Kontruksi Sedang Dilakukan dan Gaza Dibelah 3 Bagian, Israel Berencana Menetap Hingga 2026

Gaza, NPC – Tentara Israel sedang mempercepat upaya untuk membangun keberadaan permanen di Jalur Gaza, dengan niat untuk tetap tinggal setidaknya hingga 2026. Langkah yang dilaporkan dalam artikel surat kabar Israel, Haaretz, pada Rabu (13/11/2024), akan mengubah lanskap Jalur Gaza dan memunculkan kekhawatiran mengenai masa depan Gaza.

Apa yang Terjadi di Gaza?

Menurut Haaretz, pasukan Israel melakukan langkah besar dalam mengubah Gaza menjadi zona militer. “Pekerjaan ini berkembang dengan kecepatan penuh,” tulis surat kabar tersebut.

Langkah ini termasuk pembangunan jalan-jalan lebar, pemasangan antena seluler, serta pembangunan jaringan air, saluran pembuangan, dan listrik. Beberapa bangunan bersifat sementara, sementara lainnya merupakan struktur permanen. Semua ini merupakan bagian dari rencana besar untuk memastikan kontrol Israel dan mencegah pejuang perlawanan menggunakan infrastruktur sipil sebagai tempat berlindung.

Penghancuran Bangunan untuk Pengendalian Strategis

Sejalan dengan strategi ini, Israel telah secara sistematis menghancurkan bangunan di seluruh Jalur Gaza, membuat banyak rakyat Palestina terpaksa mengungsi. Puluhan ribu penduduk, terutama di utara Jalur Gaza, telah dipaksa meninggalkan rumah mereka. Meskipun wilayah yang masih dihuni menjadi sasaran tembakan artileri, banyak warga Palestina yang menolak untuk pergi. Haaretz menyoroti bahwa taktik ini bertujuan untuk membersihkan wilayah tersebut dan mengubahnya menjadi zona militer.

Perluasan Kehadiran Militer: Tidak Hanya di Utara

Operasi militer Israel tidak terbatas pada wilayah utara Gaza saja. Laporan mengonfirmasi bahwa rencana ini mencakup empat zona besar di berbagai bagian Gaza, salah satunya adalah Koridor Netzarim. Koridor yang membagi Jalur Gaza menjadi dua bagian ini, telah berubah sejak awal perang Gaza. Saat ini, koridor ini berfungsi sebagai fasilitas militer utama, dengan pusat penahanan dan perumahan permanen bagi tentara Israel. Strategi ini bertujuan untuk mencegah kembalinya pengungsi Palestina ke wilayah utara.

Tujuan Militer Jangka Panjang: Kehadiran Militer Permanen Israel

“Grafik pertempuran untuk tahun 2025” telah dibagikan kepada pasukan Israel, menandakan bahwa tentara penjajah Israel tidak berniat meninggalkan Gaza sebelum tahun 2026.

Seorang perwira mengatakan kepada Haaretz: “Ketika Anda melihat jalan-jalan sedang dibangun di sini, jelas bahwa ini tidak ditujukan untuk manuver darat atau serangan oleh pasukan ke berbagai tempat. Jalan-jalan ini mengarah ke tempat-tempat dari mana beberapa pemukiman Israel telah dipindahkan (sebelumnya)”.

Meskipun tidak ada rencana eksplisit untuk membangun kembali pemukiman-pemukiman, infrastruktur yang sedang dalam pembangunan ini menunjukkan arah yang dituju militer.

Gaza Dibagi Tiga Zona Terpisah

Sebagai bagian dari strategi yang lebih luas, tentara penjajah Israel bekerja untuk membagi Gaza menjadi tiga zona terpisah: utara, tengah, dan selatan. Koridor-koridor darat baru telah dibentuk dalam beberapa bulan terakhir, termasuk satu yang bertujuan memisahkan kota-kota utara Beit Hanoun, Beit Lahia, dan Jabalia dari Kota Gaza. Langkah ini akan semakin memperkuat kontrol Israel atas wilayah tersebut.

Baru-baru ini, surat kabar Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa otoritas Israel sedang membangun instalasi militer permanen di seluruh Gaza. Pos-pos militer ini akan menjadi tulang punggung untuk keberadaan militer jangka panjang yang secara terbuka sedang dibicarakan oleh pejabat Israel.

Kemungkinan Pembangunan Pemukiman Yahudi di Jalur Gaza

Meskipun pemerintah Israel secara resmi membantah adanya rencana untuk mendirikan kembali pemukiman Yahudi di Jalur Gaza, tentara Israel dan pejabat pemerintah secara terbuka mengungkapkan aspirasi mereka untuk mengusir penduduk Palestina dan menciptakan kembali blok pemukiman Gush Katif yang pernah ada sebelum tahun 2005.

Bulan lalu, Partai Likud yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyelenggarakan sebuah konferensi berjudul “Mempersiapkan Pemukiman di Gaza”, yang menunjukkan minat pemerintah terhadap rencana tersebut.

Pasukan Israel sedang mempersiapkan landasan untuk keberadaan militer yang tak terbatas di Gaza. Infrastruktur militer dan sipil yang sedang dibangun ini kemungkinan akan membuka jalan untuk pemukiman ilegal di masa depan, sebuah proses yang bisa memakan waktu bertahun-tahun untuk terwujud.

Genosida Berlanjut

Sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat dan sejumlah kawasan di Lebanon. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Senin (11/11), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 43.603 orang dan 102.929 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan. Lebih 10.000 orang dinyatakan hilang, di tengah kerusakan besar-besaran pada bidang kesehatan dan infrastruktur, serta krisis kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak.

Sementara itu, kekejaman Israel juga meningkat di Tepi Barat termasuk Yerusalem timur, di mana lebih 779 penduduk Palestina dibunuh Israel, termasuk 146 anak-anak, sejak 7 Oktober 2023. Lebih 5.600 penduduk Palestina terluka akibat kekerasan dan kejahatan tentara dan pemukim ilegal Israel.

Israel juga melakukan pembantaian di Lebanon, dengan rutin menyerang wilayah selatan Lebanon dan bahkan menyerang Beirut, ibu kota Lebanon. Israel membunuh 3.243 penduduk Lebanon dan lebih dari 14.134 terluka akibat serangan Israel sejak 8 Oktober 2023.

(T.FJ/S: The Cradle, Mondoweiss)

 

You might also like