Israel Serang Armada Flotilla di Tunisia, Misi Pembebasan Gaza Terus Berlanjut

Gaza, NPC – Global Sumud Flotilla (GSF), pada Rabu (10/09/2025), mengumumkan bahwa salah satu kapal mereka diserang oleh drone di sebuah pelabuhan Tunisia, menjadi serangan kedua dalam dua hari terakhir. Para aktivis yang bergabung dalam armada Flotilla  menyebut  bahwa Israel berada di balik serangan terhadap misi kemanusiaan ke Gaza ini.

Dalam pernyataannya, kelompok tersebut menyebutkan bahwa kapal berbendera Inggris, Alma, mengalami kerusakan akibat kebakaran di dek atas, namun seluruh awak dan penumpang dalam keadaan selamat. Saat ini, investigasi tengah dilakukan.

Ambulans segera dikerahkan ke lokasi kejadian, sementara kapal penjaga pantai Tunisia mengelilingi kapal tersebut. Ratusan orang berkumpul di pelabuhan sambil mengibarkan bendera Palestina dan meneriakkan slogan-slogan menentang Israel dan Amerika Serikat.

Flotila mengunggah video di Instagram yang menunjukkan sebuah benda bercahaya menghantam kapal dan api muncul di atas kapal. Namun, Reuters menyatakan bahwa video tersebut belum bisa diverifikasi secara independen.

Saif Abukeshek, anggota komite pengarah armada Flotila, menuduh Israel bertanggung jawab atas serangan tersebut.

“Israel terus melanggar hukum internasional dan meneror kami. Kami akan tetap berlayar untuk memecah blokade Gaza apa pun yang mereka lakukan,” katanya kepada Reuters.

Militer Israel maupun Penjaga Pantai Tunisia belum memberikan komentar terkait serangan ini. Serangan tersebut terjadi sehari setelah GSF melaporkan bahwa kapal bernama Family Boat juga diserang drone di perairan Tunisia dekat pelabuhan Sidi Bou Said. Namun, otoritas Tunisia membantah laporan tersebut dan menyebutnya sebagai berita palsu.

Armada Flotila ini didukung oleh delegasi dari 44 negara, termasuk aktivis asal Swedia Greta Thunberg dan politikus Portugal Mariana Mortagua, yang berusaha mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza melalui jalur laut.

GSF menyebut serangan berulang ini sebagai “upaya terorganisir untuk mengalihkan perhatian dan menggagalkan misi kami,” dan menegaskan, “Global Sumud Flotilla akan terus maju tanpa gentar.”

Sementara itu, Badan Pangan Dunia yang didukung PBB, Integrated Food Security Phase Classification (IPC), secara resmi menyatakan adanya kelaparan yang disebabkan oleh manusia di Gaza. Para ahli hak asasi manusia dan akademisi juga menyimpulkan bahwa kampanye Israel di wilayah tersebut dapat dikategorikan sebagai genosida.

Awal tahun ini, pasukan Israel berulang kali menyita kapal bantuan sipil yang menuju Gaza. Pada 27 Juli, kapal Handala dari Freedom Flotilla Coalition dicegat di perairan internasional dan ditarik ke Ashdod, dengan 21 orang di atasnya ditangkap.

Pada 9 Juni, pasukan Israel secara ilegal menaiki kapal Madleen dari Gaza Freedom Flotilla di perairan internasional, menahan 12 aktivis dan menyita muatan makanan serta perlengkapan medis.

Gaza Terus Kelaparan

Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza, pada Sabtu (06/09/2025), mengumumkan bahwa enam orang meninggal dunia dalam 24 jam terakhir akibat kelaparan dan malnutrisi, termasuk satu orang anak. Dengan demikian, jumlah total korban jiwa akibat kekurangan gizi di wilayah tersebut kini mencapai 382 orang, termasuk 135 anak-anak.

Dalam pernyataannya, Kementerian Kesehatan Palestina menyebut bahwa sejak pengumuman Integrated Food Security Phase Classification (IPC), tercatat tambahan 104 kematian, termasuk 20 anak-anak. Data ini mencerminkan semakin memburuknya krisis kemanusiaan di Gaza akibat blokade berkepanjangan serta kekurangan pasokan pangan dan obat-obatan.

Komisioner Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini, menegaskan bahwa kelaparan kini menjadi kenyataan di Gaza, dan warga sipil tengah menghadapi krisis pangan yang akut. Ia menyatakan bahwa temuan ini berdasarkan laporan para ahli dari badan PBB tersebut.

“Bantuan memang masih masuk ke Gaza, tetapi jumlahnya jauh dari cukup. Mesir kini menjadi pusat distribusi bantuan kemanusiaan, akan tetapi sejumlah hambatan masih menghalangi penyaluran bantuan ke dalam wilayah Gaza,” ujarnya.

Sejak Israel melancarkan genosida di Gaza sejak Oktober 2023, ratusan ribu penduduk Palestina telah dipaksa mengungsi dari rumah mereka di Gaza. Jumlah korban jiwa kini telah melampaui 64.300 orang, sebagian besar merupakan perempuan dan anak-anak. Beberapa laporan menyebut angka tersebut masih konservatif; jurnal medis, The Lancet, memperkirakan jumlah korban sebenarnya bisa melebihi 186.000 jiwa.

(T.FJ/S: The CradleRT Arabic)

 

You might also like