Hampir Setengah Warga Israel Dukung Pembunuhan Semua Penduduk Palestina di Gaza

Gaza, NPC – Sebuah survei yang dilakukan pada bulan Maret dan diterbitkan oleh surat kabar Haaretz pada hari Kamis (22/05/2025) menunjukkan bahwa 82 persen warga Yahudi Israel mendukung pengusiran paksa penduduk Palestina dari Jalur Gaza.

Sementara itu, 47 persen warga Yahudi Israel menjawab “ya” saat ditanya: “Apakah Anda mendukung pendapat bahwa dalam merebut kota musuh, tentara Israel seharusnya bertindak seperti bangsa Israel saat menaklukkan Yerikho di bawah pimpinan Yosua, yaitu membunuh semua penduduknya?” Pertanyaan ini merujuk pada kisah dalam Alkitab tentang penaklukan Yerikho.

Awal bulan ini, Israel meluncurkan operasi militer bernama “Kereta Perang Gideon” di wilayah Gaza yang telah lama diblokade. Menurut media Israel Ynet, operasi ini bertujuan mendukung rencana Presiden AS Donald Trump untuk “membersihkan” Gaza.

Ynet juga melaporkan bahwa dalam operasi tersebut, tentara Israel berencana mendorong sebanyak mungkin penduduk Palestina ke wilayah Rafah di selatan Gaza, tempat bantuan makanan akan disalurkan. Rencana ini juga ditujukan untuk mendorong “emigrasi sukarela” penduduk Palestina keluar dari Gaza.

Rencana militer ini mendapat dukungan dari mayoritas masyarakat Israel, meskipun Kepala Staf Tentara Israel, Eyal Zamir, telah memperingatkan bahwa operasi ini dapat membahayakan nyawa warga Israel yang disandera di Gaza.

Dalam survei terpisah oleh Channel 13, 44 persen masyarakat Israel mendukung operasi ini, sementara 40 persen menentangnya.

Survei yang sama menunjukkan bahwa masyarakat Israel juga mendukung blokade penuh terhadap Jalur Gaza yang diberlakukan sejak awal Maret. Sebanyak 53 persen masyarakat Israel merasa bahwa Israel tidak seharusnya mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza.

Awal minggu ini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa salah satu tujuan perang Israel adalah melaksanakan rencana Trump untuk mengusir penduduk Palestina dari Gaza.

Dalam konferensi pers, Netanyahu mengatakan bahwa ia bersedia mengakhiri perang, tetapi hanya “dengan syarat-syarat jelas yang menjamin keamanan Israel: semua sandera dibebaskan, Hamas menyerahkan senjatanya, mundur dari kekuasaan, dan para pemimpinnya diasingkan dari Gaza”.

“Kemudian kami menjalankan rencana Trump, rencana yang sangat benar dan revolusioner,” tambahnya.

Dukungan dari Masyarakat Sekuler

Menurut survei dari Penn State University, dukungan terhadap pengusiran massal penduduk Palestina dari Gaza juga datang dari 70 persen warga Yahudi sekuler, termasuk sebagian yang dikenal liberal. Sementara itu, dukungan dari komunitas tradisional (Masortim), religius, dan ultra-Ortodoks bahkan melebihi 90 persen.

Dukungan luas terhadap pengusiran penduduk Palestina tidak hanya terbatas pada Jalur Gaza. Survei tersebut juga menemukan bahwa 56 persen warga Yahudi Israel mendukung pengusiran penduduk Palestina yang merupakan warga negara Israel.

Tingkat dukungan tertinggi berasal dari komunitas Masortim, religius, dan ultra-Ortodoks, yang semuanya melebihi 60 persen. Namun, dukungan juga muncul dari masyarakat sekuler, di mana 38 persen dari mereka mendukung pengusiran penduduk Palestina dari wilayah Israel.

Pengaruh Media dan Pendidikan

Profesor sejarah Shay Hazkani dari University of Maryland dan Profesor Tamir Sorek dari Penn State University berkomentar bahwa kejadian 7 Oktober yang mengejutkan masyarakat Israel bukan satu-satunya alasan munculnya pandangan ekstrem ini.

“Pembantaian itu seolah melepaskan ‘iblis’ yang telah dipelihara selama puluhan tahun oleh media, sistem hukum, dan pendidikan,” tulis mereka.

Selama perang, media Israel sering kali menyuarakan seruan untuk mengusir dan membunuh penduduk Palestina. Baru-baru ini, organisasi HAM Israel mengajukan permintaan ke Mahkamah Agung agar menyelidiki Channel 14—yang dikenal pro-Netanyahu—atas dugaan “hasutan untuk genosida, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan”.

Sistem pendidikan juga turut membentuk pandangan ekstrem di kalangan anak muda Israel. Hazkani dan Sorek mencatat bahwa sejak awal 2000-an, sistem pendidikan di Israel mengalami proses radikalisasi.

Menurut survei, hanya 9 persen laki-laki Yahudi di bawah usia 40 tahun—yang sebagian besar adalah tentara aktif dan cadangan—benar-benar menolak gagasan pengusiran dan pemindahan paksa.

Bahasa Agama dalam Perang

Pada bulan Maret lalu, Mahkamah Agung Israel menolak petisi dari organisasi HAM yang meminta pemerintah mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza. Salah satu hakim bahkan menggunakan bahasa agama untuk membenarkan keputusan tersebut.

Sejak perang dimulai, bahasa agama sering digunakan untuk menggambarkan konflik di Gaza. Salah satu istilah yang sering muncul adalah “Amalek”, musuh kuno bangsa Israel, yang menurut tradisi Yahudi harus dimusnahkan sepenuhnya.

Seminggu setelah serangan Hamas pada 7 Oktober, Netanyahu berkata kepada tentara Israel yang akan memasuki Gaza: “Ingatlah apa yang telah dilakukan Amalek kepadamu”.

Diskusi agama ini tidak hanya terbatas pada kalangan religius. Survei menunjukkan bahwa 65 persen warga Yahudi Israel percaya bahwa “Amalek” masih ada di zaman modern, dan dari jumlah itu, 93 persen percaya bahwa perintah agama untuk “menghapus ingatan Amalek” masih berlaku hingga hari ini.

“Zionisme, selain sebagai gerakan nasional, juga merupakan gerakan pemukim pendatang (kolonial) yang berusaha mengusir penduduk lokal. Keinginan akan keamanan yang mutlak bisa berubah menjadi rencana nyata untuk menghilangkan kelompok lawan, dan karena itu, setiap proyek pemukiman memiliki potensi untuk pembersihan etnis dan genosida,” tulis Hazkani dan Sorek.

(T.FJ/S: MEE)

 

You might also like