Jalur Gaza, NPC – Lembaga pemantau hak asasi manusia Euro-Mediterranean Human Rights Monitor (Euro-Med) menuding Israel melakukan kejahatan keji dengan menciptakan bencana kelaparan massal terhadap lebih dari dua juta warga sipil di Jalur Gaza.
Dalam laporan resminya, Euro-Med menegaskan bahwa Israel menerapkan blokade total, melarang masuk bantuan kemanusiaan, dan menghentikan suplai kebutuhan pokok untuk rakyat Gaza. “Israel menjadikan kelaparan sebagai senjata utama untuk menghancurkan kehidupan sipil,” tulis Euro-Med.
Organisasi itu juga menyoroti sikap diam dan kegagalan organisasi global yang dinilai terlibat secara pasif dalam kejahatan ini. “Diamnya dunia atas bencana kemanusiaan di Gaza merupakan pengkhianatan terhadap prinsip-prinsip hukum internasional dan nilai kemanusiaan universal,” tegas laporan tersebut.
Lebih lanjut, Euro-Med memperingatkan bahwa impunitas yang dinikmati Israel atas penggunaan kelaparan sebagai alat penghancur massal akan menghancurkan fondasi hukum internasional. “Selama Israel terus kebal hukum, tidak ada artinya lagi Konvensi Jenewa atau prinsip perlindungan terhadap warga sipil.”
Israel telah memberlakukan blokade total atas Jalur Gaza selama 71 hari terakhir. Sejak pelanggaran kesepakatan gencatan senjata pada 18 Maret lalu, serangan militer dilanjutkan tanpa henti selama 56 hari berturut-turut. Di tengah blokade itu, seluruh pabrik roti di Gaza terpaksa tutup sejak 41 hari lalu, dan lebih dari 2,25 juta penduduk kini menghadapi kelaparan massal dan krisis kemanusiaan yang mengancam nyawa.
Euro-Med menyerukan kepada semua negara dan lembaga internasional untuk segera bertindak dan menghentikan genosida yang sedang berlangsung. “Setiap hari keterlambatan berarti satu nyawa lagi hilang karena kelaparan atau bom,” tutup laporan tersebut.
Sejak dimulainya serangan pada Oktober 2023, lebih dari 53.000 warga Palestina dilaporkan tewas, mayoritas dari mereka adalah perempuan dan anak-anak. Selain itu, lebih dari 1,8 juta warga telah mengungsi dari rumah mereka, dan 90% fasilitas kesehatan dilaporkan hancur atau tidak lagi berfungsi.
PBB melaporkan bahwa setengah juta penduduk Gaza kini menghadapi kelaparan akut, berada pada level tertinggi dalam skala krisis pangan global. Blokade total yang diberlakukan Israel sejak 2 Maret 2025 menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan berupa makanan, air bersih, dan obat-obatan. Serangan udara dan darat juga terus berlanjut sejak Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tahanan pada 19 Maret lalu.
Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) melaporkan bahwa lebih dari 370 sekolah dan fasilitas sipil telah hancur. Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut sistem layanan kesehatan di Gaza telah runtuh total dan tidak mampu menangani lonjakan korban luka maupun penyakit yang kini merebak di kamp-kamp pengungsian.
Meskipun tekanan internasional terhadap Israel meningkat, blokade dan agresi militer belum menunjukkan tanda-tanda akan dihentikan. Hamas menegaskan bahwa satu-satunya jalan keluar dari bencana kemanusiaan ini adalah menghentikan perang secara permanen, penarikan penuh pasukan Israel, dan dimulainya proses rekonstruksi secara menyeluruh di bawah pengawasan internasional.
(T.RS/S:Palinfo)