Krisis Air di Palestina: Ancaman yang Mematikan

Sumber: Aletihad
Sumber: Aletihad

Di tengah konflik yang terus berlanjut, Palestina menghadapi permasalahan serius terkait akses air bersih. Blokade, infrastruktur yang rusak, serta distribusi sumber daya air yang tidak merata semakin memperburuk kondisi ini. Krisis air bersih tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga memperparah situasi kemanusiaan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Kondisi Krisis Air Bersih di Palestina

Dampak serangan Israel terhadap infrastruktur air di Gaza sangat signifikan. Lebih dari 80 sumur dan fasilitas desalinasi di wilayah utara tidak dapat beroperasi akibat kondisi keamanan yang memburuk. Saat ini, hanya kurang dari 40% rumah tangga di Palestina yang memiliki akses air bersih dan aman. Tingkat akses air bersih dan aman di Jalur Gaza sangat rendah (4%) dibandingkan dengan Tepi Barat (66,2%). Selain itu, hampir 20% rumah tangga di Palestina mengonsumsi air yang terkontaminasi bakteri E. coli, yang tentu berisiko tinggi terhadap kesehatan.[1]

Berdasarkan WHO, standar kebutuhan air bersih untuk setiap individu berkisar antara 50 hingga 100 liter per hari untuk keperluan dasar seperti minum, mandi, memasak, dan mencuci. Namun, akibat serangan yang terus berlanjut, warga Gaza kini hanya memiliki akses sekitar tiga liter air per hari, jumlah yang sangat jauh dari standar minimum untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak.[2]

Sumber: Visualizing Palestine

Data dari Visualizing Palestine menunjukkan bahwa tingkat konsumsi air di Gaza telah berada di bawah standar minimum WHO, bahkan jauh sebelum agresi militer terbaru yang semakin menghancurkan infrastruktur air. Pada November 2023, konsumsi air harian di Gaza terus menurun dan melewati batas konsumsi air darurat yang ditetapkan WHO.[3]

Sebelum pecahnya perang pada 7 Oktober 2023, sekitar 90% sumber air di Gaza sudah tidak layak dikonsumsi. Satu-satunya sumber air bawah tanah di wilayah ini juga telah tercemar oleh limbah, zat kimia, dan intrusi air laut. Bahkan, 10% air yang dianggap aman untuk dikonsumsi pun sering kali bercampur dengan air berkualitas rendah yang hanya dapat digunakan untuk mencuci.[4]

Dampak Kesehatan

Tingkat kontaminasi air di Gaza semakin mengkhawatirkan. Masalah kesehatan yang terjadi dengan angka yang cukup tinggi salah satunya adalah diare. Dalam waktu satu minggu, kasus diare pada anak-anak di Gaza meningkat drastis. Masalah kesehatan ini cukup darurat, mengingat bahwa kondisi imunitas para pengungsi, khususnya kelompok rentan, cukup rendah.

Sumber: REUTERS/Mohammed Salem

Diare merupakan salah satu penyebab kematian utama pada anak-anak di bawah usia lima tahun. Kematian akibat diare disebabkan oleh dehidrasi akibat hilangnya sejumlah air dan elektrolit dalam tubuh melalui tinja cair. Hampir 60% kematian akibat diare disebabkan oleh air minum yang telah terkontaminasi dan sanitasi yang buruk.[5]

Jumlah kasus diare pada anak balita di Jalur Gaza mengalami peningkatan dari 48.000 menjadi 71.000 hanya dalam waktu satu minggu sejak 17 Desember 2023. Artinya, terjadi penambahan sekitar 3.200 kasus baru setiap hari.[6] Lonjakan kasus diare ini menandakan peningkatan kasus yang sangat drastis, mencapai sekitar 2000% dalam waktu singkat.

Lonjakan kasus diare tersebut terjadi akibat sanitasi yang buruk, mengonsumsi air dan makanan yang terkontaminasi bakteri atau virus, serta lingkungan yang kotor memungkinkan agen penyakit berkembang dengan begitu cepat sehingga tingkat penularannya menjadi sangat tinggi. Ditambah lagi mengingat kondisi kamp. pengungsi warga Palestina yang cukup padat dan tidak layak, tentu penularan akan terjadi dalam waktu singkat.

Penelitian yang dilakukan oleh Nasrin, et. al (2023) menyatakan bahwa anak-anak yang mengalami diare dengan intensitas sedang hingga berat, berisiko mengalami stunting sebesar 1,3 kali lebih tinggi dibandingkan anak-anak yang tidak mengalami diare. Hasil ini didukung oleh penelitian Meta-Analysis terkait pengaruh kejadian diare terhadap stunting yang dilakukan oleh Firmansyah et. al (2023) bahwa balita dengan riwayat diare memiliki risiko mengalami stunting 1,21 kali dibandingkan dengan balita tanpa riwayat diare.

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, mengalami kejadian infeksi yang berulang, khususnya pada 1000 hari pertama kehidupan. Kondisi ini berbahaya sebab tidak hanya berpengaruh pada pertumbuhan fisik, namun juga pada perkembangan kognitif serta produktifitas di masa mendatang.

Anak yang mengalami stunting cenderung memiliki tubuh yang lebih pendek daripada anak seusianya, serta memiliki kekebalan tubuh yang lemah sehingga meningkatkan risiko kematian pada anak. Dampak jangka panjangnya, anak mengalami penurunan fungsi kognitif dikarenakan pertumbuhan otaknya yang terhambat selama masa tumbuh kembang. Hal ini akan mempengaruhi kemampuan anak dalam berfikir, belajar, hingga memecahkan masalah.

Diare merupakan ancaman kesehatan yang serius, terutama di daerah dengan akses air bersih yang terbatas. Penyakit ini dapat menyebabkan dehidrasi parah, kekurangan gizi, bahkan kematian, terutama pada anak-anak dan lansia. Tanpa ketersediaan air bersih dan sanitasi yang baik, diare akan terus menjadi ancaman penyakit bagi masyarakat, terutama pada wilayah krisis seperti Palestina.

Tindakan ke Depan

Krisis air bersih yang terjadi di Palestina bukan sekadar masalah kekurangan sumber daya, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Sulitnya akses air bersih menyebabkan lonjakan kasus diare, terutama pada anak-anak, yang dapat berujung pada dehidrasi parah hingga kematian. Kondisi ini apabila tidak ditangani dengan semestinya, akan berimplikasi pada kondisi kesehatan generasi selanjutnya.

Akses air bersih, sebagaimana hak bagi seluruh masyarakat di dunia, berlaku juga untuk rakyat Palestina. Jika permasalahan darurat ini tidak segera ditindaklanjuti, maka penderitaan akan terus berlanjut dan mengancam masa depan generasi mendatang.

 

Penulis: Sofwatul Hanim (Mahasiswa Pascasarjana Epidemiologi Komunitas Universitas Indonesia)

 

Sumber:

[1] “Vulnerable Children and Communities in the State of Palestine: Access to Safe Water, Sanitation, and Hygiene,” UNICEF, diakses 20 Maret 2025, https://www.unicef.org/sop/stories/vulnerable-children-and-communities-state-palestine-access#_ftnref1.

[2] “Krisis Air di Gaza, Warga Palestina Kian Sulit,” Yakesma, diakses 20 Maret 2025, https://www.yakesma.org/krisis-air-di-gaza-warga-palestina-kian-sulit/.

[3] “Persentase Air Layak Konsumsi Turun 97 Persen, Masyarakat Gaza Terpaksa Minum Air Tercemar,” GoodStats, diakses 22 Maret 2025, https://goodstats.id/article/persentase-air-layak-konsumsi-turun-97-persen-masyarakat-gaza-terpaksa-minum-air-tercemar-Wrcyp.

[4] Yakesma, loc. cit.

[5] UNICEF, Pneumonia and Diarrhoea: Tackling the Deadliest Diseases for the World’s Poorest Children (New York: UNICEF, 2016), diakses 25 Maret 2025, https://data.unicef.org/wp-content/uploads/2016/11/UNICEF-Pneumonia-Diarrhoea-report2016-web-version.pdf.

[6] UNICEF, Intensifying Conflict, Malnutrition and Disease in Gaza Strip Creates a Deadly Cycle, UNICEF, diakses 25 Maret 2025, https://www.unicef.org/press-releases/intensifying-conflict-malnutrition-and-disease-gaza-strip-creates-deadly-cycle.

You might also like