Israel Lakukan 1.872 Serangan Selama Januari 2026 di Tepi Barat

Yerusalem, NPC – Pasukan penjajah Israel dan pemukim bersenjata melakukan 1.872 serangan terhadap penduduk Palestina beserta harta benda mereka di Tepi Barat yang diduduki sepanjang Januari 2026. Data ini dirilis Komisi Perlawanan Kolonisasi dan Tembok (Colonization and Wall Resistance Commission).

Dari jumlah tersebut, 1.404 serangan dilakukan langsung oleh militer dan aparat keamanan Israel, sementara 468 lainnya dilakukan oleh para pemukim liar Israel, kerap di bawah perlindungan langsung tentara. Serangan terjadi di hampir seluruh wilayah administratif, dengan Hebron, Ramallah dan al-Bireh, Nablus, serta Yerusalem menjadi daerah yang paling sering disasar.

Pejabat dan pemantau hak asasi manusia menilai skala serta koordinasi serangan ini sebagai bukti adanya kebijakan sistematis pengusiran paksa, bukan insiden-insiden yang berdiri sendiri.

Pengosongan Komunitas Badui

Serangan pemukim liar Israel berdampak paling parah terhadap komunitas Badui Palestina. Sedikitnya 125 keluarga dipaksa mengungsi dari tiga komunitas Badui, termasuk komunitas Shallal al-Auja di sebelah timur Tepi Barat, serta keluarga-keluarga di sekitar Birzeit dan Attara, utara Ramallah.

Pemukim liar Israel melakukan 349 aksi perusakan dan pencurian, termasuk penghancuran, peracunan, atau pencabutan 1.245 pohon zaitun,  penopang ekonomi sekaligus simbol budaya penting bagi petani Palestina. Sejumlah kawasan pertanian menjadi tidak dapat digunakan akibat pembakaran, penggusuran dengan buldoser, dan penutupan militer yang diberlakukan dengan dalih “keamanan”.

Para pejabat menegaskan bahwa tindakan-tindakan ini bertujuan mengosongkan penduduk Palestina dari koridor-koridor lahan strategis, guna membuka jalan bagi perluasan permukiman dan aneksasi.

Perampasan Lahan dan Perluasan Permukiman Ilegal

Sepanjang Januari, otoritas Israel juga mendorong konsolidasi agresif atas penguasaan lahan Palestina. Sebanyak 744 dunum (74,4 hektare) tanah Palestina dirampas, termasuk 694 dunum di Qalqilya dan Salfit yang dialokasikan untuk permukiman baru bernama Dorot, serta bidang-bidang lahan lain di Ramallah, Nablus, dan Jenin melalui perintah militer.

Pada saat yang sama, Israel mengkaji atau memajukan 21 rencana induk permukiman yang mencakup pembangunan 2.729 unit hunian baru, serta menyetujui zona permukiman industri baru di sebelah barat Tulkarm seluas 788 dunum.

Penghancuran bangunan terus berlangsung. Pasukan penjajah Israel melakukan 59 operasi pembongkaran yang menghancurkan 126 bangunan milik penduduk Palestina, termasuk 77 rumah yang masih dihuni. Selain itu, 40 perintah pembongkaran baru dikeluarkan, sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Hebron (Al-Khalil).

Di Hizma, timur laut Yerusalem, pasukan Israel mengeluarkan perintah pembongkaran terhadap 11 rumah dan bangunan, semakin memperketat tekanan terhadap komunitas Palestina di sekitar kota tersebut.

Serangan Pemukim Liar Israel

Di luar pembongkaran dan perampasan lahan, pasukan Israel meningkatkan penggerebekan harian dan pembatasan pergerakan. Jalan-jalan pertanian ditutup di Sebastia, barat laut Nablus, sementara pasukan Israel menyerbu Silwan dan Hizma, menggeledah toko-toko dan berpatroli di permukiman dengan kendaraan militer.

Di Khirbet al-Kharaba, tenggara as-Samu, selatan Hebron, pemukim bersenjata menyerang rumah-rumah warga Palestina, memukuli penduduk, serta menyemprotkan gas merica di bawah perlindungan tentara Israel. Sejumlah warga Palestina mengalami luka-luka, termasuk mereka yang sempat kehilangan kesadaran dan harus mendapat perawatan di rumah sakit.

Tindakan-tindakan ini kian memecah wilayah Palestina, mengisolasi komunitas, serta memutus akses ke lahan pertanian, sekolah, dan layanan kesehatan.

Penyiksaan di Penjara

Penduduk Palestina yang ditahan terus menghadapi kondisi keras dan merendahkan martabat di penjara-penjara Israel, mencerminkan sisi lain dari sistem pemaksaan yang sama.

Menurut Komisi Urusan Tahanan, para narapidana di Penjara Negev menghadapi pemukulan hampir setiap hari, penggeledahan yang menghina, sel isolasi, serta pembatasan makanan yang ketat. Para tahanan dilaporkan hanya menerima satu piring dan satu cangkir makanan per hari, disertai denda-denda hukuman.

Kelalaian medis tetap parah. Seorang tahanan asal Jenin dilaporkan kehilangan 15 kilogram berat badan akibat kudis yang tidak diobati, infeksi jamur, dan kekurangan gizi, sementara otoritas penjara menolak memberikan pereda nyeri dasar sekalipun.

Kebijakan, Bukan Sekadar Pola

Pejabat Komisi Perlawanan Kolonisasi dan Tembok menegaskan bahwa angka-angka Januari mengonfirmasi adanya kebijakan aneksasi de facto yang disengaja, dijalankan melalui kekerasan, pengusiran, perluasan permukiman, dan impunitas yang dilembagakan.

Meski kecaman internasional terus disuarakan, otoritas Israel tetap memperkuat kendali atas tanah Palestina sambil meruntuhkan fondasi sosial, ekonomi, dan geografis kehidupan warga Palestina di seluruh Tepi Barat.

Sekitar 750.000 pemukim liar Israel kini tinggal di permukiman dan pos-pos ilegal yang dibangun di atas tanah Palestina di Tepi Barat, termasuk sekitar 250.000 di Yerusalem Timur yang diduduki. Komunitas Palestina menghadapi operasi bumi hangus Israel yang kian dipercepat menuju perampasan permanen tanah Palestina di Tepi Barat.

(T.FJ/S: Palestine Chronicle)

 

You might also like