Grand Syeikh Al-Azhar Serukan Warga Arab Bersatu Tolak Pengusiran Warga Palestina

Kairo, NPC– Grand Syeikh Al-Azhar, Ahmed Al-Tayeb, Selasa (04/03/2025) menyerukan para pemimpin dalam KTT Liga Arab di Kairo untuk menyatukan barisan dalam menolak rencana Donald Trump untuk mengusir warga Palestina di Gaza serta mendukung rencana rekonstruksi Gaza yang diusulkan oleh negara-negara Arab.

Grand Syeikh  juga menegaskan pentingnya persatuan dan solidaritas Warga Arab untuk menghadapi rencana jahat terkait relokasi paksa warga Palestina dari tanah air mereka. Selain itu, ia mendukung langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah kekacauan dan arogansi pihak-pihak pendukung Israel.

Menurut pernyataan resmi dari Otoritas Informasi Mesir pada Senin, KTT Liga Arab di Kairo membahas perkembangan situasi di Palestina. Para pemimpin Arab berupaya mencapai keputusan bulat menolak relokasi warga Palestina dan mendukung langkah-langkah hukum internasional untuk mencegah upaya tersebut.

Selain itu, KTT juga menegaskan kembali komitmen Arab dalam merekonstruksi Gaza tanpa mengusir warganya serta membahas proses gencatan senjata dan mencegah segala bentuk pelanggaran yang dapat memperburuk situasi.

Trump Promosikan Relokasi Warga Gaza, Negara-Negara Arab Menolak
Sejak 25 Januari lalu, Presiden AS Donald Trump terus mengkampanyekan rencana relokasi warga Gaza ke negara-negara tetangga seperti Mesir dan Yordania. Namun, kedua negara tersebut menolak keras rencana ini, yang juga mendapat penolakan dari negara-negara Arab lainnya serta organisasi internasional.

Sebagai alternatif, Mesir telah merancang rencana rekonstruksi Gaza secara komprehensif tanpa perlu merelokasi mereka. Rencana ini akan diajukan dalam KTT Liga Arab dan diharapkan akan mencegah penghapusan hak-hak Palestina di tanah air mereka sendiri.

KTT Liga Arab di Kairo ini merupakan pertemuan ketiga terkait Gaza yang digelar dalam 16 bulan terakhir. Sebelumnya, pada 21 Februari, pertemuan serupa digelar di Riyadh dengan melibatkan pemimpin negara-negara Teluk, Mesir, dan Yordania.

Sejak 7 Oktober 2023 hingga 19 Januari 2025, Israel dengan dukungan AS diduga telah melakukan genosida di Gaza, yang menelan lebih dari 160.000 korban jiwa gugur dan terluka. Sebagian besar korban adalah anak-anak dan perempuan, sementara lebih dari 14 ribu orang masih dinyatakan hilang.

Israel juga dilaporkan mengabaikan kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati dengan Hamas. Perjanjian yang mulai berlaku pada 19 Januari lalu kini terancam gagal setelah Israel menolak melanjutkan fase kedua dari kesepakatan tersebut. Israel juga menghentikan semua akses bantuan kemanusiaan ke Gaza sejak Minggu lalu.

Di sisi lain, Hamas menegaskan bahwa mereka berkomitmen dengan kesepakatan gencatan senjata dan menuntut Israel untuk mematuhinya. Hamas juga meminta para mediator segera melanjutkan perundingan fase kedua serta mengecam kebijakan Israel.

Sejak perjanjian gencatan senjata mulai berlaku, Israel disebut telah melanggarnya lebih dari 900 kali, yang mengakibatkan 116 warga Palestina tewas dan 490 lainnya terluka. Selain itu, Israel juga dituding tidak memenuhi protokol kemanusiaan, dengan hanya mengizinkan jumlah bantuan yang sangat minim masuk ke Gaza.
(T.RS/S:AnadoluAgency)

 

You might also like