Krisis Kelaparan Gaza dalam Bayang-Bayang Blokade Berkepanjangan

Foto: Abdel Kareem Hana/AP Photo, diambil dari situs Aljazeera
Foto: Abdel Kareem Hana/AP Photo, diambil dari situs Aljazeera

Sejak serangan besar-besaran Israel ke Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023, krisis kemanusiaan di wilayah tersebut mencapai titik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Salah satu dampak yang begitu mengerikan dari agresi ini adalah krisis pangan yang terus memburuk dari hari ke hari. Jalur Gaza, yang sebelumnya telah lama berada dalam cengkeraman blokade darat, laut, dan udara, kini menghadapi bencana kelaparan yang sistemik.

Laporan dari berbagai lembaga kemanusiaan internasional menegaskan bahwa warga Gaza, terutama anak-anak dan perempuan kini mengalami kelaparan yang akut. Tak jarang kita menyaksikan gambar dan video anak-anak dengan tubuh kurus kering dan ibu-ibu yang tak lagi mampu menyusui akibat kekurangan gizi. Banyak pula potret ketika warga Gaza sedang mengantre panjang demi makanan, sementara distribusi bantuan sering kali terhambat atau dibatasi oleh otoritas Israel. Sangat tidak manusiawi jika angka-angka kematian akibat kelaparan hanya dianggap sekadar angka statistik. Ini menjadi tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung di hadapan dunia yang seakan-akan memilih diam.

 

Memahami Situasi Blokade Gaza

Perlu untuk memahami sejarah Gaza yang diblokade untuk bisa menarik benang merahnya terhadap situasi bencana kelaparan di Gaza hari ini. Jalur Gaza memiliki luas sekitar 365 km2 , dengan jumlah penduduk sekitar 2,2 juta jiwa, dan 80% diantaranya merupakan para pengungsi yang terdaftar di Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). Pada 2007, bersama kemenangan Hamas dalam pemilu Palestina, Israel kemudian memberlakukan penutupan atau blokade Gaza dari wilayah darat, laut, dan udara. Kebijakan ini membuat otoritas Israel dapat mengontrol ketat masuk dan keluarnya orang serta material. Oleh karena itu, sangat sulit bagi warga di Gaza untuk bepergian meskipun masih dalam satu wilayah di Palestina. Ini berpuncak pada Mei 2024, ketika hak mereka untuk bepergian sama sekali ditolak.[1]

Lantas, bagaimana hukum blokade di mata internasional? Tentu, aksi pendudukan militer Israel di Gaza ini adalah ilegal dan harus dihentikan. Israel telah menjadikan Gaza seakan-akan penjara terbuka, sebab secara fisik, hak kebebasan bergerak mereka amat dibatasi.[2] Dalam penelitian yang telah dirampungkan oleh Profesor Ridha Mhamdi, tujuan Israel melakukan blokade Gaza adalah untuk mengurangi populasi, dan ketidaknyamanan yang diharapkan dapat mendorong emigrasi atau perpindahan penduduk menuju ke negara lain.[3] Pembatasan ini berdampak pada segala aspek kehidupan masyarakatnya, seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan lainnya.

 

Bencana Kelaparan di Gaza Saat Ini

Menurut PBB, “kelaparan” dinyatakan ketika:

  1. Setidaknya 20% atau seperlima rumah tangga menghadapi kekurangan pangan yang ekstrem
  2. Lebih dari 30% anak-anak menderita malnutrisi akut
  3. Setidaknya dua dari setiap 10.000 orang atau empat dari 10.000 anak meninggal setiap hari akibat kelaparan

Statistik yang timbul akibat kelaparan ini tidak sebatas mengenai kekurangan bahan makanan saja, melainkan mencerminkan kondisi darurat dan bentuk krisis kemanusiaan, sebab memperlihatkan buruknya akses terhadap air, makanan, dan sistem yang dibutuhkan untuk bertahan hidup.[4]

Adapun laporan yang diunggah pada 25 April 2025 dari WFP (World Food Programme) atau Program Pangan Dunia, menyebutkan pada 25 April tersebut, merupakan hari dimana WFP mengirimkan stok makanan terakhirnya ke dapur umum di Jalur Gaza. Dapur umum ini telah menjadi satu-satunya sumber bantuan makanan yang konsisten bagi warga Gaza, meski hanya dapat menjangkau setengah populasi dengan hanya memenuhi 25% dari kebutuhan harian. WFP juga mendukung toko roti untuk didistribusikan kepada warga Gaza, tetapi pada 31 Maret, toko-toko roti tersebut terpaksa tutup karena kehabisan tepung terigu dan bahan bakar untuk memasak.[5]

Faktanya, harga pangan di Gaza telah meroket hingga 1.400 persen dibandingkan saat gencatan senjata. Tak ada pasokan kemanusiaan yang masuk selama lebih dari tujuh minggu sebab titik penyeberangan perbatasan utama masih ditutup. Alhasil, bencana kelaparan ini menimbulkan masalah gizi yang serius, terutama bagi anak-anak, wanita hamil menyusui, juga orang tua.[6] Situasi yang sangat kritis ini tidak berlangsung sejak awal 2025, melainkan telah terjadi sejak awal 2024, dan telah diproyeksikan oleh badan IPC (Integrated Food Security Phase Classification). Laporan yang dirilis untuk bulan Maret 2024[7] tersebut menunjukkan akan ada peningkatan jumlah kematian yang cepat akibat dari kekurangan gizi. Kematian yang akan terjadi ini diperkirakan awalnya terkonsentrasi pada anak kecil, orang tua, dan orang sakit atau cedera, tetapi resiko kematian akibat kekurangan gizi akan semakin mempengaruhi kelompok lainnya juga, terutama wanita hamil dan menyusui.

Apa yang dikhawatirkan oleh IPC pun terjadi hingga hari ini. Sekitar 93% penduduk Gaza menghadapi kerawanan pangan, bahkan angka ini berada di atas tingkat krisis yang ditetapkan oleh IPC. Sebanyak 2,1 juta warga Gaza diperkirakan akan mengalami rangkaian krisis yang lebih berat lagi jika situasi ini tidak berubah. Sebanyak 470.000 orang (22% dari populasi) akan menghadapi tingkat kerawanan pangan yang sangat parah, sehingga mengakibatkan kelaparan dan kematian. Sebanyak lebih dari satu juta (54%) akan mengalami tingkat kerawanan pangan darurat yang berakibat pada resiko tinggi kekurangan gizi kritis. Sebanyak 500.000 orang (24%) akan mengalami tingkat krisis kerawanan pangan yang mana rumah tangga menghadapi konsumsi pangan yang tidak konsisten sampai pada titik terpaksa melakukan tindakan ekstrem untuk mengamankan pangan.[8]

 

Periode Malnutrisi Akut Semakin di Depan Mata

Proyeksi Peta Malnutrisi Akut di Jalur Gaza oleh IPC untuk Periode 11 Mei – 30 September 2025 (Akses di sini: https://www.ipcinfo.org/ipc-country-analysis/details-map/en/c/1159597/?iso3=PSE)

Peta yang diproyeksikan oleh IPC di atas menunjukkan tingkat kekurangan gizi akut di Jalur Gaza. Proyeksi data tersebut penting untuk memahami kondisi kemanusiaan terkini di Gaza berdasarkan data gizi untuk anak-anak. Data tersebut dibagi per wilayah administratif, diantaranya Gaza Utara, Gaza, Deir Al-Balah, Khan Younis, dan Rafah. Namun, IPC menegaskan bahwa beberapa wilayah bisa jadi tidak terdata dengan akurat karena keterbatasan keamanan atau blokade, terutama di Rafah sebagaimana terlihat terdapat simbol di atas.

Antara tanggal 1 April hingga 10 Mei, malnutrisi akut (AMN) berada pada level Siaga dan Serius (IPC AMN Fase 2 dan 3). Namun, dari hari ke hari terlihat kondisi yang menunjukkan bahwa malnutrisi akut dapat memburuk dengan cepat. Berdasarkan peta dan laporan IPC tersebut, maka dapat disimpulkan:[9]

  1. Wilayah Gaza Utara, Gaza, dan Rafah diperkirakan akan mencapai level Kritis (IPC AMN Fase 4) antara tanggal 11 Mei hingga akhir September 2025.
  2. Wilayah Deir Al-Balah dan Khan Younis diperkirakan akan mencapai level Serius (IPC AMN Fase 3) antara tanggal 11 Mei hingga akhir September 2025.
  3. Hampir 71.000 anak di bawah usia 5 tahun diperkirakan akan mengalami kekurangan gizi akut (April 2025-Maret 2026). Sebanyak 14.100 diantaranya diperkirakan akan parah.
  4. Hampir 17.000 ibu hamil dan menyusui memerlukan perawatan untuk kekurangan gizi akut selama periode ini.

 

Kabar Terbaru: Gaza Humanitarian Foundation (GHF), Lembaga Bantuan Amerika Serikat-Israel Mulai Beroperasi

Berdasarkan laporan-laporan terkini sejak 27 Mei 2025, Gaza Humanitarian Foundation (GHF), sebuah organisasi bantuan kemanusiaan mulai beroperasi di Gaza. Organisasi yang dikelola secara privat tersebut hanya diizinkan beroperasi dengan dukungan dari Israel dan Amerika Serikat. Penyaluran bantuan pangan ini dimulai pada Senin, 26 Mei 2025, dan dianggap terbesar sejak Israel menutup akses bagi masuknya bantuan ke Gaza sejak awal Maret lalu. Namun, organisasi tersebut mendapat kritik dari para pengamat internasional, bahkan direktur eksekutifnya telah mengundurkan diri.[10]

GHF menyampaikan pihaknya telah mengirimkan truk-truk berisi makanan ke lokasi distribusi yang kemudian akan didistribusikan ke sejumlah warga Palestina. Namun, GHF tidak menyebutkan jumlah bantuan yang didistribusikan, tapi menyertakan foto beberapa warga Gaza yang mengambil bantuan tersebut. Mengapa GHF mengirimkan bantuannya ke Gaza? Sebab, mereka menganggap bahwa bantuan yang dipimpin oleh PBB dan organisasi internasional lainnya tak cukup dalam mencegah pengalihan bantuan oleh Hamas. Di lain sisi, banyak kecurigaan yang muncul kepada GHF, termasuk PBB. Para pejabat PBB menolak bekerja sama dengan GHF karena merasa bantuan GHF sendiri melanggar prinsip kemanusiaan, sebab mengharuskan warga Gaza berjalan jauh untuk mengambil bantuan dan membatasi distribusi ke Gaza Selatan. PBB juga khawatir organisasi tersebut digunakan untuk mempersenjatai bantuan dengan membatasi siapa saja yang berhak menerimanya.[11]

Warga Palestina berkumpul di Rafah, Jalur Gaza Selatan, untuk mencari bantuan dari GHF (Sumber: Hatem Khaled/Reuters , diambil dari Aljazeera)

Berangkatlah ribuan warga Palestina ke lokasi pendistribusian bantuan di Rafah, Jalur Gaza pada 27 Mei. Mereka berada dalam kondisi kelaparan setelah melalui hari hari penuh keterbatasan pangan. Namun, alokasi bantuan kemanusiaan tersebut sempat kisruh. Dari yang dilaporkan, pihak GHF kewalahan karena warga Palestina menyita paket-paket pangan. Pada saat yang bersamaan, kepadatan dan penyerbuan terlihat di lokasi pendistribusian. Tentara Israel pun melepaskan tembakannya, sehingga melukai 46 orang, dan 3 orang tewas. Namun, pihak Israel membantah telah melakukan serangan tersebut. Namun, Ahmad Ibsais melalui Aljazeera mengatakan situasi tersebut adalah logis terjadi dari suatu sistem yang tidak dirancang semestinya. Warga Palestina yang kelaparan terpaksa harus menunggu berjam-jam di tengah teriknya matahari demi sekotak makanan. Keputusasaan dan kelelahan akibat kelaparan tersebut mendorong mereka mencoba untuk mendesak maju.[12] Sistem ini seperti sebuah rancangan yang memaksa warga Palestina untuk  agar tetap dalam kelaparan.

Penulis: Nadea Salsabila Putri

Sumber:

[1] Nadine Bahour et al., “Food Insecurity, Starvation and Malnutrition in the Gaza Strip,” East Mediterr Health J 31, no. 4 (2025): 281.

[2] Ibid.

[3] Ridha Mhamdi, “Beyond the Blockade: Exploring Research Outputs in the Gaza Strip,” Research Square (May 16, 2024): 2.

[4] Alia Chughtai and Hanna Duggal, “What Is Famine, and Why Is Gaza at Risk of Reaching It Soon?,” last modified May 16, 2025, https://www.aljazeera.com/news/2025/5/16/what-is-famine-and-why-is-gaza-at-risk-of-reaching-it-soon.

[5] “WFP Runs out of Food Stocks in Gaza as Border Crossings Remain Closed,” World Food Programme, last modified April 25, 2025, https://www.wfp.org/news/wfp-runs-out-food-stocks-gaza-border-crossings-remain-closed.

[6] Ibid.aa

[7] Nicholas Haan et al., “Famine Review Committee: Gaza Strip, March 2024” (IPC (Integrated Food Security Phase Classification), March 2024), 11.

[8] Alia Chughtai and Hanna Duggal, “What Is Famine, and Why Is Gaza at Risk of Reaching It Soon?,” Aljazeera, last modified May 16, 2025, https://www.aljazeera.com/news/2025/5/16/what-is-famine-and-why-is-gaza-at-risk-of-reaching-it-soon.

[9] “Gaza Strip: Acute Malnutrition Situation for April 2025 – March 2026,” IPC (Integrated Food Security Phase Classification), last modified May 12, 2025, https://www.ipcinfo.org/ipc-country-analysis/details-map/en/c/1159597/?iso3=PSE.

[10] Matthew Ward Agius, “Organisasi Bantuan Baru Bagi Gaza Mulai Beroperasi,” last modified May 28, 2025, https://www.dw.com/id/kontroversi-bantuan-kemanusiaan-gaza/a-72693089.

[11] Jacob Magid, “New Gaza Aid Body Starts Operating, Pans Hamas Threats toward Those Cooperating with It,” The Times of Israel, last modified May 27, 2025, https://www.timesofisrael.com/new-gaza-aid-body-starts-operating-pans-hamas-threats-toward-those-cooperating-with-it/.

[12] “‘Heinous Crime’: Israel Kills 10 Desperate Aid Seekers in Gaza in 48 Hours,” Aljazeera, last modified May 28, 2025, https://www.aljazeera.com/news/2025/5/28/heinous-crime-authorities-say-ten-aid-seekers-killed-in-gaza-in-forty-eight-hours; Ahmad Ibsais, “Gaza’s Aid System Isn’t Broken. It’s Working Exactly as Designed,” Aljazeera, last modified May 28, 2025, https://www.aljazeera.com/opinions/2025/5/28/gazas-aid-system-isnt-broken-its-working-exactly-as-designed; Ida Rosdalina, “Mengapa Distribusi Bantuan AS Dan Israel Untuk Gaza Kisruh?,” Tempo, last modified May 28, 2025, https://www.tempo.co/internasional/mengapa-distribusi-bantuan-as-dan-israel-untuk-gaza-kisruh–1573717.

You might also like