Kebijakan Ekstrem Ben-Gvir terhadap Tahanan Palestina

Ben-Gvir, pemimpin partai ekstremis Otzma Yehudit, mengajukan usulan tersebut selama pertemuan penilaian keamanan pekan lalu dengan komisaris Layanan Penjara Israel Kobi Yaakobi (Foto: Getty/The New Arab)

Usulan pembangunan fasilitas penahanan berupa kolam buaya bukan sekadar ide eksentrik, melainkan puncak dari gunung es kebijakan Israel yang kejam dan sistematis. Langkah ini mencerminkan paradigma keamanan Israel yang kini lebih mengedepankan aspek kekejaman yang dipertontonkan (spectacle of cruelty) dibandingkan pelaksanaan prosedur hukum yang berlaku secara universal.

Kekerasan sebagai Instrumen Politik

Menurut laporan Channel 13, Ben-Gvir mengajukan usulan untuk pembangunan kolam buaya sebagai fasilitas penahanan, kepada Dinas Penjara Israel (IPS). Fasilitas tersebut direncanakan dibangun di wilayah Hamat Gader, Dataran Tinggi Golan, dengan memanfaatkan buaya dari taman penangkaran setempat. Meski ide ini menuai ejekan dari beberapa pejabat kepolisian, otoritas penjara dilaporkan mulai meneliti kelayakan teknisnya. Usulan ini dinilai banyak pihak sebagai bentuk dehumanisasi yang melampaui standar hukum internasional.

Narasi “penjara yang dikelilingi parit buaya” ini muncul di tengah iklim politik di mana kekerasan terhadap warga Palestina tidak lagi dianggap sebagai anomali, namun menjadi kenyataan yang dipertontonkan kepada dunia. Dengan mengusulkan predator hewan buas tersebut sebagai penjaga, Ben-Gvir mengirimkan pesan kepada basis konstituennya bahwa nyawa tahanan Palestina tidak lagi berada dalam perlindungan hukum internasional, melainkan dalam “rantai makanan” yang ditentukan oleh kekuasaan absolut.

Para kritikus berpendapat bahwa penggunaan hewan buas sebagai penghalang fisik menciptakan teror psikologis yang permanen. Hal ini selaras dengan teori hukuman yang merendahkan martabat (degrading punishment), di mana tujuannya bukan lagi rehabilitasi atau pencegahan pelarian, melainkan penghancuran mentalitas manusia melalui rasa takut yang eksistensial.

Penjara sebagai Ruang Hukum Tanpa Peradilan

Kondisi di dalam sel yang memburuk drastis sejak akhir 2022 menunjukkan bahwa penjara Israel kini berfungsi sebagai ruang ekstra-yudisial, dimana tindakan dan hukuman terjadi di luar sistem peradilan atau pengadilan formal.

Berbagai kalangan kini melihat garis benang merah yang sama antara kebijakan Itamar Ben Gvir dengan metode opresi ekstrem yang pernah tercatat dalam sejarah kelam kamp konsentrasi Perang Dunia Kedua. Di pusat-pusat penahanan seperti Negev, Ofer, Ashkelon, Gilboa, hingga Sde Teiman, dugaan praktik dehumanisasi sistematis dilaporkan tengah berlangsung. Alih-alih berfungsi sebagai institusi pemasyarakatan, fasilitas ini dituding menjadi ruang di mana para tahanan secara perlahan dihancurkan melalui kombinasi kelaparan, wabah penyakit, paparan suhu ekstrem, serta pengabaian medis yang disengaja.

Tahanan Palestina menghadapi kelelahan ekstrem, tekanan psikologis, dan penyiksaan fisik (Foto: Minanews)

Kesaksian yang muncul dari para penyintas Palestina menggambarkan realitas yang mengerikan di balik tembok penjara. Di tengah musim dingin yang menusuk, para penjaga dilaporkan sengaja menggunakan unit pendingin udara pada suhu beku untuk melemahkan ketahanan fisik para tahanan hingga ke titik nadir. Efeknya terlihat nyata pada kondisi fisik mereka: penurunan berat badan yang drastis, luka bakar, hingga patah tulang yang tidak terobati.

Kekejaman ini tidak berhenti pada aspek lingkungan saja. Kesaksian para mantan tahanan juga mengungkap pola penyiksaan yang brutal, mulai dari penggunaan penutup mata yang berkepanjangan, posisi penyiksaan fisik yang menyakitkan, hingga metode waterboarding. Lebih jauh lagi, laporan mengenai kekerasan seksual dan pemerkosaan, serta penolakan terhadap akses sanitasi dasar, mempertegas adanya upaya sistemik untuk meruntuhkan martabat manusia di dalam fasilitas-fasilitas tersebut.

Simbolisme Pin Tali Gantungan dan Kematian Demokrasi

Ben-Gvir mengenakan pin jerat emas ke Knesset Israel pada hari Senin (Foto: Getty/The New Arab]

Penggunaan pin berbentuk tali gantungan emas oleh anggota partai Otzma Yehudit pada awal bulan Desember di Knesset bukan sekadar aksesoris, melainkan pernyataan perang terhadap prinsip-prinsip hukum progresif. Narasi ini menunjukkan adanya dorongan kuat untuk mengubah sistem peradilan Israel menjadi mesin eksekusi.

Dengan mendorong hukuman mati wajib bagi warga Palestina, pemerintahan saat ini sedang berusaha melegalkan pembunuhan yang direstui negara (state-sanctioned killing), yang secara efektif menutup ruang bagi negosiasi politik atau solusi damai di masa depan.

Reaksi Internasional dan Konsekuensi Hukum

Dunia internasional mulai bereaksi dengan kekhawatiran yang meningkat. Para pakar hukum internasional memperingatkan bahwa jika usulan seperti “penjara buaya” atau hukuman mati wajib ini diimplementasikan, Israel dapat menghadapi tuntutan lebih berat di Mahkamah Pidana Internasional (ICC).

Pelanggaran terhadap Konvensi Jenewa Keempat, yang mengatur perlindungan warga sipil di wilayah pendudukan (termasuk tahanan) menjadi poin krusial. Narasi global kini mulai mempertanyakan apakah lembaga-lembaga internasional mampu menghentikan laju kebijakan yang oleh banyak pengamat disebut sebagai bentuk apartheid hukum yang semakin terang-terangan.

Rangkaian kebijakan Itamar Ben-Gvir, mulai dari pengurangan nutrisi hingga usulan penggunaan predator di fasilitas penahanan, adalah upaya sadar untuk menghapus kemanusiaan dari subjek Palestina. Jika dibiarkan, normalisasi kekejaman ini tidak hanya akan menghancurkan kehidupan ribuan tahanan, tetapi juga meruntuhkan standar etika global dalam pengelolaan keamanan nasional.

Penulis: Fuad Nur Zaman

Sumber:

Zein Khalil, Said Amori, and Betul Yilmaz, “Israeli minister proposes keeping Palestinian detainees in facility ’surrounded by crocodiles”, Anadolu Agency, December 21, 2025. https://www.aa.com.tr/en/middle-east/israeli-minister-proposes-keeping-palestinian-detainees-in-facility-surrounded-by-crocodiles-/3777060

Lubna Masarwa, “Israel’s Ben Gvir proposes prison ‘encircled by crocodiles’ for Palestinians”, Middle East Eye, December 21, 2025. https://www.middleeasteye.net/news/israels-ben-gvir-proposes-prison-encircled-crocodiles-palestinians

The New Arab, “Israel’s Ben-Gvir proposes crocodile moat prisons for Palestinian detainees”, The New Arab, December 21, 2025. https://www.newarab.com/news/ben-gvir-proposes-crocodile-moat-prisons-palestinians

The New Arab, “Ben-Gvir’s noose pin exposes explicit push to kill Palestinians: MK Ofer Cassif”, The New Arab, December 9, 2025. https://www.newarab.com/news/ben-gvirs-noose-pin-exposes-push-kill-palestinians-cassif

Middle East Monitor, “Israeli minister proposes keeping Palestinian detainees in facility ’surrounded by crocodiles”, MEMO, December 21, 2025. https://www.middleeastmonitor.com/20251221-israeli-minister-proposes-keeping-palestinian-detainees-in-facility-surrounded-by-crocodiles/

B’Tselem, “Welcome to Hell: The Israeli Prison System as a Network of Torture Camps”, B’Tselem, August 5, 2024. https://www.btselem.org/publications/202408_welcome_to_hell

The Guardian, “Israel Must Give Access to Jailed Palestinians, UK Tells World Court,” The Guardian, May 1, 2025. https://www.theguardian.com/world/2025/may/01/israel-must-give-access-to-jailed-palestinians-uk-tells-world-court

 

You might also like