Gaza, NPC – Tentara Israel, pada Sabtu dini hari (17/08/2024), membantai seluruh keluarga di Jalur Gaza, satu hari setelah pejabat senior Amerika Serikat mengklaim bahwa dua hari terakhir terjadi perundingan di Doha untuk gencatan senjata di Gaza yang merupakan paling konstruktif dalam beberapa bulan terakhir.
Serangan Israel di daerah Al-Zawayda di Gaza Tengah membunuh 15 anggota keluarga Ajlah. Juru bicara Pertahanan Sipil Palestina Mahmoud Basal mengonfirmasi bahwa di antara 15 korban jiwa tersebut sembilan merupakan anak-anak dan tiga Perempuan.
Ahmed Abu Al-Ghoul, seorang warga setempat yang menyaksikan pengeboman itu bahwa tiga roket menghantam gedung tempat keluarga itu berlindung ketika perempuan dan anak-anak berada di gedung tersebut.
“Apa yang telah mereka lakukan hingga pantas menerima ini?” tanyanya.
Al-Jazeera melaporkan bahwa drone quadcopter Israel menembak kepala seorang anak laki-laki berusia enam tahun, yang membunuhnya saat ia tidur di sebuah tenda di Kota Hamad, sebelah barat Khan Younis di selatan Jalur Gaza.
Pembantaian terbaru Israel ini terjadi satu hari setelah dua hari negosiasi di Doha untuk kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tahanan antara Israel dengan Hamas.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada wartawan pada Jumat (15/08) bahwa Presiden Amerika Serikat Joe Biden berbicara dengan Presiden Mesir Abdel Fattah Al-Sisi dan Emir Qatar Tamim bin Hamad Al-Thani.
Ketiga pemimpin sepakat bahwa “sekarang adalah akhir permainan” dan membahas “proposal penghubung akhir” yang diajukan oleh Amerika Serikat di ibu kota Qatar. Namun, seorang pejabat senior Israel mengatakan bahwa kemajuan hanya terjadi antara Israel dan para mediator, bukan antara Israel dan Hamas.
Seorang pejabat senior Hamas kemudian mengeluarkan pernyataan yang menegaskan bahwa Israel tidak ingin mencapai kesepakatan.
“Kami telah menegaskan sekali lagi bahwa penjajah tidak ingin mencapai kesepakatan dan terus menghindar dan menghalanginya, serta bersikeras menambahkan syarat-syarat baru yang diumumkannya untuk menghalangi kesepakatan tersebut,” kata Seorang pejabat senior Hamas dalam sebuah pernyataan kepada wartawan.
Mantan Kolonel Angkatan Darat AS, Douglas McGregor, telah menyatakan bahwa tujuan Israel bukanlah untuk mengakhiri perang dan membebaskan tawanan Israel yang ditahan oleh Hamas. Sebaliknya, Israel sedang melakukan operasi yang secara sistematis menghancurkan atau membunuh penduduk Gaza.
Para menteri dalam pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, termasuk Menteri Keamanan Nasional, Itamar Ben-Gvir, dan Menteri Keuangan, Bezalel Smotrich, mengatakan mereka ingin menghancurkan Jalur Gaza, membersihkan Jalur Gaza secara etnis dari 2,3 juta penduduk asli Palestina, dan menempatkan orang-orang Yahudi Israel untuk menggantikan mereka.
Sejak tanggal 7 Oktober hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.
Israel terus menerus melakukan kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional. Penduduk Palestina di Jalur Gaza hidup dalam kondisi kemanusiaan dan Kesehatan yang memprihatinkan.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Kamis (15/08), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 40.005 orang dan 92.401 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan. Lebih 10.000 orang dinyatakan hilang, di tengah kerusakan besar-besaran pada bidang kesehatan dan infrastruktur, serta krisis kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak.
Sementara itu, kekejaman Israel juga meningkat di Tepi Barat termasuk Yerusalem timur, di mana 632 penduduk Palestina dibunuh Israel, termasuk 140 anak-anak, sejak 7 Oktober 2023.
Berdasarkan laporan pihak berwenang Jalur Gaza dan organisasi internasional, sekitar 90 persen atau sekitar 1,9 juta penduduk Palestina di Jalur Gaza terpaksa harus mengungsi setelah kehilangan tempat tinggal dan penghidupan akibat pemboman Israel.
(T.FJ/S: The Cradle, Palinfo)