Tel Aviv, NPC – Survei terbaru yang dilakukan oleh Lazar Research, bekerja sama dengan Panel4All, sebagaimana dilansir The Cradle, pada Sabtu (18/01/2025), menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen warga Israel tidak puas dengan kemajuan perang Gaza saat ini.
Temuan ini mengungkapkan adanya perbedaan yang jelas dalam opini publik mengenai apakah pemerintah berhasil mencapai tujuan perang mereka.
Temuan Utama dari Survei tersebut mencakup:
Keberhasilan Parsial Israel
Survei ini menunjukkan bahwa 45 persen warga Israel merasa pemerintah hanya sebagian berhasil mencapai tujuannya, sementara 36 persen berpendapat tujuan tersebut sama sekali tidak tercapai. Di antara pemilih yang mendukung koalisi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, 54 persen percaya pemerintah hanya sebagian berhasil, sementara 11 persen mengatakan bahwa pemerintah sepenuhnya berhasil.
Sebaliknya, pemilih oposisi terbagi, dengan 46 persen mengatakan bahwa tujuan perang pemerintah hanya tercapai sebagian, dan 45 persen berpendapat bahwa pemerintah sama sekali tidak mencapai tujuannya.
Israel Kalah dalam Perang
Dalam pengakuan yang mengejutkan selama konferensi pers yang disiarkan di Channel 12, Mayjen (purn.) Giora Eiland mengakui bahwa Israel kalah perang di Gaza dan gagal mencapai tujuan strategisnya. Giora Eiland, arsitek dari “Rencana Jenderal” yang brutal, mengakui bahwa Hamas tidak hanya selamat dari operasi Israel tetapi juga muncul lebih kuat, memperkuat kendalinya atas Gaza. Ia menggambarkan hasil “Rencana Jenderal” sebagai kegagalan besar bagi Israel.
“Rencana Jenderal” yang konon dirancang untuk melucuti kekuasaan Hamas, mengandalkan tindakan yang tidak manusiawi: membuat penduduk Gaza kelaparan, membasmi kelompok perlawanan, membombardir tanpa ampun, dan memindahkan paksa penduduk sipil dari Gaza Utara untuk mengisolasi para pejuang perlawanan.
Pendekatan “menyerah atau kelaparan” yang kejam ini mengubah penderitaan massal menjadi senjata perang. Namun, Eiland mengakui bahwa rencana itu justru menjadi bumerang, karena Israel tidak dapat mencegah Hamas untuk berkumpul kembali dan mempersenjatai diri berdasarkan ketentuan gencatan senjata.
Eiland juga menunjuk pada kesalahan langkah strategis kritis yang dibuat beberapa bulan sebelum perang, yang menunjukkan bahwa keputusan ini telah menghancurkan upaya Israel sejak awal.
Detail tentang Kesepakatan Gencatan Senjata
Gencatan senjata direncanakan akan dimulai pada 19 Januari 2025, dengan fase pertama akan melihat 33 sandera Israel dibebaskan dari Gaza. Gencatan senjata ini juga akan membebaskan lebih dari seribu tahanan Palestina, banyak di antaranya ditahan tanpa proses hukum di dalam sistem penjara Israel.
Sejak eskalasi perang, lebih dari 46.000 penduduk Palestina telah dibunuh Israel, mayoritas di antaranya adalah perempuan dan anak-anak. Selain itu, konflik yang terus berlangsung ini telah menyebabkan 110.000 penduduk Palestina terluka, banyak di antaranya menderita cedera berat seperti amputasi, luka bakar, dan trauma.
Sekitar 1,9 juta orang atau sekitar 90 persen populasi Gaza, terpaksa mengungsi, menghadapi kesulitan ekstrem di tempat penampungan yang penuh sesak dengan kondisi hidup yang sangat buruk.
Ringkasan: Perang untuk Mendapatkan Opini Publik
Pemimpin Israel terus berjanji untuk mengalahkan Hamas dan memastikan kembalinya semua sandera Israel. Namun, meskipun janji-janji ini terus disampaikan, kekerasan dan penderitaan yang berlanjut menyoroti tantangan besar dalam mencapai tujuan perang yang ambisius ini.
Seiring dengan dimulainya gencatan senjata, sebuah pertanyaan masih tergiang: apakah tujuan Israel akan tercapai sepenuhnya ataukah konsekuensi dari perang ini akan lebih besar dari kemenangan yang mungkin diraih?
Sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga sebelum gencatan senjata berlaku pada Minggu (19/01/2025), dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat dan sejumlah kawasan di Lebanon. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.
Berdasarkan perkiraan PBB proses pembersihan puing-puing saja bisa memakan waktu lebih dari 14 tahun.
Membangun kembali rumah-rumah penduduk bisa memakan waktu hingga tahun 2040, dengan 90 persen populasi mengungsi dan banyak dari mereka tinggal di tenda. Di setiap meter persegi Jalur Gaza, kini terdapat lebih dari 107 kilogram puing, yang mungkin mengandung UXO (bahan peledak yang belum meledak), zat berbahaya, dan sisa-sisa jasad manusia,” menurut laporan PBB yang diterbitkan pada Juni.
PBB menyebut dalam laporannya bahwa jumlah total puing dari pemboman Israel di Jalur Gaza saat ini, lebih dari lima kali lipat jumlah puing yang dihasilkan dari pengeboman AS di Mosul pada 2017.
(T.FJ/S: The Cradle)