Gaza, NPC – Militer penjajah Israel telah memulai “operasi darat besar” di wilayah Gaza bagian utara dan selatan, seperti diumumkan pada hari Minggu (18/05/2025). Operasi ini disebut sebagai awal resmi dari “Operasi Kereta Perang Gideon”.
Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza, sedikitnya 132 penduduk Palestina dibunuh Israel pada hari Minggu saja, 61 di antaranya di Kota Gaza dan wilayah utara Jalur Gaza, sehingga total penduduk Palestina yang dibunuh Israel selama tiga hari terakhir mencapai 500 orang.
Dalam pernyataannya, militer penjajah Israel menyebutkan bahwa pasukan aktif dan cadangan di bawah Komando Selatan telah dikerahkan untuk mendukung serangan ini.
Juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, mengatakan bahwa pasukan penjajah Israel telah meningkatkan serangan udara dalam beberapa hari terakhir untuk “mengganggu persiapan musuh” serta memperkuat operasi darat.
Peningkatan kekerasan ini terjadi setelah kunjungan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, ke negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Serangan Udara Menyasar Rumah Penduduk Palestina
Serangan udara Israel menghantam rumah-rumah penduduk Palestina, menyebabkan banyak keluarga terbunuh secara keseluruhan. Al-Jazeera melaporkan bahwa 15 penduduk Palestina meninggal dunia atau hilang setelah sebuah rumah di lingkungan Saftawi dibom Israel.
Serangan lain yang menargetkan rumah keluarga Maqat dan Nasr di Jabalia membunuh sedikitnya 20 orang, mayoritas adalah perempuan dan anak-anak.
Di Beit Lahia, serangan terhadap rumah keluarga Al-Barawi menewaskan tujuh orang dan melukai lainnya. Serangan hebat juga terjadi di wilayah Tel al-Zaatar di kamp pengungsi Jabalia, yang menewaskan lima orang dan merusak parah Rumah Sakit Al-Awda.
Kondisi Kemanusiaan Memburuk
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza menyebutkan bahwa 20 penduduk Palestina lainnya dibunuh pada hari Minggu di wilayah tengah Gaza. Tim Pertahanan Sipil, yang kesulitan akibat kekurangan bahan bakar dan serangan tanpa henti, melaporkan bahwa lebih dari 200 orang masih hilang di bawah reruntuhan, dan banyak keluarga telah terhapus dari catatan sipil.
Sejak 7 Oktober 2023, korban jiwa akibat serangan Israel telah mencapai 53.339 orang, dan lebih dari 121.000 lainnya terluka, menurut otoritas kesehatan Gaza.
Rumah Sakit di Gaza Utara Lumpuh
Kementerian Kesehatan mengumumkan bahwa semua rumah sakit umum di Gaza Utara kini tidak beroperasi. Rumah Sakit Beit Hanoun dan Kamal Adwan telah hancur akibat serangan, sementara Rumah Sakit Indonesia dikepung dan tidak dapat lagi berfungsi.
Direktur Rumah Sakit Indonesia, Dr. Marwan Sultan, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pasukan Israel menembaki siapa saja yang bergerak di sekitar rumah sakit tersebut. Unit perawatan intensif (ICU) juga menjadi sasaran langsung, dan tim medis tidak bisa memberikan layanan apa pun karena pengepungan.
Rumah sakit di Gaza Utara memohon bantuan darah dan perlindungan internasional, karena banyak korban luka meninggal dunia akibat runtuhnya sistem kesehatan.
Sementara itu, Direktur Rumah Sakit Al-Awda, Dr. Mohammed Salha, melaporkan bahwa 10 serangan Israel menghantam area sekitar rumah sakit, menyebabkan kerusakan besar. Namun, ia menegaskan tidak akan mengevakuasi fasilitas tersebut.
Dr. Sakhr Hamad dari Rumah Sakit Kamal Adwan menyebut situasinya sebagai bencana, tanpa adanya rencana evakuasi bagi pasien maupun staf.
Dr. Mohammad Abu Salmiya, Direktur Kompleks Medis Al-Shifa, mengonfirmasi bahwa tidak ada lagi layanan medis yang berfungsi di wilayah utara.
“Kami tidak sanggup menangani jumlah korban luka yang sangat banyak. Pasien dalam kondisi kritis masih terjebak di Rumah Sakit Indonesia yang sedang dikepung,” ujarnya.
Pertahanan Sipil Hampir Lumpuh Total
Pertahanan Sipil Gaza memperingatkan bahwa 75% kendaraan darurat mereka kini tidak dapat beroperasi karena kehabisan bahan bakar. Tanpa pengiriman bahan bakar dalam waktu 72 jam, seluruh kendaraan bisa berhenti beroperasi, yang akan sangat menghambat upaya penyelamatan di seluruh Gaza.
Juru bicara mereka menegaskan bahwa pengepungan yang sedang berlangsung dan serangan langsung terhadap rumah sakit serta layanan darurat memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah sangat parah. Mereka menyerukan intervensi segera dari lembaga internasional.
(T.FJ/S: Palestine Chronicle, Al Jazeera)