Gaza, NPC – Israel dituduh telah memblokir akses air di Gaza dengan cara “secara sistematis merampas” sumber daya vital tersebut dari penduduk wilayah yang terkepung, sebagai bentuk “hukuman kolektif”. Tuduhan ini disampaikan oleh organisasi medis internasional Doctors Without Borders (MSF) dalam laporan tertanggal 28 April.
“Penduduk Palestina di Gaza menghadapi kelangkaan air yang direkayasa,” demikian isi laporan tersebut. “Penolakan akses air secara sengaja terhadap penduduk Palestina merupakan bagian integral dari genosida yang dilakukan Israel,” tulis MSF.
“Akses terhadap air bersih, sanitasi yang aman, dan kebersihan dasar adalah hal fundamental bagi kehidupan. Penyangkalan berkelanjutan atas kebutuhan-kebutuhan ini telah menimbulkan penderitaan yang sebenarnya dapat dicegah bagi seluruh populasi,” lanjutnya.
MSF juga menyebutkan bahwa otoritas Israel telah memberlakukan berbagai kondisi yang sangat membatasi akses terhadap layanan esensial di Jalur Gaza. Perintah pengungsian serta larangan militer Israel bagi penduduk Palestina untuk memasuki sejumlah wilayah di Gaza, pada waktu tertentu, mencakup lebih dari 80 persen wilayah tersebut. Saat laporan ini ditulis, penduduk Palestina tidak dapat mengakses 58 persen wilayah Gaza. Otoritas Israel juga berulang kali memaksa MSF menghentikan distribusi air.
Organisasi itu menambahkan bahwa mereka telah kehilangan aset produksi air yang “krusial” dan “dipaksa memindahkan unit produksi air minum,” yang berakibat pada berkurangnya ketersediaan air bagi ratusan ribu orang.
Menurut laporan MSF, instalasi desalinasi, sumur bor, jaringan pipa, dan sistem pembuangan limbah telah tidak berfungsi atau tidak dapat diakses sebagai dampak dari perang yang disebutnya sebagai genosida oleh Israel.
“Penduduk Palestina terluka dan meninggal dunia hanya karena berupaya mendapatkan air,” ujar Manajer Darurat MSF, Claire San Filippo.
“Otoritas Israel mengetahui bahwa tanpa air, kehidupan akan berakhir. Namun, mereka secara sengaja dan sistematis menghancurkan infrastruktur air di Gaza, sekaligus terus menghalangi masuknya pasokan terkait air,” tambahnya.
MSF memperingatkan bahwa pihaknya telah diusir oleh Israel dari wilayah-wilayah tempat mereka sebelumnya menyediakan air bagi ratusan ribu penduduk Palestina.
Tahun lalu, Israel memberlakukan larangan terhadap puluhan organisasi bantuan yang beroperasi di Gaza, termasuk MSF. Laporan terbaru ini muncul di tengah meningkatnya pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza oleh Tel Aviv.
Sepuluh hari sebelumnya, pasukan Israel melepaskan tembakan ke arah dua pengemudi truk UNICEF yang bertugas mendistribusikan air. Keduanya meninggal dunia setelah menjadi sasaran di titik pengisian air Mansoura, di utara Jalur Gaza.
Lebih dari 800 orang dilaporkan meninggal dunia sejak kesepakatan Oktober 2025, dengan lebih dari 2.300 orang mengalami luka-luka. Dalam beberapa hari terakhir, serangan udara dan penghancuran infrastruktur meluas di seluruh Gaza, membunuh puluhan orang.
Laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan bahwa pembangunan manusia di Gaza mengalami kemunduran lebih dari tujuh dekade akibat perang yang disebut sebagai genosida oleh Israel.
“Kebutuhan pemulihan dan rekonstruksi di Gaza diperkirakan mencapai 71,4 miliar dolar AS (sekitar 1.150 triliun rupiah) dalam satu dekade mendatang, termasuk 26,3 miliar dolar AS (sekitar 424 triliun rupiah) yang dibutuhkan dalam 18 bulan pertama untuk memulihkan layanan esensial, membangun kembali infrastruktur kritis, dan mendukung pemulihan ekonomi,” demikian isi laporan tersebut.
(T.FJ/S: The Cradle)