Gaza, NPC – Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, sebagaimana dilansir Quds News, pada Minggu (01/06/2025), mengumumkan bahwa tentara penjajah Israel telah meledakkan Pusat Dialisis Ginjal Noura Al Kaabi, satu-satunya rumah sakit khusus cuci darah di Gaza bagian utara. Fasilitas ini sebelumnya melayani pasien gagal ginjal dari seluruh wilayah tersebut.
“Serangan ini adalah hukuman mati bagi ratusan pasien. Penghancuran ini menempatkan kondisi kesehatan mereka dalam risiko kehancuran yang katastrofik dan tidak dapat dipulihkan,” kata kementerian dalam pernyataan pers..
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza juga melaporkan bahwa 41 persen pasien gagal ginjal telah meninggal dunia sejak genosida dimulai. Sebagian besar meninggal karena tidak bisa mengakses layanan cuci darah akibat blokade Israel dan hancurnya infrastruktur medis.
Pejabat kesehatan menyatakan bahwa Israel menjalankan kebijakan berbahaya dan sistematis yang bertujuan mengosongkan Gaza Utara dari rumah sakit dan pusat perawatan khusus.
Sejak Oktober 2023, sistem kesehatan di Gaza telah menjadi sasaran serangan berulang dari pasukan Israel. Rumah sakit, ambulans, ruang bersalin, hingga unit gawat darurat dibom atau dipaksa berhenti beroperasi. Para pasien dan tenaga medis kini kelelahan, kewalahan, dan tidak memiliki pasokan medis dasar.
Organisasi kesehatan internasional mengecam keras serangan-serangan ini, dan memperingatkan bahwa tindakan tersebut termasuk dalam kategori kejahatan perang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan perlindungan segera terhadap seluruh infrastruktur medis di Gaza.
Sejak 7 Oktober 2023, dengan dukungan Amerika Serikat, secara keseluruhan, Israel telah membunuh lebih dari 54.000 penduduk Palestina di Jalur Gaza, termasuk setidaknya 16.000 anak-anak. Selain itu, lebih dari 10.000 orang dinyatakan hilang dan diduga meninggal, sementara hampir 120.000 lainnya mengalami luka-luka.
Bulan lalu, pihak berwenang di Gaza mengungkapkan bahwa 65 persen korban jiwa adalah perempuan, anak-anak, dan lansia. Selain itu, lebih dari 2.180 keluarga Palestina telah dimusnahkan oleh serangan Israel.
Menurut laporan Costs of War dari Universitas Brown tahun lalu, Washington menghabiskan setidaknya 22,76 miliar Amerika atau sekitar 380,92 triliun rupiah antara 7 Oktober 2023 hingga 30 September 2024 untuk mendukung tindakan Israel di Gaza dan mendorong perang brutal di kawasan tersebut.
Departemen Luar Negeri AS berulang kali menggunakan kewenangan darurat untuk mempercepat pengiriman senjata. Bulan lalu, Senat AS secara besar-besaran menolak dua resolusi yang mengkritik pengiriman senjata dalam jumlah besar dan bantuan militer lainnya ke Israel.
“Donald Trump adalah sahabat terbesar Israel yang pernah ada di Gedung Putih. Ia menunjukkan hal itu dengan mengirimkan semua amunisi yang sebelumnya tertahan. Dengan cara ini, ia memberi Israel alat untuk menyelesaikan pekerjaan melawan poros teror Iran,” kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada bulan Maret lalu.
Hingga Mei 2025, lebih dari 100.000 ton bahan peledak telah dijatuhkan di Gaza, jumlah ini jauh melebihi total bom yang dijatuhkan di Dresden dan Hamburg dalam Operasi Gomorrah, serta London saat Blitz pada Perang Dunia II, yang seluruhnya berjumlah sekitar 32.300 ton.
“Saya belum pernah melihat begitu banyak luka akibat ledakan sepanjang hidup saya, dan saya belum pernah melihat sebanyak ini di Gaza. Kami bahkan melihat luka-luka mengerikan ini pada anak-anak kecil,” kata dokter bedah asal Inggris, Victoria Rose, kepada wartawan setelah menjadi bagian dari tim medis di Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis, Gaza selatan.
(T.FJ/S: Quds News, The Cradle)