Gaza, NPC – Kantor Media Pemerintah Gaza mengumumkan pada Sabtu (28/06/2025), bahwa sedikitnya 66 anak telah meninggal karena kelaparan sejak Israel memblokade Gaza dan melarang masuknya bantuan kemanusinaa, termasuk larangan susu formula bayi.
Pernyataan tersebut mendesak intervensi segera dari lembaga internasional, negara Arab, dan Islam untuk membuka penyeberangan dan mengizinkan makanan dan obat-obatan masuk ke Gaza “sebelum terlambat”.
Jumlah korban jiwa bertambah saat pasukan Israel meningkatkan serangan udara dan terus menargetkan penduduk sipil Palestina yang kelaparan yang menunggu di zona bantuan.
Setidaknya 25 penduduk Palestina meninggal dunia di seluruh Gaza dalam serangan Israel antara tanggal 27 dan 28 Juni, termasuk penduduk sipil di Khan Yunis, Gaza Tengah, Rafah, dan utara Kota Gaza.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan bahwa 112 anak dirawat di rumah sakit setiap hari karena kekurangan gizi parah. Pejabat PBB mengatakan seluruh penduduk Gaza masih berisiko kelaparan, karena Tel Aviv terus memblokir sebagian besar bantuan dan mempersenjatai apa pun yang diizinkan masuk.
Berdasarkan laporan PBB, Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang disponsori AS dan didukung Israel telah menyebabkan sekitar 600 penduduk Palestina meninggal dunia akibat serangan Israel di sekitar tempat tersebut dan hampir 4.000 mengalami luka-luka ketika mereka berusaha menerima makanan saat beroperasi di bawah pengawasan militer Israel. Pejabat PBB telah mengutuk kejahatan tentara Israel yang sengaja menargetkan penduduk sipil yang sedang kelaparan dan menyebutnya sebagai “jebakan maut”.
Sejak 27 Mei 2025, Israel dan Amerika Serikat menjalankan program distribusi bantuan yang kontroversial melalui lembaga bernama “Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF),” yang beroperasi di luar pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan lembaga bantuan internasional resmi.
Program ini, menurut para pengamat, memaksa penduduk Palestina yang kelaparan menghadapi pilihan mematikan: ditembak atau mati karena kelaparan. Kesaksian dari tentara dan perwira Israel yang baru-baru ini dipublikasikan di surat kabar Haaretz menunjukkan bahwa ada perintah langsung dari atasan untuk menembaki penduduk Palestina yang tidak bersenjata saat mereka mendekati pusat bantuan, meskipun para tentara tahu bahwa warga tersebut tidak menimbulkan ancaman.
Pengakuan ini muncul di tengah laporan luas mengenai serangan terhadap penduduk sipil yang kelaparan di dekat titik distribusi makanan. Laporan Haaretz ini berdasarkan wawancara langsung dengan sejumlah personel militer Israel, dan menjelaskan bahwa peluru tajam, mortir, peluncur granat, serta tank digunakan secara rutin terhadap kerumunan penduduk Palestina tak bersenjata yang hanya mencari bantuan kemanusiaan. Salah satu tentara menggambarkannya secara gamblang sebagai “ladang pembantaian”.
Seorang tentara yang ditempatkan di Gaza mengatakan kepada Haaretz:
“Di tempat saya bertugas, antara satu sampai lima orang meninggal setiap hari. Mereka diperlakukan seperti musuh, tidak ada gas air mata, tidak ada pengendalian massa, hanya tembakan langsung dengan semua jenis senjata: senapan mesin berat, peluncur granat, mortir. (Padahal) musuh tidak ada, mereka juga tidak ada senjata. Saya bahkan tidak pernah melihat ada tembakan balasan.”
Menurut kesaksian lainnya, tentara diperintahkan untuk menembak penduduk Palestina yang mendekati lokasi distribusi bantuan baik sebelum maupun sesudah dibuka, meskipun mereka tidak menunjukkan ancaman apa pun.
“Kami membuka tembakan di pagi hari jika ada yang mencoba mengantre dari jarak ratusan meter. Kadang kami langsung menyerbu mereka dari jarak dekat,” kata seorang tentara.
Kesaksian tersebut, bersama dengan serangan yang terdokumentasi terhadap penduduk sipil dan korban massal di lokasi GHF, telah memperkuat tuduhan PBB bahwa skema bantuan yang didukung AS dirancang untuk menggunakan kelaparan sebagai senjata dan menegakkan kendali, bukan memberikan bantuan.
“Orang-orang yang putus asa dan kelaparan di Gaza terus menghadapi pilihan yang tidak manusiawi, yaitu mati kelaparan atau berisiko dibunuh saat berusaha mendapatkan makanan,” kata juru bicara PBB Thameen al-Kheetan di Jenewa pada 24 Juni.
Komisaris Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini juga mengecam GHF, menyebutnya sebagai “kekejian yang mempermalukan dan merendahkan orang-orang yang putus asa”.
Di tengah kritikan dan kutukan terhadap kejahatan Zionis, tentara Israel terus memperluas operasinya di seluruh Jalur Gaza dan mempertahankan kendali penuh atas semua rute distribusi bantuan. Pejabat kesehatan Palestina memperingatkan blokade Israel tersebut telah menjadikan Gaza sebagai “tempat paling lapar di Bumi”.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji akan terus meningkatkan serangan ke Gaza, seiring dengan upaya pelaksanaan rencana Presiden AS, Donald Trump, untuk memindahkan penduduk Palestina dari wilayah tersebut. Sejak Oktober 2023, lebih dari 50.700 penduduk Palestina telah meninggal dunia akibat genosida brutal Israel di Gaza yang didukung Amerika Serikat, di mana sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak.
Pada November lalu, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanannya, Yoav Gallant, atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza. Israel juga tengah menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas agresinya di wilayah Gaza.
(T.FJ/S: The Cradle, Palestine Chronicle)