Israel Terpaksa “Ubah Strategi” Akibat Perlawanan Sengit Pejuang Palestina di Gaza Utara

TOPSHOT – Palestinian members of the Ezzedine al-Qassam Brigades, the armed wing of the Hamas movement, take part in a gathering on January 31, 2016 in Gaza city to pay tribute to their fellow militants who died after a tunnel collapsed in the Gaza Strip. Seven Hamas militants were killed on January 28, 2016 after a tunnel built for fighting Israel collapsed in the Gaza Strip, highlighting concerns that yet another conflict could eventually erupt in the Palestinian enclave. / AFP / MAHMUD HAMSMAHMUD HAMS/AFP/Getty Images

Gaza, NPC – Tentara Israel, sebagaimana dilaporkan media Israel, Maariv, pada Minggu (12/01/2025), terpaksa mengubah strategi dalam menghadapi perlawanan Palestina di Gaza utara setelah mengalami kerugian besar di kota Beit Hanoun.

Akibat kesiapan tinggi dari pejuang Palestina dari Brigade Al-Qassam Hamas, khususnya setelah penyergapan yang menewaskan empat tentara Brigade Nahal dan melukai enam lainnya di Beit Hanoun, laporan Maariv menyebutkan bahwa Divisi Gaza dari tentara Israel melakukan evaluasi cepat dan mengubah taktik serta pergerakan pasukan di zona pertempuran.

“Setelah insiden yang sulit tersebut, Divisi Gaza memutuskan untuk mengambil sejumlah langkah strategis, antara lain meningkatkan daya tembak sebelum setiap pergerakan pasukan yang bermanuver. Pembukaan jalan akan dilakukan dengan pesawat nirawak, bukan hanya menggunakan buldoser. Tujuan dari langkah ini adalah untuk mendeteksi bahan peledak dari udara, termasuk dengan sistem termal, serta menemukan kamera yang digunakan oleh teroris untuk mempersiapkan serangan,” demikian laporan itu.

Selain itu, militer Israel berencana untuk mengubah rutinitas pergerakan pasukan secara lebih dinamis, dengan lebih sering melaksanakan operasi malam hari demi memanfaatkan keuntungan tersebut.

Pasukan Israel kembali memasuki Beit Hanoun sekitar dua minggu lalu sebagai bagian dari operasi besar dan pengepungan Gaza utara, yang telah memasuki hari ke-100. Berdasarkan laporan Maariv, Israel kini berusaha mengalahkan “batalion terakhir Hamas” di wilayah utara.

Tentara Israel menyebutkan bahwa operasi di Beit Hanoun kemungkinan akan berlangsung selama beberapa minggu.

Stasiun berita Israel, Ynet, melaporkan bahwa serangan mematikan yang menewaskan empat tentara di Beit Hanoun pada hari Sabtu terjadi di wilayah yang dianggap telah sepenuhnya telah dibersihkan dan dikendalikan Israel. Sebuah bom besar yang menargetkan patroli yang dipimpin oleh wakil komandan Brigade Nahal, dan pasukan tersebut diserang secara bersamaan.

Penyelidikan sedang dilakukan untuk mengetahui apakah para pejuang perlawanan Palestina berhasil mencapai okasi penyergapan dan menanam bahan peledak melalui terowongan yang belum terdeteksi oleh tentara Israel.

Selama dua minggu terakhir, sebelas tentara Israel tewas dan sekitar 20 lainnya terluka akibat serangan perlawanan Palestina di Beit Hanoun.

Meski sudah hampir setahun melakukan serangan besar-besaran yang menyebabkan banyak korban jiwa, militer Israel belum berhasil menghancurkan Hamas, meskipun tujuan perang tersebut telah diumumkan.

Pejuang Palestina, khususnya dari Brigade Al-Qassam Hamas berhasil merekrut ribuan pejuang baru dan terus beradaptasi dengan kondisi di Gaza, sebagaimana dilaporkan media Israel bulan lalu.

Pada 10 Januari, Menteri Pertahanan Israel memerintahkan militer untuk menyusun rencana untuk mencapai kemenangan yang bersifat final di Jalur Gaza dan menghancurkan Hamas secara total.

(T.FJ/S: The Cradle)

 

You might also like