satu cara paling efektif untuk menghancurkan sebuah bangsa adalah dengan menghancurkan para perempuannya, karena dari rahim merekalah lahir generasi penerus. Banyak warga Israel, terutama tentara IDF, melihat kelahiran generasi baru Palestina sebagai ancaman. Karena itu, salah satu taktik penghapusan identitas adalah dengan menargetkan ibu hamil dan bayi melalui blokade, serangan terhadap fasilitas kesehatan, dan pembatasan bantuan medis. Akibatnya, angka kecacatan, kelahiran prematur, dan kematian bayi terus melonjak. Berikut adalah beberapa faktor utama yang memperburuk krisis kesehatan bayi di Gaza:

1. Serangan terhadap Fasilitas, Staf, dan Pasien Rumah Sakit

WHO mencatat setidaknya 697 serangan terhadap layanan kesehatan sejak Oktober 2023, mencakup rumah sakit besar seperti Rumah Sakit Kamal Adwan, Rumah Sakit Indonesia, dan Rumah Sakit Eropa Gaza, yang kini terpaksa menghentikan layanan karena berada dekat zona konflik. Bahkan, pasien dan staf medis pun turut menjadi korban. Rumah Sakit Al-Awda dilaporkan telah menjadi target serangan Israel yang berulang. Serangan tersebut melukai staf medis dan membakar tenda triase pasien, bahkan menghancurkan fasilitas bantuan yang disediakan oleh WHO.

Akibatnya, hanya 18 dari 36 rumah sakit di Gaza yang masih beroperasi, semua beroperasi dengan kapasitas terbatas.[4] Gaza yang berpenduduk lebih dari dua juta orang kini hanya memiliki sekitar 2.000 tempat tidur rumah sakit. Dampaknya sangat terasa bagi perempuan hamil dan bayi baru lahir. Tanpa perawatan prenatal yang memadai, angka kelahiran prematur melonjak, banyak bayi lahir dengan berat badan rendah, dan kematian neonatal pun semakin tinggi. Sebanyak 90% anak di bawah usia 2 tahun dan 95% ibu hamil serta menyusui mengalami kemiskinan pangan parah, sementara 70% anak mengalami diare hanya dalam dua minggu terakhir.[5]

 

2. Prematuritas, Infeksi, dan Stres Psikologis

Krisis kesehatan bayi di Gaza semakin diperburuk oleh lonjakan kelahiran prematur, tingginya angka infeksi, serta dampak stres psikologis yang dialami ibu hamil akibat genosida serta pengungsian. Data WHO menyebutkan tiga penyebab utama kematian neonatal adalah prematuritas, infeksi saluran pernapasan, dan malformasi kongenital (cacat struktural selama perkembangan janin), yang menyumbang mayoritas kematian bayi baru lahir.

Minimnya akses perawatan prenatal memaksa banyak ibu hamil bertahan dalam kondisi berbahaya. Alih-alih bisa melakukan pemeriksaan rutin dan beristirahat, banyak dari mereka harus mengantre bantuan pangan atau berjalan jauh bahkan saat menjelang persalinan. Kondisi ini memicu komplikasi serius, termasuk kelahiran prematur dan infeksi. Stres berkepanjangan akibat serangan, pengungsian, dan kelangkaan makanan memperbesar risiko keguguran, bayi lahir mati, dan kematian ibu. Bahkan, fasilitas kesehatan pun kekurangan bahan bakar akibat blokade Israel, sehingga inkubator bayi prematur berhenti berfungsi dan mengancam nyawa lebih dari 100 bayi di Rumah Sakit al-Shifa.[6]

 

3. Risiko Cacat Lahir

Blokade dan genosida di Gaza turut memicu meningkatnya angka cacat lahir. Studi mencatat 14 kasus kelainan kongenital per 1.000 kelahiran hidup, dengan sumbing orofacial clefts (OFC) menjadi salah satu dari empat cacat lahir paling umum (11%) di Gaza. Kondisi ini berdampak serius terhadap kemampuan anak untuk makan, berbicara, mendengar, dan berkembang secara sosial. Kekurangan gizi kronis, minimnya suplemen penting seperti asam folat, serta keterbatasan layanan kesehatan semakin meningkatkan risiko bayi lahir cacat. Anak-anak dengan kelainan ini memerlukan botol khusus untuk makan, tetapi keterlambatan intervensi medis akibat serangan terhadap fasilitas kesehatan membuat mereka semakin rentan.[7]

Di Rumah Sakit Nasser, Gaza Selatan, kasus seperti bayi Muhammad Abu Awad menyoroti situasi ini. Muhammad lahir dengan kelainan pada jantung, kaki, dan otak, sementara banyak bayi lain meninggal akibat cacat bawaan yang parah. Dokter di Gaza melaporkan peningkatan kasus yang signifikan, dipicu oleh gizi buruk ibu hamil, perpindahan pengungsian, kurangnya perawatan prenatal, hingga paparan asap roket dan bahan peledak seperti fosfor putih.[8] Fosfor putih dikenal beracun dan bisa memicu luka bakar fatal hingga berujung kematian jika mengenai tubuh.

 

Kasus Bayi Malak Ahmed Al-Qanou yang Lahir Tanpa Otak

Bayi Malak Ahmed Al-Qanou yang lahir tanpa otak di kepalanya

Di tengah serangan militer Israel yang tiada henti, kisah bayi Malak Ahmed Al-Qanou mengguncang hati banyak orang. Malak lahir di Rumah Sakit Al-Awda di Gaza Utara dengan keadaan tanpa otak, sebuah kasus kelainan janin yang langka dan mengejutkan para dokter. Mereka menduga kondisi ini berkaitan dengan paparan radiasi dan bahan kimia dari senjata yang digunakan Israel selama serangan, mirip dengan lonjakan cacat lahir yang tercatat di Irak pasca-invasi.

Dr. Munir Al-Bursh, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, menyebut kasus Malak sebagai salah satu yang kasus cacat janin yang sangat mengejutkan. Ia juga menegaskan bahwa kelainan janin seperti ini semakin sering ditemukan selama genosida berlangsung. Rami Abdu, kepala Euro-Med Human Rights Monitor, mencatat bahwa sejak 7 Oktober 2023, militer Israel telah menjatuhkan sekitar 70.000 ton bahan peledak di Gaza. Para ahli menduga paparan bahan peledak dalam jumlah masif ini, ditambah dengan malnutrisi yang dialami hingga 20% dari 55.000 ibu hamil di Gaza, turut memperburuk kondisi kesehatan janin. Data UNFPA mencatat bahwa pada Februari–Maret 2025, setidaknya 20% bayi baru lahir mengalami prematuritas, komplikasi, cacat lahir, ataupun malnutrisi.[9]

Kasus Malak menjadi pengingat bahwa krisis kesehatan di Gaza bukan sekedar data atau angka statistik. Setiap bayi yang lahir dengan cacat, setiap ibu yang kehilangan anaknya, mencerminkan potret dari tragedi kemanusiaan yang terencana dan sistematis. Peristiwa ini menunjukkan bahwa genosida tidak hanya merenggut nyawa mereka yang hidup hari ini, tetapi juga merampas masa depan generasi yang akan datang.

Penulis: Nadea Salsabila Putri

Sumber:

[1] Bilal Irfan, Abdallah Abu Shammala, and Khaled Saleh, “Will There Be a Future for Newborns in Gaza?,” The Lancet 404, no. 10464 (November 2024): 1725.

[2] “Palestinian Newborns Starving in Gaza as Infant Formula Runs Out,” Aljazeera, July 31, 2025, https://www.aljazeera.com/news/2025/7/31/palestinian-newborns-starving-in-gaza-as-infant-formula-runs-out.

[3] Bilal Irfan et al., “Is Gaza Still a Place for Newborn Life?,” The Lancet 406, no. 10505 (August 2025).

[4] United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs. Reported impact snapshot: Gaza Strip, 10 September 2025. https://ochaopt.org/content/reported-impact-snapshot-gaza-strip-10-september-2025

[5] Tanyel Sema Dağdeviren, Şeyma Handan Akyön, and Kübranur Ünal, “Al-Shifa Hospital: Witness to the Collapse of Health Care in Gaza,” Anadolu Kliniği Tıp Bilimleri Dergisi, 2024, 115.

[6] “More than 100 Premature Babies in Gaza at Risk as Hospitals Run out of Fuel,” Aljazeera, July 10, 2025, 100; Irfan et al., “Is Gaza Still a Place for Newborn Life?,” 803.

[7] Hassan J. Zawahrah, “Palestinian Children With Orofacial Clefts in Gaza Should Not Be Left Behind,” Sage Journals 5, no. 3 (2024): 417–18.

[8] “Krisis Kesehatan Bayi Di Gaza: Kasus Cacat Lahir Meningkat,” Spirit of Aqsa, September 30, 2024, https://spiritofaqsa.or.id/krisis-kesehatan-bayi-di-gaza-kasus-cacat-lahir-meningkat.html.

[9] “Born without a Brain: The Tragic Case of Baby Al-Qanou’ Highlights Ongoing Genocidal Crimes,” The Palestinian Information Center, May 4, 2025, https://english.palinfo.com/Zionist-Terrorism/2025/05/04/338660/.

You might also like