Gaza, NPC– Pasukan pendudukan Israel, pada Rabu (25/12/2025), melepaskan tembakan ke arah konvoi bantuan kemanusiaan yang tengah menuju wilayah utara Jalur Gaza. Tak hanya itu, para nelayan Palestina pun turut menjadi sasaran serangan. Rentetan insiden ini kian memperparah krisis kemanusiaan yang sudah mencapai titik kritis.
Pelanggaran terbaru terhadap kesepakatan gencatan senjata ini terjadi di tengah gencarnya serangan militer Israel di seluruh wilayah kantong yang terkepung tersebut. Sumber lokal yang dikutip Quds News Network (QNN) melaporkan, pada Rabu pagi, seorang pria Palestina bernama Ayoub Nassr meninggal dunia ditembak pasukan Israel di Jabalia, Gaza Utara.
Laporan dari Kompleks Medis Al-Shifa yang dikutip Al Mayadeen menyebutkan sembilan orang terluka akibat tembakan pasukan pendudukan di luar area pengerahan militer di Jabalia. Sementara itu, di wilayah selatan, tiga warga Palestina terluka diterjang peluru tajam di timur Khan Younis. Penduduk sipil tersebut ditembak saat sedang mengumpulkan kayu bakar di perbatasan zona militer.
Tenda Pengungsian Diberondong Peluru
Kekejaman tak berhenti di sana. Pasukan Israel juga dilaporkan melepaskan tembakan langsung ke arah tenda-tenda pengungsian penduduk Palestina di kawasan Al-Mawasi, Rafah.
Saksi mata dan sumber lokal mengatakan kepada bahwa jet tempur Israel meluncurkan serangan udara ke lingkungan Al-Tuffah di timur Kota Gaza, yang dibarengi dengan tembakan artileri dan berondongan senjata api.
Di Gaza Tengah, tembakan intensif dari kendaraan militer dan helikopter Israel menyasar rumah-rumah penduduk di timur kamp pengungsi Al-Bureij. Kota Khan Younis dan Rafah di selatan pun tak luput dari serangan udara. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban jiwa dari wilayah-wilayah tersebut.
Nelayan dalam Bidikan
Angkatan laut Israel melepaskan tembakan ke kapal-kapal nelayan, menahan para nelayan, hingga menghancurkan armada mereka. Insiden ini terus terjadi sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat berlaku pada Oktober lalu.
Meski kesepakatan gencatan senjata menetapkan masuknya 600 truk bantuan per hari, data hingga pertengahan Desember menunjukkan kenyataan pahit. Rata-rata bantuan yang masuk hanya berkisar 300 truk per hari—setengah dari volume yang dijanjikan.
Laporan tersebut menyoroti bahwa hanya sekitar 58 persen dari truk-truk itu yang membawa bantuan kemanusiaan, sementara sisanya mengangkut komoditas komersial. Hal ini menyebabkan kelangkaan parah pada stok pangan, pasokan medis, dan material tenda darurat.
Otoritas pendudukan Israel juga menolak masuknya ribuan metrik ton bantuan dengan dalih pembatasan “barang dwi-guna”. Barang-barang yang dilarang mencakup tenda khusus, peralatan medis, dan material penguat tempat penampungan—item yang oleh lembaga kemanusiaan dianggap sangat krusial, terutama menghadapi musim dingin.
Berdasarkan data kantor media Gaza, tentara Israel telah melakukan 875 pelanggaran gencatan senjata di Jalur Gaza sejak 10 Oktober. Rentetan pelanggaran ini telah membunuh lebih dari 400 penduduk Palestina dan melukai lebih dari 1.100 lainnya.
Sejak pecahnya genosida yang dilakukan Israel pada Oktober 2023, jumlah korban jiwa akibat serangan Israel kini telah melonjak menjadi 70.942 jiwa, dengan lebih dari 171.000 orang menderita luka-luka.
(T.FJ/S: Palestine Chronicle)