Yerusalem, NPC – Dalam beberapa hari terakhir, kekerasan, perampasan, dan perusakan oleh pemukim ilegal Israel terhadap penduduk sipil Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat mengalami peningkatan yang mengkhawatirkan. Pada Minggu (25/05/2025), pemukim kolonial Israel menyerang penduduk sipil Palestina di kawasan Air Terjun Al-Auja, Jericho, untuk ketiga kalinya dalam satu hari.
Serangan tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk mengusir keluarga Palestina yang telah tinggal di wilayah tersebut selama puluhan tahun, dan mendirikan pos pemukiman ilegal yang baru.
Serangan ini terjadi hanya sehari setelah pemukim kolonial Israel, dengan perlindungan tentara Israel, memutus pasokan air ke wilayah tersebut.
Di dataran Salim, sebelah timur kota Nablus yang diduduki, pemukim kolonial Israel juga terus membakar ladang gandum pada hari Minggu. Serangan ini bersamaan dengan aksi kekerasan lainnya terhadap para penggembala Palestina di wilayah utara Lembah Yordan.
Pada hari Sabtu (24/05), setidaknya 40 dunam (sekitar 4 hektare) ladang gandum di desa Sebastia dekat Nablus dibakar oleh pemukim ilegal.
“Kolonis datang dari pemukiman Shavei Shomron dan pos ilegal baru yang didirikan di wilayah tersebut. Pembakaran ini menargetkan lahan pertanian milik penduduk Palestina lokal,” kata Mohammad Azem, kepala kota Sebastia, kepada kantor berita WAFA pada 24 Mei.
Akibat kebakaran tersebut, banyak tanaman hancur total dan menghilangkan sumber mata pencaharian para petani Palestina. Pada hari yang sama, setidaknya 70 pohon zaitun milik seorang petani Palestina di Hebron dicabut oleh pemukim.
Serangan hari Sabtu itu terjadi di tengah operasi penangkapan besar-besaran oleh tentara penjajah Israel di seluruh wilayah Tepi Barat.
Pekan lalu, sekitar 150 penduduk Palestina dipaksa meninggalkan desa Mughayyir al-Deir di timur Ramallah oleh para pemukim, setelah dibangunnya pos pemukiman ilegal baru di wilayah tersebut. Dalam lima hari, mereka mengalami intimidasi dan kekerasan berulang.
Para pemukim kolonial ini mengganggu para pria Palestina saat mereka membongkar kerangka logam dan kayu rumah mereka untuk bersiap mengungsi. Salah satu penyerang adalah Elisha Yered, anggota kelompok ekstremis Hilltop Youth yang telah dikenai sanksi oleh Inggris dan Uni Eropa atas berbagai kejahatan terhadap warga Palestina.
“Inilah yang disebut penebusan! Pos ini cukup besar dan dihuni sekitar 150 orang dari musuh (Palestina), tapi sudah dihancurkan,” kata Elisha Yered dengan bangga.
Empat hari sebelumnya, pemukim dengan perlindungan militer juga menyerang penduduk sipil Palestina dan membakar rumah serta kendaraan di kota Bruqin, Tepi Barat utara. Kota Bruqin dan desa terdekat Kafr al-Dik telah mengalami pengepungan militer dan serangan terus-menerus sejak seorang pemukim tewas dalam penembakan di wilayah tersebut awal bulan ini.
Perebutan tanah secara ilegal dan perluasan permukiman illegal Israel di tanah Palestina terus berlangsung terang-terangan oleh pemerintah Israel, meskipun hal ini jelas-jelas melanggar hukum internasional.
Dalam laporan bulan Maret, Kantor HAM PBB mencatat adanya peningkatan besar dalam pembangunan permukiman ilegal di wilayah pendudukan. Laporan dari LSM Israel menyebutkan bahwa puluhan ribu unit rumah baru akan dibangun di permukiman yang sudah ada maupun yang baru.
Sejak awal tahun ini, pasukan penjajah Israel juga melakukan operasi militer besar-besaran dan pengepungan di sejumlah kota di Tepi Barat. Operasi ini dimulai pada 21 Januari dan diberi nama “Tembok Besi”.
Menurut PBB, setidaknya 40.000 penduduk Palestina telah kehilangan tempat tinggal, sementara Israel terus menghancurkan rumah-rumah penduduk sipil Palestina secara sistematis, terutama di kamp-kamp pengungsi Jenin dan Tulkarem.
(T.FJ/S: The Cradle)