Global Sumud Flotilla, Estafet Perjuangan Menantang Blokade Gaza

Armada Global Sumud Flotilla yang berlayar menuju Gaza terdiri dari 50 kapal dan 1.000 peserta. (Foto: DW/Lluis Gene/AFP/Getty Images)

Di tengah blokade Israel yang membelenggu Gaza sejak 2007, muncul kembali gerakan yang menolak bungkam: Global Sumud Flotilla. Armada ini bukan bagian dari misi militer ataupun lembaga politik tertentu. Tujuan mereka adalah mengirimkan bantuan kemanusiaan, meyuarakan pesan solidaritas global bagi rakyat Palestina, sekaligus mendesak Israel agar berhenti melanjutkan pendudukannya.

Kehadiran Global Sumud Flotilla pada akhir Agustus 2025 terus menarik perhatian dunia, membuka mata banyak pihak akan pentingnya menyuarakan dukungan bagi Palestina dan melakukan aksi nyata untuk meruntuhkan blokade yang dibuat penjajah. Armada ini menjadi penanda bahwa estafet perlawanan terhadap ketidakadilan terus berlanjut dan tak akan pernah padam.

Tentang Global Sumud Flotilla

Global Sumud Flotilla lahir sebagai misi maritim terbesar yang berupaya menembus blokade Gaza.[1] Kata Sumud, berasal dari bahasa Arab Somada, berarti ketahanan atau keteguhan. Disandingkan dengan istilah Flotilla, sehingga dimaknai sebagai “pelayaran global untuk keteguhan,” yang tidak hanya merefleksikan karakter misinya, tetapi juga menegaskan Gaza sebagai simbol keteguhan itu sendiri.[2]

Pada akhir Agustus, lebih dari 50 kapal dari berbagai pelabuhan dunia bersiap membawa ratusan peserta serta pasokan kemanusiaan. Di antara mereka hadir tokoh-tokoh internasional seperti Greta Thunberg, aktor Irlandia Liam Cunningham, aktor Spanyol Eduard Fernández, serta mantan Wali Kota Barcelona, Ada Colau, mencerminkan luasnya dukungan publik dan solidaritas global terhadap perjuangan rakyat Palestina.

Armada ini dijadwalkan tiba di Jalur Gaza pada pertengahan September, namun sejarah menunjukkan kecil kemungkinan mereka menembus Gaza yang diblokade ketat. Sejak tahun 2010, setiap upaya serupa selalu digagalkan oleh pasukan Israel. Tel Aviv berdalih blokade laut yang diberlakukan sejak 2007 diperlukan untuk mencegah penyelundupan senjata. Namun, bagi banyak organisasi hak asasi manusia, blokade tersebut tidak lebih dari hukuman kolektif yang melanggar hukum internasional.[3]

Bagian dari Global Sumud Flotilla terlihat di lepas pantai pelabuhan Sidi Bou Said di Tunisia. (Foto: BBC)

Mengirim Bantuan Melalui Jalur Laut

Sejak 2007, Israel telah mengontrol ketat wilayah udara dan perairan teritorial Gaza, membatasi pergerakan barang dan orang. Bahkan sebelum perang, Gaza tidak memiliki bandara yang berfungsi setelah Israel mengebom dan menghancurkan bandara internasional Gaza pada tahun 2001, hanya tiga tahun setelah dibuka. Ketika jalur darat dan udara tertutup, armada kemanusiaan menjadi satu-satunya alternatif untuk menyalurkan bantuan.

Armada kemanusiaan dan akar rumput biasanya beroperasi di bawah perlindungan organisasi internasional dan diatur oleh hukum angkatan laut. Dengan mengirimkan bantuan melalui laut, Armada Sumud bertujuan untuk menghadapi blokade Israel secara langsung dan membawa pesan bahwa pengepungan harus diakhiri.

Kelompok yang Berpartisipasi

Misi ini diikuti oleh delegasi dari 44 negara yang telah berkomitmen untuk berlayar ke Gaza, dan diorganisir oleh kelompok-kelompok yang telah berpartisipasi dalam upaya kampanye darat dan laut sebelumnya:

  • Global March to Gaza (GMTG) – Gerakan akar rumput ini mengorganisir aksi solidaritas global untuk mendukung Gaza dan mematahkan pengepungan.
  • Freedom Flotilla Coalition (FFC) – Dengan 15 tahun pengalaman menjalankan misi laut, termasuk armada-armada sebelumnya seperti Madleen dan Handala, FFC banyak memberikan saran, panduan, dan dukungan operasional bagi upaya terkini untuk mematahkan blokade Gaza.
  • Armada Sumud Maghreb – Sebelumnya dikenal sebagai Sumud Convoy yang berbasis di Afrika Utara, Armada ini melaksanakan misi solidaritas untuk mengirimkan bantuan dan dukungan kepada komunitas Palestina.
  • Sumud Nusantara – Konvoi yang dipimpin rakyat dari Malaysia dan 9 negara lainnya, terinspirasi oleh semangat sumud (keteguhan) Palestina, yang bertujuan untuk mematahkan blokade Gaza dan membangun kembali solidaritas Global Selatan. Indonesia Global Peace Konvoi (IGPC) yang berjumlah 30 orang juga tergabung dalam kelompok ini.

Secara kolektif, mereka akan membentuk armada sipil terbesar dalam sejarah.[4]

Puluhan aktivis kemanusian yang tergabung dalam Indonesia Global Peace Convoy (IGPC) di depan gedung General Union of Tunisian Wokers usai melakukan pelatihan teknis sebelum berlayar menembus blokade Gaza. (Foto: INH)

Siapa Saja Orang-Orang yang Terlibat?

Menurut Global Sumud Flotilla, koalisi tersebut terdiri dari berbagai orang, termasuk penyelenggara, aktivis kemanusiaan, dokter, seniman, pendeta, pengacara, dan pelaut, yang dipersatukan oleh keyakinan pada martabat manusia, kekuatan aksi tanpa kekerasan, dan satu tujuan: pengepungan dan genosida harus diakhiri.

Sebuah panitia pengarah telah dibentuk, yang meliputi tokoh-tokoh seperti aktivis Swedia Greta Thunberg, sejarawan Kleoniki Alexopoulou, aktivis hak asasi manusia Yasemin Acar, sosio-lingkungan Thiago Avila, ilmuwan politik dan pengacara Melanie Schweizer, ilmuwan sosial Karen Moynihan, fisikawan Maria Elena Delia, aktivis Palestina Saif Abukeshek, tokoh kemanusiaan Muhammad Nadir al-Nuri, aktivis Marouan Ben Guettaia, aktivis Wael Nawar, aktivis dan peneliti sosial Hayfa Mansouri, dan aktivis hak asasi manusia Torkia Chaibi.[5]

Meski hanya ratusan orang yang benar-benar ikut berlayar, puluhan ribu lainnya telah mendaftarkan diri untuk mendukung inisiatif ini.

Para aktivis, termasuk aktivis Swedia Greta Thunberg menjadi bagian dari Global Sumud Flotilla (GSF), sebuah misi kemanusiaan tanpa kekerasan. (Foto: Mario Wurzburger/CBS/Getty Images)

 

Tantangan yang Dihadapi Global Sumud Flotilla

  • Cuaca Buruk Warnai Keberangkatan dari Barcelona

Armada Global Sumud kembali berlayar dari Pelabuhan Barcelona pada Senin malam (1/9/2025) setelah sempat tertunda akibat cuaca buruk.[6] Keberangkatan ini menandai dimulainya kembali misi kemanusiaan yang melibatkan ratusan tokoh dari 44 negara untuk menyalurkan bantuan ke Gaza. Dalam pernyataan resminya, penyelenggara menyatakan bahwa kapal-kapal ini membawa semangat solidaritas global dan pesan bahwa “Palestina tidak sendiri.”

Armada akan diperkuat kapal tambahan dari Italia dan Tunisia hingga berjumlah lebih dari 60 kapal dengan 500 peserta, dan dijadwalkan tiba di Gaza pada pertengahan September.

  • Masalah Teknis dan Logistik Hambat Keberangkatan dari Tunisia

Armada bantuan kemanusiaan yang direncanakan berangkat dari Tunisia menuju Jalur Gaza, Minggu (7/9/2025), tertunda pelayarannya. Penundaan itu diumumkan sehari sebelumnya oleh pihak penyelenggara, yang menyebut “alasan teknis dan logistik di luar kendali mereka” sebagai penyebab utama. Dalam pernyataannya, Panitia Armada Keteguhan Global menegaskan bahwa keberangkatan ditunda hingga Rabu (10/9/2025). Nantinya, rombongan kapal dari Tunisia akan bergabung dengan armada lain yang berangkat dari Spanyol dan Italia. Kehadiran mereka diharapkan membuka jalur kemanusiaan menuju Gaza, yang hingga kini masih terkungkung blokade militer Israel.[7]

  • Ancaman Terang-Terangan Israel melalui Ben-Gvir

Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, pada Ahad menyatakan para aktivis Armada Global Sumud akan ditangkap dan ditempatkan di penjara Ketziot serta Damon dengan pengamanan ketat, lapor Al Jazeera. Rencana ini menuai kecaman dari penyelenggara yang menilainya sebagai ancaman tak berdasar dan upaya mengintimidasi misi kemanusiaan menuju Gaza.[8]

Dalam pernyataannya, Global Sumud Flotilla menegaskan bahwa retorika Ben-Gvir, yang menyebut peserta sebagai “teroris,” merupakan pelanggaran hukum humaniter internasional dan Konvensi Jenewa. Para penyelenggara menegaskan kembali tekad mereka untuk melanjutkan pelayaran meskipun ada persetujuan dari Israel, dengan mengatakan mereka tidak akan terhalang oleh “tuduhan palsu” atau “intimidasi politik.”[9]

  • Inggris Tolak Beri Perlindungan bagi Global Sumud Flotilla

Pemerintah Inggris menolak memberikan jaminan keamanan bagi warganya yang ikut serta dalam Armada Sumud Global menuju Gaza, meskipun sebelumnya ada desakan agar mereka dilindungi jika terjadi intersepsi Israel. Perdana Menteri Keir Starmer menegaskan pada hari Rabu bahwa perlindungan tidak akan diberikan.[10]

Sikap London menuai kritik, termasuk dari Patrick Harvie, juru bicara Partai Hijau Skotlandia, yang menyebut keputusan tersebut “memalukan” dan menghina kewajiban moral. “Kapal-kapal ini membawa susu formula bayi, popok, dan obat-obatan. Mengabaikannya akan mempermalukan negara kita,” tegasnya.[11]

  • Kapal Utama Armada Solidaritas Diserang di Lepas Pantai Tunisia

Kapal utama Armada Solidaritas bernama Family, dilaporkan diserang drone di lepas pantai Tunisia pada Selasa (9/9/2025) dini hari. Serangan itu memicu kebakaran, namun seluruh awak berhasil selamat. Rekaman yang dirilis komite media armada menampilkan detik-detik serangan.[12]

Meski juru bicara Garda Nasional Tunisia menyebut api memicu kerusakan internal, bukan drone, Pelapor Khusus PBB Francesca Albanese menyatakan “kemungkinan kapal tersebut memang diserang drone.”

Armada Solidaritas, yang berangkat dari Sidi Bou Said menuju Gaza untuk menyalurkan bantuan dan menantang blokade Israel, menegaskan tidak akan membatalkan misi. Dua kapal lain kini dalam perjalanan menuju Tunisia, dengan desakan agar segera mendapat perlindungan internasional.

Global Sumud Flotilla membagikan rekaman dugaan serangan drone di Instagram. (Foto: BBC)

Mengacu pada Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982, laut lepas harus digunakan secara damai untuk pelayaran, perdagangan, penelitian, maupun aktivitas kemanusiaan. Kapal yang berlayar di laut lepas dan tidak terlibat dalam tindakan ilegal berhak atas imunitas penuh, sehingga tidak boleh ditahan atau diintervensi tanpa dasar hukum internasional yang sah.[13]

Apa yang terjadi dengan armada-armada sebelumnya?

Pada  tahun  2008,  setahun  setelah  Hamas  mulai  menguasai  Jalur  Gaza,  beberapa  armada  kapal  berhasil  mencapai  Gaza  karena  Israel  belum  sepenuhnya  memberlakukan  blokade  lautnya.  Namun,  pada  pertengahan  tahun  2009,  Israel  mulai  mencegat  semua  kapal,  dan  menolak  akses  ke  Gaza  melalui  laut.  Sejak  tahun  2010,  tidak  ada  armada  kapal  yang  mencapai  Gaza.

Pada  tanggal  31  Mei  2010,  pasukan  Israel  menghentikan  enam  kapal  sipil  dari  Freedom  Flotilla  dalam  apa  yang  kemudian  dikenal  sebagai  serangan  Mavi  Marmara.  Pasukan  Israel  menembaki  kapal  penumpang  milik  Turki  tersebut,  menewaskan  10  aktivis  Turki  pro-Palestina.  Angkatan  Laut  Israel  kemudian  mengklaim  bahwa  mereka  bertindak  untuk  membela  diri,  tetapi  tindakannya  tersebut  mendapat  kecaman  internasional  yang  luas.  Hubungan  diplomatik  antara  Israel  dan  Turki  memburuk  hingga  Israel  mengeluarkan  permintaan  maaf  resmi  pada  tahun  2013  dan  setuju  untuk  membayar  $20  juta  (€17,4  juta)  sebagai  kompensasi  kepada  keluarga  korban  pada  tahun  2016.

Freedom  Flotilla  II  pada  tahun  2011  gagal  berlayar  dari  Yunani  setelah  mendapat  tekanan  Israel,  termasuk  sabotase  teknis  dan  hambatan  hukum,  hingga  pemerintah  Yunani  melarang  kepergian  dengan  alasan  keamanan  dan  diplomatik.

Pada  tanggal  29  Juni  2015,  Freedom  Flotilla  III  berbendera  Swedia  yang  membawa  aktivis,  anggota  parlemen,  jurnalis  dan  tokoh  masyarakat  dari  lebih  20  negara  dicegat  sekitar  100  mil  dari  Gaza.

Pada  bulan  Oktober  2016,  Women’s  Boat  to  Gaza,  sebuah  armada  yang  membawa  aktivis  perempuan,  juga  dicegat  sebelum  mencapai  Gaza.

Pada  tahun  2018,  pasukan  angkatan  laut  Israel  mencegat  dan  menyita  dua  kapal  milik  Just  Future  for  Palestine  Flotilla,  pertama  Al  Awda  pada  tanggal  29  Juli  dan  kemudian  Freedom  pada  tanggal  3  Agustus.  Menurut  beberapa  orang  di  atas  kapal,  pasukan  Israel  menyerang  beberapa  aktivis,  yang  kemudian  dideportasi  dari  Israel.

Awal  tahun  ini,  estafet  perjuangan  Freedom  Flotilla  kembali  berlanjut.  Greta  Thunberg  ikut  serta  dalam  Misi  kapal  Madleen  pada  bulan  Juni,  namun  misi  itu  dicegat  Israel  dan  seluruh  penumpangnya,  termasuk  Greta,  dideportasi.  Sebulan  berselang,  Misi  Handala  mengalami  nasib  serupa  ketika  kapal  mereka  berada  dicegat  Israel  di  perairan  internasional.  Kini,  tongkat  estafet  itu  berada  di  tangan  Global  Sumud  Flotilla,  yang  berlayar  dengan  tekad  untuk  menantang  blokade  Gaza  meski  bayang-bayang  ancaman Israel  selalu  mengintai.

Penulis: Fuad Nur Zaman

Sumber:

[1] Global Sumud Flotilla, https://globalsumudflotilla.org/press/.

[2] Spirit of Aqsa, “UBN: Sumud, Ruh Gerakan Global Sumud Flotilla untuk Gaza”, Spirit of Aqsa, September 8, 2025. https://spiritofaqsa.or.id/ubn-sumud-ruh-gerakan-global-sumud-flotilla-untuk-gaza.html

[3] Jennifer Holleis, “Gaza-bound flotillas: All you need to know”, DW, September 9, 2025. https://www.dw.com/en/gaza-bound-flotillas-all-you-need-to-know/a-73923490

[4] Al Jazeera, “The Global Sumud Flotilla to Gaza: Everything you need to know”, Al Jazeera, September 1, 2025. https://www.aljazeera.com/news/2025/9/1/the-global-sumud-flotilla-to-gaza-everything-you-need-to-know-2

[5] Global Sumud Flotilla, https://globalsumudflotilla.org/press/.

[6] Al Jazeera, “Sumud Flotilla for Gaza departs Barcelona again after delay due to storm”, Al Jazeera, September 1, 2025. https://www.aljazeera.com/news/2025/9/1/sumud-flotilla-for-gaza-forced-to-turn-back-due-to-weather-conditions

[7] Saber Ghanem Ibrahim Eıd, Rania Abu Shamala, “Aid flotilla bound for besieged Gaza delays planned departure from Tunisia to Wednesday”, Anadolu Agency, September 6, 2025. https://www.aa.com.tr/en/middle-east/aid-flotilla-bound-for-besieged-gaza-delays-planned-departure-from-tunisia-to-wednesday/3680263

[8] Amichai Stein, “Ben-Gvir plans to designate Global Sumud Flotilla activists as terrorists, seize boats”, The Jerusalem Post, September 1, 2025. https://www.jpost.com/israel-news/article-865898

[9] TRT Global, “ Flotilla yang menuju Gaza mengecam rencana menteri Israel untuk menyita kapal-kapal dan menetapkan aktivis sebagai ‘teroris’ “, TRT Global, September 5, 2025.  https://trt.global/bahasa-indonesia/article/09ab2eb9359a

[10] Melike Pala, “Activists urge protection as Gaza aid flotilla sails despite UK refusal”, Anadolu Agency, September 7, 2025. https://www.aa.com.tr/en/europe/activists-urge-protection-as-gaza-aid-flotilla-sails-despite-uk-refusal/3679923

[11] Melike Pala, “Activists urge protection as Gaza aid flotilla sails despite UK refusal”, Anadolu Agency, September 7, 2025. https://www.aa.com.tr/en/europe/activists-urge-protection-as-gaza-aid-flotilla-sails-despite-uk-refusal/3679923

[12] Al Jazeera, “Global Sumud Flotilla reports drone attack on Gaza-bound ship in Tunisia”, Al Jazeera, September 9, 2025.

https://www.aljazeera.com/news/2025/9/9/global-sumud-flotilla-reports-drone-attack-on-gaza-bound-ship-in-tunisia

[13] “United Nations Convention on the Law of the Sea of 10 December 1982,” paper presented at United Nations Convention on the Law of the Sea, Jamaika, United Nations, 1973-1982.

You might also like