Oleh Adnan Hmidan
Jalur Gaza, NPC – Bayangkan ada “negara adidaya” di Timur Tengah yang katanya kuat secara militer, canggih teknologinya, dan disanjung sebagai satu-satunya negara “demokrasi” di kawasan. Tapi setiap kali perang meletus, negara ini langsung lari ke pangkuan Amerika Serikat sambil menangis, minta senjata, minta perlindungan, bahkan minta dibelain di forum internasional. Nama negara itu? Ya, Israel.
Sudah 77 tahun sejak proyek kolonial Zionis ditanam di jantung dunia Arab dan Islam, dan hingga kini, Israel tetap menjadi negara setengah jadi yang rapuh secara eksistensial. Di balik propaganda kekuatan militernya, Israel sejatinya adalah negara boneka, yang keberadaannya sepenuhnya bergantung pada infus senjata dan dana dari Washington. Kalau Amerika menarik dukungan, bisa-bisa Tel Aviv langsung kolaps seperti bangunan kardus disiram hujan.
Negara atau Bayi Manja?
Israel bukan sekadar negara penjajah. Ia adalah proyek politik yang sejak 1948 didukung penuh oleh kekuatan Barat, dari tentara bayaran, ahli nuklir, ilmuwan teknologi, hingga dana miliaran dolar. Semua itu bukan untuk menciptakan perdamaian, tapi untuk membangun negara di atas reruntuhan Palestina, sambil menyebarkan ilusi bahwa “ini tanah tanpa rakyat untuk rakyat tanpa tanah”.
Tapi ilusi itu mulai retak. Operasi Badai Al-Aqsa pada Oktober 2023 membongkar rapuhnya “negara kuat” ini. Israel kewalahan. Tak bisa bertahan tanpa logistik dari Pentagon, tak bisa membalas Iran tanpa restu Gedung Putih, bahkan tak bisa menembak roket tanpa memastikan ada persetujuan dari Kongres AS dulu. Apa gunanya punya senjata nuklir kalau butuh Amerika buat narik pelatuk?
Baru-baru ini, saat situasi dengan Iran memanas, Israel merengek ke Washington agar menyerang fasilitas nuklir Fordow. Dan ya, Paman Sam pun langsung beraksi.
Genosida Berkelanjutan dan Dunia yang Bungkam
Sementara itu di Gaza, Israel menjalankan genosida secara live, disaksikan seluruh dunia. Blokade, kelaparan, pembunuhan massal, penghancuran rumah sakit, masjid, sekolah, semua dilakukan dengan presisi tinggi. Bahkan Masjid Al-Aqsa pun tak luput dari penodaan. Lucunya dunia barat masih sibuk menyebutnya “hak membela diri”.
Israel mungkin punya sistem pertahanan udara, tapi ia tidak punya pertahanan moral. Ia bisa membombardir kamp pengungsi, tapi tidak bisa membunuh ide tentang kebebasan dan keadilan yang terus hidup di dada jutaan rakyat Palestina dan pendukungnya di seluruh dunia.
Negara “Dewasa” yang Tak Bisa Jalan Tanpa Pegangan
Sudah 77 tahun, tapi Israel masih bersikap seperti anak kecil yang terus berlindung di balik ketiak ibunya, dalam hal ini, Amerika Serikat. Ia tidak punya kedaulatan sejati, tidak punya ketahanan sejati, dan semakin kehilangan legitimasi globalnya. Ia bukan negara yang berdiri atas dasar keadilan, tapi atas dasar propaganda, kolonialisme, dan mesin militer.
Dan karena itulah, pendudukan Israel akan runtuh. Sebab gagasan tidak bisa dibunuh. Karena Palestina bukan hanya tempat di peta, tapi luka yang tak kering, dan kebenaran yang tak bisa disangkal.
Israel mungkin merayakan “ulang tahun ke-77”, tapi kenyataannya ia tetap negara cengeng yang tak pernah dewasa. Dan seiring dunia mulai melihat wajah aslinya, waktunya akan tiba, saat Israel harus berdiri sendiri, dan saat itu, tak ada yang bisa disalahkan ketika ia akhirnya jatuh.