Gaza, NPC – Sedikitnya 81 penduduk Palestina meninggal dunia di Gaza akibat serangan Israel dan kelaparan paksa sejak fajar, saat militer Israel mengumumkan bahwa mereka telah memulai tahap awal dari serangan yang direncanakan untuk menguasai pusat kota terbesar di wilayah tersebut, Kota Gaza, tempat hampir satu juta orang masih hidup dalam kondisi yang sangat berbahaya.
Tiga penduduk Palestina lainnya meninggal karena kelaparan di wilayah yang terkepung pada hari Rabu (20/08/2025), menjadikan total korban jiwa akibat kelaparan menjadi 269 orang, termasuk 112 anak-anak.
Serangan Israel termasuk serangan udara ke tenda pengungsi di selatan Gaza yang membunuh tiga orang. Mohammed Shaalan, mantan pemain nasional bola basket Palestina, menjadi korban terbaru dalam penembakan di titik distribusi bantuan GHF; ia ditembak mati oleh pasukan Israel di selatan Gaza. Setidaknya 30 orang yang tengah mencari bantuan juga dibunuh Israel pada hari yang sama.
Gaza kini dilanda kelaparan besar-besaran, karena blokade ketat dan serangan terus-menerus dari Israel telah memutus akses terhadap makanan, bahan bakar, dan pasokan medis.
Program Pangan Dunia (WFP) dari PBB memperingatkan bahwa malnutrisi meningkat di seluruh Gaza akibat blokade bantuan yang dilakukan Israel. “Ini bukan sekadar kelaparan. Ini adalah kelaparan massal,” kata WFP.
“Malnutrisi adalah pembunuh senyap,” lanjut badan tersebut, seraya menambahkan bahwa kondisi ini menyebabkan “kerusakan perkembangan seumur hidup” dan melemahkan sistem kekebalan tubuh, “menjadikan penyakit biasa menjadi mematikan.”
UNRWA, badan PBB untuk pengungsi Palestina, mengatakan bahwa hampir satu dari tiga anak Palestina di Kota Gaza kini mengalami malnutrisi.
Sementara itu, organisasi HAM Israel, Gisha, membantah narasi pemerintah Israel yang menyalahkan PBB atas minimnya bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza. Gisha menyatakan bahwa “sejak hari pertama serangan militernya, Israel telah menggunakan kontrol masuknya bantuan sebagai senjata perang.”
“Israel menciptakan dan terus menciptakan kondisi yang membuat pengiriman bantuan ke Gaza hampir mustahil,” tegas Gisha.
UNRWA kembali menyerukan gencatan senjata segera dan menggambarkan kondisi kerja staf mereka di Gaza sebagai bencana.
“Kami bekerja dalam kondisi yang benar-benar katastrofik,” kata Dr. Hind, seorang dokter UNRWA di Gaza. Tenaga medis lainnya menyampaikan bahwa mereka harus berjalan kaki “di bawah terik matahari” hanya untuk bisa sampai ke tempat tugas, sebelum mulai merawat orang-orang yang sangat membutuhkan bantuan.
Pertahanan Sipil Gaza juga memperingatkan krisis bahan bakar yang parah, yang menghambat upaya mereka dalam merespons situasi darurat dan penyelamatan.
“Banyak kendaraan kami mogok di tengah jalan menuju misi penyelamatan, sebagian karena kekurangan bahan bakar, lainnya karena tidak adanya suku cadang untuk perawatan. Kami menghadapi tantangan kemanusiaan besar di tengah ancaman eskalasi perang pemusnahan oleh Israel,” demikian pernyataan Pertahanan Sipil.
Gelombang Pengungsian Baru
Serangan ini terjadi saat militer Israel menyatakan akan memanggil 60.000 pasukan cadangan dalam beberapa minggu mendatang sebagai bagian dari rencana untuk merebut Kota Gaza, yang telah dihujani serangan selama beberapa pekan terakhir. Juru bicara militer menyatakan bahwa tahap awal serangan terhadap kota tersebut telah dimulai.
Hampir satu juta penduduk Palestina dilaporkan terjebak di wilayah tersebut, di mana tank-tank Israel telah merangsek mendekati pusat kota. Stephane Dujarric, juru bicara Sekjen PBB Antonio Guterres, menyatakan keprihatinan mendalam terhadap operasi militer Israel yang dapat “menyebabkan gelombang pengungsian massal baru dari orang-orang yang sudah berulang kali terusir sejak perang dimulai.”
Jurnalis Al Jazeera, Hani Mahmoud, melaporkan dari Kota Gaza bahwa serangan Israel semakin intensif di kawasan Zeitoun dan Jabalia di utara.
“Itu termasuk ledakan yang terus berlangsung akibat penghancuran sistematis rumah-rumah warga. Ini adalah strategi yang sangat efektif oleh militer Israel, yang bertujuan mengosongkan Jalur Gaza dari penduduknya dengan menghancurkan tempat tinggal mereka,” kata Mahmoud.
“Orang-orang meninggalkan semua harta benda dan persediaan makanan yang mereka kumpulkan dalam beberapa minggu terakhir,” tambahnya.
Sementara itu, keluarga para tawanan Israel di Gaza mengecam keputusan Kementerian Pertahanan Israel yang menyetujui serangan ke Kota Gaza dan menuduh pemerintah mengabaikan usulan gencatan senjata yang telah disetujui oleh Hamas, menyebut keputusan tersebut sebagai “pengkhianatan terhadap keluarga dan publik Israel.”
Hamas mengatakan bahwa serangan ke Kota Gaza membuktikan bahwa Israel berniat melanjutkan “perang brutal terhadap warga sipil” dan berusaha menghancurkan kota Palestina serta mengusir seluruh penduduknya.
“Hilangnya respons Netanyahu terhadap proposal mediator membuktikan bahwa dialah penghambat sebenarnya dari kesepakatan apa pun, bahwa dia tidak peduli dengan nyawa para tawanan Israel, dan tidak serius dengan rencana pemulangan mereka,” kata pernyataan Hamas.
Serangan ini terjadi di tengah kecaman internasional yang meningkat terhadap pelarangan bantuan makanan dan obat-obatan ke Gaza oleh Israel dan kekhawatiran akan eksodus paksa Palestina berikutnya.
“Apa yang kita lihat di Gaza adalah kenyataan apokaliptik bagi anak-anak, keluarga mereka, dan seluruh generasi ini. Penderitaan generasi Gaza ini tidak bisa digambarkan dengan kata-kata,” kata Ahmed Alhendawi, direktur regional Save the Children, dalam sebuah wawancara.
Usulan Gencatan Senjata Masih Mandek
Sementara itu, para mediator terus mencoba mengamankan kesepakatan gencatan senjata dalam perang yang telah berlangsung 22 bulan ini.
Qatar dan Mesir mengatakan mereka menunggu respons Israel terhadap proposal yang telah disetujui Hamas awal pekan ini.
Kerangka kesepakatan terbaru mencakup gencatan senjata selama 60 hari, pertukaran bertahap antara para tawanan Israel dan tahanan Palestina, serta akses bantuan yang diperluas.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu belum memberikan komentar publik terhadap usulan tersebut, meskipun AS memberikan dukungan. Pekan lalu, Netanyahu bersikeras bahwa kesepakatan apa pun harus menjamin “semua sandera dibebaskan sekaligus dan sesuai dengan syarat Israel untuk mengakhiri perang.” Laporan terbaru menyebutkan bahwa pemerintahan ekstrem kanan Israel tetap berpegang pada sikap keras ini.
Analis politik senior Al Jazeera, Marwan Bishara, mengatakan bahwa negara-negara Arab harus menekan AS agar mendorong Israel menerima gencatan senjata.
“Jelas bahwa Israel saat ini terbelah dua: Satu pihak memanggil pasukan cadangan, menyusun dan menyetujui rencana untuk menduduki kembali Jalur Gaza secara langsung dan memindahkan penduduk dari utara ke selatan sebagai bagian dari pembersihan etnis.”
“Sementara pihak lain menghadapi tekanan domestik dan ingin mengamankan pembebasan beberapa sandera hidup sebagai bagian dari kesepakatan jangka Panjang. Tanpa tekanan dari negara-negara Arab kepada Washington, kemungkinan besar Israel akan memilih skenario pertama,” kata Bishara.
Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Palestina Gaza, sejak 7 Oktober 2023, Israel dengan dukungan Amerika Serikat telah membunuh lebih dari 62.122 penduduk Palestina hingga saat ini.
(T.FJ/S: MEE)