Ditulis oleh: Qassam Muaddi*
Yerusalem, NPC – Tanah yang hangus akibat pembakaran itu masih mengeluarkan asap dari balik lapisan abu hitam tebal yang menutupinya. Asap itu membentang mulai dari batu nisan di pemakaman desa hingga tembok kuno Gereja Bizantium abad ke-4. Para penjajah Israel datang ke tempat ini pada hari Senin, 7 Juli 2025 lalu, masuk ke dalam wilayah desa. Mereka meninggalkan jejak dengan membakar area sekitar Gereja al-Khader (Santo Georgius), situs paling suci bagi warga desa.
Taybeh, sebuah kota kecil yang terletak di timur laut Ramallah, merupakan desa mayoritas Kristen terakhir yang tersisa di Palestina, tepatnya di wilayah Tepi Barat yang diduduki. Serangan terhadap desa Palestina ini menjadi peringatan yang mengerikan bagi para penduduknya, meski mereka tidak merasa terkejut. Hal ini sudah lama mereka khawatirkan, sejak tanah-tanah Taybeh mulai direbut oleh penjajah Israel dan perluasan permukiman ilegal semakin meluas.
Di atas sebuah bukit yang menghadap matahari terbenam, berdirilah rumah Abdallah Abu Fazaa, di pinggiran Taybeh. Hanya sekitar lima menit dari pusat kota, Abu Fazaa masih hidup seperti nenek moyangnya, sebagai orang Badui, di rumah sederhana dari bahan prefabrikasi. Di samping rumahnya terdapat kandang kecil berisi kurang dari sepuluh ekor domba. Tanah lapang yang tersisa hampir tak cukup untuk menggembalakan ternak yang dimilikinya.
Wilayah kecil yang ia tempati sekarang tak sebanding dengan perbukitan luas tempat ia dan anak-anaknya dulu menggembala puluhan kambing dan domba di lereng timur Lembah Yordan, antara Taybeh dan Jericho. Semuanya berubah sejak 7 Oktober 2023.
Ketika ayahnya memberi isyarat, Ibrahim, anak bungsu Abdallah, berdiri dari kasur lantai—ciri khas rumah-rumah Badui—mengambil teko di tengah ruang tamu, dan menyuguhkan secangkir teh manis kepada tamu. Ini adalah bagian dari tradisi keramahtamahan orang Badui, dan selalu dilakukan dengan tangan kanan, sesuai adat. Sementara itu, sang ayah menyalakan rokok dan memberi tanda bahwa ia tidak ingin difoto.
Abdallah Abu Fazaa dan keluarganya diusir oleh penjajah Israel dari lereng timur Taybeh, tak lama sebelum perang Israel di Gaza dimulai. Seluruh komunitasnya mengalami hal yang sama. Kini, ia bahkan tak berani mendekati tanah tempat ia tinggal sejak kecil. Para penjajah Israel telah memasang saluran irigasi di wilayah tersebut selama lebih dari satu tahun setengah dan menggunakan bukit-bukit itu untuk menggembala sapi.
Abu Fazaa khawatir dirinya bisa disakiti atau bahkan dibunuh jika kembali ke sana. Ia kini tinggal di pinggiran kota, dekat kebun zaitun milik keluarga-keluarga Palestina di Taybeh. Untuk tetap bisa menggembala dan mencari nafkah, ia terpaksa mengurangi jumlah ternaknya. Ia mengaku, “Kalau kamu tidak bisa berpindah-pindah lagi dan hanya tinggal di satu tempat, kamu bukan orang Badui lagi.”
Ini bukan kali pertama keluarga Abu Fazaa mengalami pengusiran atau pembatasan gerak. Selama bertahun-tahun, komunitas Badui telah menjadi bagian dari kehidupan sosial di desa dan kota yang tersebar di wilayah Palestina ini. Taybeh adalah salah satunya.
Pengusiran komunitas Badui dari padang penggembalaan mereka dibarengi dengan perampasan tanah desa Palestina oleh Israel. Hal ini telah mengubah kehidupan orang-orang Badui maupun warga desa secara keseluruhan.
Keluarga Badui Palestina yang diusir Israel pada Oktober 2024 mendirikan tenda di lahan desa Rammun, sebelah timur Ramallah, tepat di seberang Jalan Allon. (Foto: Qassam Muaddi/Mondoweiss)
Mengganggu Ekosistem Sosial yang Terbentuk dari Generasi ke Generasi
“Sebelum pendudukan (Palestina oleh Israel) tahun 1967, kami semua adalah petani yang hidup dari hasil tanah, dan orang Badui adalah bagian dari siklus pertanian tahunan,” kata Naameh Abdallah, warga Taybeh berusia 83 tahun, kepada Mondoweiss. “Semua tanah yang sekarang termasuk dalam Area C antara Taybeh dan Jericho milik keluarga-keluarga Taybeh, dan semuanya dulu adalah lahan pertanian.”
“Kami biasa menanam berbagai tanaman musiman. Setengah tanah kami gunakan untuk menanam gandum, yang menjadi bahan utama roti kami, dan setengahnya lagi untuk menanam kacang arab, lentil, wijen, atau jenis biji-bijian lain sesuai musim. Tahun berikutnya, kami menukar bagian tanaman,” tambahnya.
Pada musim panas, keluarga-keluarga Badui Palestina biasa pindah dari Lembah Yordan dan sekitar Jericho ke dataran tinggi untuk menghindari panas, jelas Abdallah.
“Mereka mendirikan kemah di tanah kami untuk menggembalakan ternak dan menyuburkan tanah dengan kotoran ternak mereka. Jadi, kami punya kesepakatan lisan dengan mereka,” jelasnya. “Mereka membayar kami menggunakan anak domba, susu, atau keju, dan kami juga memberi mereka hasil panen kami. Karena itu, kami selalu punya hubungan baik dengan orang Badui dan menganggap mereka sebagai bagian dari desa, seperti sekarang.”
Hubungan ini mulai berubah sejak pendudukan Israel tahun 1967, yang membawa perubahan besar dan mengubah cara hidup ekonomi pedesaan Palestina. Salah satu dampaknya adalah terganggunya hubungan penduduk Palestina dengan tanah mereka dan dengan sesama mereka.
“Bagi kami, ini adalah kelanjutan dari proses yang sudah dimulai sejak tahun 1948. Keluarga kami termasuk klan Badui Kaabnah, yang tersebar mulai dari gurun Arab bagian utara di selatan Yordania, melalui gurun Naqab, sampai ke perbukitan Hebron,” kata Abdallah Abu Fazaa.
Keluarga Abu Fazaa telah tinggal di wilayah luas antara Perbukitan Hebron Selatan dan Gurun Naqab Utara selama berabad-abad, tetapi mereka diusir Israel dari sana pada tahun 1948 dan terpaksa pindah ke Lembah Yordan. Di sana, mereka melanjutkan cara hidup nomaden mereka.
“Sebelum 1967, kami bergerak antara wilayah al-Auja, dekat Jericho, dan lereng Taybeh, sekitar 6 sampai 8 kilometer dari kota. Orang Taybeh tetap mengolah tanah itu,” kata Abu Fazaa.
Setelah pendudukan Israel atas tanah Palestina di Tepi Barat, dataran al-Auja menjadi tidak bisa diakses oleh keluarga Abu Fazaa karena tentara Israel menjadikan wilayah itu sebagai area latihan militer. Hal ini memaksa mereka mengubah pola perpindahan musiman, dengan pindah ke lereng bukit yang lebih tinggi.
“Bukit yang dulu kami gunakan sebagai tempat perkemahan musim panas, berubah menjadi tempat kami bermukim saat musim dingin. Di musim panas, kami naik lebih tinggi lagi, dekat dengan pinggiran kebun zaitun di dekat kota. Saat itulah segalanya menjadi lebih rumit,” jelasnya.
Setelah itu terjadi perubahan sosial yang besar akibat pendudukan. Pertanian di Taybeh hancur, karena tanah yang dulu digunakan untuk bercocok tanam disita oleh tentara Israel dan kemudian dijadikan permukiman Israel bernama Ofra yang ilegal menurut hukum internasional.
“Pendudukan tahun 1967 menghentikan pertanian seperti yang kami kenal,” kenang Naameh Abdallah. “Saya ingat, pada bulan Juni 1967, ayah saya yang sudah meninggal dan dua saudara saya sedang memanen gandum di tanah barat kota, lalu tentara Israel datang dan memerintahkan mereka pergi segera, sehingga mereka harus meninggalkan hasil panen.”
“Itu adalah kali terakhir kami bisa mengakses tanah itu. Sekarang, di tempat itu berdiri permukiman Israel bernama Ofra,” tambahnya.
Abdallah mengatakan keluarganya dulu mengolah lebih dari seratus dunam (lebih dari 10 hektare) tanah dan hasilnya hampir tidak cukup untuk kebutuhan hidup dan dijual, karena keluarga besarnya yang terdiri dari 12 orang. Ketika mereka kehilangan akses ke sebagian besar tanah mereka, hidup berubah.
“Tiga saudara saya pergi ke Amerika untuk mencari kerja, dan di keluarga paman saya, yang tidak pergi mencari kerja mulai bekerja di bidang konstruksi, sering kali di Israel. Itulah satu-satunya pekerjaan yang menghasilkan cukup uang untuk hidup, kecuali kalau punya pendidikan. Jadi, dengan cara ini atau itu, kami secara bertahap terpaksa berhenti menjadi petani,” katanya.
Kedatangan Penjajah Israel
Pada tahun 1970-an, ketika Israel mulai memperluas kebijakan permukiman di Tepi Barat, mereka membuat banyak tanah tidak bisa diakses oleh penduduk Palestina. Cara yang paling sering digunakan saat itu adalah dengan membuat “zona tembak militer”, wilayah yang diklaim untuk latihan militer, tetapi akhirnya digunakan untuk membangun permukiman baru Israel.
Pada tahun 1979, Ariel Sharon, Menteri Pertanian Israel saat itu, mengatakan kepada perwakilan Komite Permukiman Organisasi Zionis Dunia bahwa “zona tembak” di Tepi Barat akan digunakan sebagai “cadangan tanah untuk permukiman”.
Hal ini terungkap lewat laporan dari media Israel +972 Magazine yang membocorkan notulen rapat yang bersifat rahasia. Hingga sekarang, tentara Israel masih menggunakan kebijakan ini, seperti yang terbaru di Masafer Yatta, Perbukitan Hebron Selatan, yang dijadikan “zona tembak” dan memaksa 2.000 penduduknya untuk mengungsi.
Di seluruh Tepi Barat, kebijakan ini membuat penggunaan tanah pertanian secara permanen oleh penduduk Palestina hampir tidak mungkin dilakukan, terutama di wilayah di luar rencana kota dan lahan pertanian desa. Wilayah-wilayah ini kemudian diklasifikasikan dalam Perjanjian Oslo 1993 sebagai Area C, yang mencakup lebih dari 60 persen tanah Tepi Barat dan berada di bawah kontrol langsung Israel.
“Di wilayah ini, kami tidak bisa bertani seperti dulu, dan dengan banyaknya anak muda yang mengejar pendidikan tinggi dan mencari pekerjaan bergaji tetap, tenaga kerja untuk bertani semakin berkurang. Jadi kami mulai lebih bergantung pada keluarga Badui untuk merawat tanah-tanah tersebut,” kata Naameh Abdallah.
Hubungan ini adalah kelanjutan dari kerjasama yang sudah berlangsung selama beberapa generasi. Abu Fazaa menjelaskan bahwa generasi ayahnya biasa menggembalakan ternak di tanah ini selama musim panas dan menyuburkannya dengan kotoran domba, sementara warga Taybeh bertani di musim dingin.
“Tanah itu menjadi tempat tinggal semi permanen kami, di mana warga Taybeh sudah tidak lagi bertani,” jelasnya. “Sedangkan tempat musim panas kami pindah ke luar kota, di mana generasi ayah saya bahkan tidak pernah mendekat. Di situlah warga Taybeh menanam dan membajak tanah sepanjang tahun.”
“Lalu datanglah para pemukim penjajah Israel,” lanjutnya. “Dan tantara Israel ikut datang Bersama mereka,”
Pada tahun 1977, Israel membangun permukiman Rimonim di sebuah bukit milik keluarga Taybeh di luar kota. Keluarga Badui Palestina yang tinggal di lahan pertanian sekitar mulai terbiasa dengan pembatasan penggembalaan dari pemukim dan tentara Israel yang terjadi setiap tahun.
Lokasi Rimonim bukan kebetulan. Permukiman ini terletak tepat di samping Jalan Allon, yang mulai direncanakan dan dibangun Israel setelah Perang 1967. Jalan yang dinamai menurut Jenderal Israel Yigal Allon ini membentang di sisi timur Tepi Barat dari utara ke selatan, memisahkan daerah perbukitan timur Ramallah dan Nablus dengan Lembah Yordan. Saat dibangun, jalan ini menjadi bagian dari rencana besar Allon untuk menguasai sepenuhnya keamanan Lembah Yordan “untuk alasan keamanan,” tetapi kenyataannya digunakan sebagai alasan untuk aneksasi.
Khalil Tafakji, seorang kartografer Palestina dan ahli permukiman Israel, mengatakan kepada Mondoweiss bahwa “Rencana Allon dibuat oleh pemerintahan Buruh Israel sebagai rencana keamanan, tapi kemudian menjadi dasar penguasaan penuh dan permukiman Israel di Lembah Yordan di tahun-tahun berikutnya. Semua tanah di timur Jalan Allon diklasifikasikan sebagai Area C.”
Menurut Tafakji, rencana aneksasi Lembah Yordan Palestina yang diajukan Benjamin Netanyahu pada 2019 hanyalah pengulangan dari Rencana Allon. “Namun kali ini, kata ‘aneksasi’ secara eksplisit digunakan, menjadikannya proyek sayap kanan yang jelas.
Sejak 2019, rencana aneksasi Tepi Barat didukung dan dikampanyekan oleh Menteri Keuangan Israel garis keras, Bezalel Smotrich, yang kini bagian dari koalisi pemerintahan Netanyahu.
___
*Qassam Muaddi merupakan jurnalis dan penulis Palestina yang telah meliput perkembangan sosial, politik, dan budaya Palestina dalam bahasa Arab, Prancis, dan Inggris sejak 2014.
(T.FJ/S: Mondoweiss)