Gaza, NPC – Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), pada Sabtu (18/05/2024), menyatakan bahwa krisis kemanusiaan dan kelaparan semakin parah dan bahwa hampir tidak ada bantuan yang tersisa yang dapat didistribusikan di Jalur Gaza.
OCHA menambahkan bahwa kondisi air dan sanitasi memburuk dengan cepat. Akibat Israel melarang masuk bantuna kemanusiaan, masyarakat hanya dapat menggunakan puing-puing dan limbah untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Pada tanggal 7 Mei, tentara penjajah Israel menduduki perbatasan Rafah di sisi Palestina dan menghentikan aliran bantuan ke Jalur Gaza. Selama hampir dua minggu, mereka juga terus menutup pintu perbatasan Kerem Shalom yang melintasi tenggara kota Rafah dan melarang masuknya bantuan kemanusiaan dan alat-alat medis. Hal ini dilakukan dengan sengaja di tengah bencana kemanusiaan parah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sementara itu, sejak tanggal 7 Oktober hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel masih terus melanjutkan agresi terhadap Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Sabtu (18/05), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi 35.386 orang dan 79.366 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan.
Sementara itu, berdasarkan laporan pihak berwenang Jalur Gaza dan organisasi internasional, lebih dari 85 persen atau sekitar 1,7 juta penduduk Palestina di Jalur Gaza terpaksa harus mengungsi setelah kehilangan tempat tinggal dan penghidupan akibat pemboman Israel.
(T.FJ/S: RT Arabic, Palinfo)